JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Lupakan bayangan perang konvensional yang identik dengan tank di medan terbuka atau deklarasi perang resmi. Namun, di abad ke-21, konflik telah bermutasi. Perang Hibrida (Hybrid Warfare) mengubah definisi konflik. Strategi ini tidak lagi berfokus hanya pada penghancuran militer, melainkan pada destabilisasi masyarakat dari dalam.
Perang Hibrida secara cerdik menggabungkan berbagai alat kekuasaan—konvensional, ireguler, siber, dan informasi—secara terkoordinasi. Aktor negara atau non-negara menggunakan taktik ini untuk mengeksploitasi kelemahan target mereka. Akibatnya, tujuannya bukan untuk menduduki, tetapi untuk menciptakan kekacauan, keraguan, dan kelumpuhan politik.
 Serangan di Berbagai Lini
Alih-alih satu serangan besar, Perang Hibrida melancarkan ribuan tusukan kecil secara bersamaan. Komponen utamanya meliputi:
- Disinformasi dan Propaganda: Pelaku secara masif menyebarkan berita bohong, teori konspirasi, dan propaganda melalui media sosial (bot farms) dan media corong negara. Lebih lanjut, mereka menargetkan garis patahan sosial di negara lawan—baik itu politik, ras, atau agama—untuk memecah belah publik dan mengikis kepercayaan terhadap pemerintah dan institusi (seperti pemilu).
- Serangan Siber (Cyber Warfare): Peretas yang disponsori negara menyerang infrastruktur kritis. Misalnya, mereka melumpuhkan jaringan listrik, sistem perbankan, logistik pelabuhan, atau situs web pemerintah. Serangan ini menciptakan kepanikan ekonomi dan menunjukkan kerentanan negara target tanpa melepaskan satu pun rudal.
- Tekanan Ekonomi: Aktor hibrida menggunakan ekonomi sebagai senjata. Sebagai contoh, mereka memberlakukan sanksi dagang yang tiba-tiba, menghentikan pasokan energi vital (seperti gas alam), atau memanipulasi pasar keuangan untuk menciptakan krisis mata uang di negara target.
- Operasi Militer Terselubung: Pelaku mengerahkan pasukan militer tanpa seragam resmi (seperti “little green men”), mendanai kelompok proksi atau separatis lokal, dan melakukan operasi intelijen untuk menyabotase. Kunci dari operasi ini adalah “penyangkalan yang masuk akal” (plausible deniability).
Studi Kasus: Aneksasi Krimea (2014)
Sebagai studi kasus, aneksasi Krimea oleh Rusia pada tahun 2014 adalah contoh buku teks Perang Hibrida. Rusia menerapkan semua komponen secara sempurna:
- Informasi: Rusia melancarkan kampanye disinformasi masif yang mengklaim bahwa etnis Rusia di Krimea terancam genosida.
- Terselubung: Rusia mengerahkan pasukan khusus (“little green men”) tanpa lencana yang dengan cepat merebut gedung parlemen, bandara, dan pangkalan militer Ukraina di Krimea.
- Siber: Peretas melumpuhkan sistem komunikasi pemerintah Ukraina di Krimea.
- Politik: Kemudian, Rusia dengan cepat menggelar referendum “ilegal” untuk melegitimasi aneksasi.
Hasilnya, dalam beberapa minggu, Rusia merebut wilayah strategis tanpa pertempuran konvensional besar. Dunia Barat bingung. Mereka tidak tahu bagaimana merespons serangan yang pelakunya terus-menerus menyangkal keterlibatan resminya.
Zona Abu-Abu dan Atribusi
Meskipun demikian, Perang Hibrida sangat sulit dilawan karena dua alasan utama:
- Kesulitan Atribusi: Sangat sulit membuktikan secara hukum siapa dalang di balik serangan siber atau kampanye disinformasi. Apakah itu pemerintah, kelompok kriminal, atau “peretas patriotik” yang bertindak sendiri? Tentu saja, keraguan ini menciptakan kelumpuhan dalam pengambilan keputusan.
- Kaburnya Batas Damai dan Perang: Ancaman ini mengaburkan batas antara damai dan perang. Apakah kampanye disinformasi adalah “tindakan perang”? Bagaimana Anda merespons tekanan ekonomi? Negara-negara demokratis terikat oleh aturan hukum, sementara pelaku hibrida beroperasi di “zona abu-abu” (grey zone) di bawah ambang batas respons militer tradisional.
Adaptasi Pertahanan di Era Hibrida
Oleh karena itu, Perang Hibrida menegaskan bahwa strategi pertahanan kuno tidak lagi memadai. Tank, jet tempur, dan kapal induk tidak bisa melawan bot farm atau serangan siber terhadap bank.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Untuk itu, menghadapi ancaman ini, negara harus beradaptasi. Ini bukan lagi hanya soal pertahanan militer, tetapi soal ketahanan nasional (national resilience). Negara harus memperkuat infrastruktur digital mereka. Selain itu, mereka wajib mengedukasi publik tentang literasi media dan berpikir kritis untuk melawan disinformasi.
Pada akhirnya, pertahanan terbaik melawan Perang Hibrida adalah masyarakat yang terinformasi, bersatu, dan percaya pada institusi mereka sendiri—target utama yang ingin pelaku hibrida hancurkan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















