YERUSALEM, POSNEWS.CO.ID – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bersiap menghadapi babak diplomasi yang berat. Ia mengumumkan rencana perjalanannya untuk bertemu Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada akhir Desember nanti.
Pengumuman ini ia sampaikan pada hari Minggu (08/12/2025) saat menerima kunjungan Kanselir Jerman, Friedrich Merz, di Yerusalem. Fokus utamanya adalah membahas peluang perdamaian dan transisi menuju fase kedua inisiatif gencatan senjata AS.
“Kami berharap dapat segera melangkah ke fase kedua, yang jauh lebih sulit,” ujar Netanyahu kepada media.
Saat ini, gencatan senjata yang ditengahi AS telah berjalan sejak 10 Oktober lalu. Meskipun demikian, ketenangan komprehensif belum benar-benar tercipta di lapangan. Kedua belah pihak masih saling tuduh melakukan pelanggaran.
Tantangan Fase Kedua: Senjata dan Pasukan
Fase kedua ini menyimpan tantangan teknis dan politis yang besar. Menurut proposal AS, tahap ini akan menangani isu-isu paling sensitif.
Agenda krusial tersebut meliputi penegakan pelucutan senjata Hamas, penarikan pasukan Israel lebih lanjut, dan pengerahan pasukan stabilisasi internasional.
Kanselir Jerman Friedrich Merz memberikan dukungan penuh terhadap proses ini. “Fase dua harus dilakukan sekarang,” tegasnya. Selain itu, Merz menekankan kembali dukungan Jerman terhadap solusi dua negara sebagai jalan keluar konflik jangka panjang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pada tahap pertama sebelumnya, militan Palestina telah membebaskan 47 sandera Israel yang tersisa, baik yang hidup maupun meninggal. Hanya satu jenazah perwira polisi Israel yang belum dikembalikan.
Syarat Berat Hamas: Akhiri Pendudukan Dulu
Di sisi lain, Hamas memberikan sinyal perlawanan terhadap syarat pelucutan senjata. Kepala negosiator Hamas, Khalil al-Hayya, menegaskan posisi kelompoknya pada Sabtu lalu.
Ia menyatakan bahwa Hamas hanya akan menyerahkan senjata jika pendudukan Israel berakhir total.
“Senjata kami terkait dengan keberadaan pendudukan dan agresi. Jika pendudukan berakhir, senjata ini akan ditempatkan di bawah otoritas negara,” kata al-Hayya dalam wawancara dengan Al Jazeera.
Ia menambahkan bahwa kesepakatan tersebut masih dalam tahap awal dan diskusi alot dengan para mediator masih berlangsung. Padahal, Israel bersikeras menjadikan pelucutan senjata Hamas sebagai syarat mati dalam fase kedua ini.
Korban Masih Berjatuhan
Sementara itu, realitas di Gaza masih memprihatinkan. Walaupun gencatan senjata berlaku, kekerasan belum sepenuhnya berhenti.
Otoritas kesehatan setempat melaporkan lebih dari 360 warga Palestina tewas selama periode jeda ini. Akibatnya, total korban jiwa Palestina kini menembus angka 70.360 orang. Di pihak Israel, tiga tentara juga dilaporkan tewas dalam insiden terpisah.
Kini, pertemuan Netanyahu dan Trump di penghujung tahun akan menjadi momen penentu. Apakah diplomasi tingkat tinggi mampu memecahkan kebuntuan “garis merah” soal senjata, atau justru memicu eskalasi baru di tahun mendatang?
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
Sumber Berita: Xinhua News Agency





















