JAKARTA, POSNEWS.CO.ID –Â Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memberikan peringatan keras kepada seluruh jajarannya agar tidak memainkan atau mengkorupsi bantuan untuk korban banjir dan longsor di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.
Selain itu, ia menegaskan tidak memberi ruang bagi pegawai yang melakukan pungli selama distribusi bantuan.
“Begitu muncul berita dugaan pungli, kami langsung cek. Jika ada yang korupsi, saya pastikan 1×24 jam saya pecat,” tegas Amran dikutip, pada Jumat (112/12/2025).
Di tengah situasi bencana nasional, Amran menekankan bahwa aparatur negara seharusnya mengedepankan kepedulian, bukan mencari keuntungan. Namun, ia masih menemukan oknum yang mencoba bermain di tengah kondisi darurat.
“Saat situasi susah begini, harusnya kita peduli,” ujarnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Amran juga memastikan bahwa setiap pelanggaran akan langsung dilaporkan ke penegak hukum agar pelakunya dihukum maksimal. “Kalau ada yang main-main, kami laporkan langsung. Hukum seberat-beratnya,” tegasnya.
Bahkan, dalam dua pekan terakhir, ia sudah memecat pegawai yang melakukan pungli dan pemerasan. Pada 28 November 2025, seorang staf yang mengaku direktur jenderal memalak petani hingga ratusan juta rupiah.
“Jangan coba-coba ganggu bantuan. Saya pecat tanpa peringatan,” katanya.
Selain itu, Amran meluruskan kabar viral soal dugaan korupsi bantuan beras untuk korban banjir. Ia menjelaskan bahwa kekeliruan terjadi hanya karena salah penulisan satuan berat.
“Tertulis 21.000 kg, padahal seharusnya 21.000 paket, satu paket 5 kg,” jelasnya. Total bantuan yang dikirim tetap sesuai, yakni 105.000 kilogram beras.
Amran juga mengapresiasi media yang aktif mengungkap dugaan penyimpangan. “Media membantu kami menjaga integritas penyaluran bantuan,” katanya.
Lebih jauh lagi, ia menegaskan bahwa dirinya dan para pejabat Kementan ikut menyumbangkan gaji pribadi untuk korban bencana. Karena itu, menurutnya, tidak mungkin ada ruang bagi praktik korupsi.
Pada akhir keterangannya, Amran mengakui bahwa kesalahan bisa terjadi. Meski begitu, ia menekankan komitmen “merah putih” dan solidaritas sebagai hal utama. “Yang penting niat merah putih dan persaudaraan,” pungkasnya. (red)





















