Mengapa Tiket Konser Kini Hanya Terjangkau oleh Kaum Elite?

Kamis, 11 Desember 2025 - 05:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Rindu nonton konser tapi dompet menjerit? Kamu tidak sendirian. Fenomena

Rindu nonton konser tapi dompet menjerit? Kamu tidak sendirian. Fenomena "Dynamic Pricing" dan ulah calo bikin tiket musik jadi barang mewah. DOk: Istimewa.

JAKARTA,POSNEWS.CO.ID – Pandemi telah usai dan panggung musik dunia kembali hidup. Ribuan orang memadati stadion untuk melihat idola mereka bernyanyi. Namun, di balik euforia itu, terdengar jeritan massal dari para penggemar.

Keluhan viral membanjiri media sosial setiap kali penjualan tiket dibuka. Pasalnya, harga tiket konser kini melonjak gila-gilaan. Niat hati ingin melepas rindu, penggemar justru harus merogoh kocek seharga satu unit sepeda motor bekas hanya untuk menonton pertunjukan dua jam.

Fenomena ini bukan kebetulan semata. Kita sedang menyaksikan pergeseran brutal dalam “Ekonomi Konser” (Gig Economy). Musik yang dulunya hiburan rakyat, kini perlahan berubah menjadi kemewahan eksklusif.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jebakan Dynamic Pricing

Mengapa harga bisa naik setinggi langit? Penyebab utamanya adalah adopsi sistem Dynamic Pricing. Promotor musik meniru model bisnis maskapai penerbangan dan taksi online.

Saat permintaan tiket tinggi, algoritma secara otomatis menaikkan harga jual. Akibatnya, harga tiket yang tertera di awal bisa berubah drastis dalam hitungan detik saat antrean online membludak.

Baca Juga :  Jelang Dikirim ke Singapura, 30.000 Benih Lobster Ilegal Digagalkan Polisi Tangerang

Selain itu, biaya produksi tur dunia juga membengkak. Harga kargo, peralatan panggung canggih, dan asuransi artis naik tajam pasca-inflasi global. Dominasi promotor raksasa yang memonopoli pasar turut memperparah keadaan karena minimnya kompetisi harga.

Perang Melawan Bot dan Calo

Masalah kian pelik karena kehadiran tamu tak diundang: para calo (scalpers). Mereka tidak lagi bekerja secara manual. Sebaliknya, mereka menggunakan pasukan bot canggih.

Bot ini mampu memborong ribuan tiket hanya dalam hitungan milidetik setelah penjualan dibuka. Penggemar manusia yang menekan tombol refresh secara manual jelas kalah cepat.

Lantas, tiket di situs resmi habis seketika. Anehnya, tiket tersebut langsung muncul kembali di situs pihak ketiga dengan harga lima hingga sepuluh kali lipat. Lemahnya regulasi perlindungan konsumen membuat praktik “perampokan” digital ini tumbuh subur tanpa hambatan.

Baca Juga :  Mangkir dari Panggilan, Selebgram Lisa Mariana Ditangkap Polda Jabar - Tersangka Video Porno

FOMO: Konser sebagai Status Sosial

Di sisi lain, kita tidak bisa mengabaikan faktor budaya. Konser telah mengalami pergeseran makna. Dulu, orang datang murni untuk menikmati musik.

Kini, konser menjadi ajang validasi status sosial. Budaya FOMO (Fear of Missing Out) memegang kendali. Orang merasa harus hadir di acara yang sedang hype agar bisa mengunggahnya di Instagram Story atau TikTok.

Oleh karena itu, banyak orang rela memaksakan diri secara finansial. Mereka membeli tiket mahal bukan karena cinta pada lagunya, melainkan demi pengakuan sosial di dunia maya.

Risiko Elitisme Musik

Pada akhirnya, tren ini membawa risiko besar. Kita sedang menuju era elitisme musik. Konser berpotensi menjadi hiburan yang hanya bisa dinikmati oleh orang kaya.

Penggemar sejati dari kalangan menengah ke bawah perlahan tersingkir dari arena. Padahal, musik seharusnya menjadi bahasa universal yang menyatukan, bukan tembok tebal yang memisahkan si kaya dan si miskin.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Spider-Man Brand New Day Siap Sapu Bersih Bioskop
Babak Baru Semesta Family Guy: Serial Spin-off
Ambisi Ryan Reynolds: Deadpool Keempat Siap Disajikan
Inde Navarrette Terima Kado Langka Modern Warfare 2
Novel Baru Dragonlance War Wizard Rilis Agustus
Adaptasi Film The Odyssey Tuai Kritik Keras dari Penerjemah
Avengers: Doomsday Pamerkan Robert Downey Jr. Sebagai Doctor Doom
Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 11:22 WIB

Spider-Man Brand New Day Siap Sapu Bersih Bioskop

Jumat, 24 Juli 2026 - 06:30 WIB

Babak Baru Semesta Family Guy: Serial Spin-off

Selasa, 21 Juli 2026 - 12:32 WIB

Ambisi Ryan Reynolds: Deadpool Keempat Siap Disajikan

Selasa, 21 Juli 2026 - 10:30 WIB

Inde Navarrette Terima Kado Langka Modern Warfare 2

Selasa, 21 Juli 2026 - 07:30 WIB

Novel Baru Dragonlance War Wizard Rilis Agustus

Berita Terbaru

Langkah taktis amankan benteng udara. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menemui Donald Trump di Washington guna membahas produksi mandiri rudal Patriot. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy dan Trump Gelar Pertemuan Penting di Gedung Putih

Kamis, 30 Jul 2026 - 16:12 WIB

Langkah taktis Teheran amankan wilayah udara. Iran membeli 400 peluncur rudal panggul buatan China bernilai 70 juta dolar AS guna memperkuat pertahanan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China

Kamis, 30 Jul 2026 - 14:09 WIB