JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Di tahun 1904, Menteri Pendidikan Prancis menghadapi tantangan besar terkait keterbatasan sumber daya sekolah. Pemerintah membutuhkan cara guna memisahkan anak-anak yang memiliki keterbatasan kemampuan dengan mereka yang sekadar malas belajar.
Tugas tersebut jatuh ke tangan Alfred Binet. Solusi cemerlang yang ia ciptakan kemudian menjadi fondasi bagi studi kecerdasan modern. Pada 1905, Binet mengembangkan tes berisi 30 masalah yang menguji berbagai kemampuan intelektual, seperti penilaian dan penalaran.
Konsep Usia Mental dan Standarisasi Binet
Binet memperkenalkan konsep “usia mental” melalui tes tersebut. Secara teknis, tes ini membandingkan kemampuan seorang anak dengan norma rata-rata dari anak-anak sebayanya.
Sebagai contoh, jika seorang anak berusia lima tahun berhasil menjawab sepuluh soal dengan benar (rata-rata skor usia tersebut), maka ia memiliki usia mental lima tahun. Namun demikian, Binet secara tegas menolak anggapan bahwa tesnya mengukur kecerdasan absolut. Ia menekankan bahwa tujuan tes tersebut murni bersifat diagnostik untuk kepentingan seleksi sekolah. Sayangnya, pesan asli Binet ini sering kali terabaikan dalam penerapan praktis di masa depan.
Stern, Terman, dan Kelahiran Angka IQ
Meskipun tes Binet sangat populer, penggunaan variasi usia mental dan fisik petugas nilai kurang praktis. Oleh karena itu, pada tahun 1912, Wilhelm Stern menyederhanakan metode tersebut menjadi satu angka tunggal.
Stern membagi usia mental dengan usia fisik, lalu mengalikan hasilnya dengan 100. Rumus ini dapat kita tuliskan sebagai berikut:
(Usia Mental / Usia Fisik/Kronologis) x  100
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Melalui perhitungan ini, seorang anak dengan kemampuan rata-rata akan selalu mendapatkan skor 100. Selanjutnya, profesor Universitas Stanford, Lewis M. Terman, menyempurnakan revisi tes Binet pada 1916 dan memperkenalkan istilah Intelligence Quotient (IQ). Versi Stanford-Binet ini kemudian menjadi instrumen yang dunia gunakan secara ekstensif hingga hari ini.
Era Psikometrika dan Ujian Medan Perang
Studi mengenai kecerdasan akhirnya berkembang menjadi sub-bidang psikologi yang warga sebut sebagai psikometrika. Penggunaan tes berskala masif mulai terjadi pada tahun 1917, bertepatan dengan keterlibatan Amerika Serikat dalam Perang Dunia I.
Militer AS harus menyaring dua juta calon prajurit dengan cepat guna menentukan siapa yang layak menjadi perwira atau prajurit biasa. Akibatnya, para ahli psikometrika mengembangkan dua tes kecerdasan untuk membantu proses seleksi tersebut. Ini merupakan kali pertama dalam sejarah di mana sebuah tes menentukan nasib hidup dan mati seseorang, mengingat posisi perwira jauh lebih aman di medan perang. Namun, pengujian tersebut sering kali berlangsung dalam kondisi yang sangat buruk, sehingga memunculkan kesimpulan keliru bahwa rata-rata kecerdasan orang dewasa Amerika setara dengan anak berusia 13 tahun.
Kontroversi, Prasangka, dan Kritik Modern
Psikometrika tidak lepas dari sejarah kelam penyalahgunaan data. Di masa lalu, hasil tes intelegensi sering kali petugas gunakan untuk mendukung prasangka politik dan sosial.
Lembaga-lembaga tertentu menggunakan skor tes guna membenarkan diskriminasi rasial dan pembatasan imigrasi terhadap kelompok tertentu. Oleh sebab itu, kontroversi mengenai bias tes terus menghantui bidang ini. Puncaknya pada tahun 1970-an, muncul berbagai tuntutan hukum untuk menghentikan pengambilan keputusan penting berdasarkan skor IQ semata. Para kritikus berargumen bahwa tes saat ini belum benar-benar mampu mengukur kecerdasan secara utuh.
Pada akhirnya, pengukuran tetap menjadi fondasi penting bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Psikometrika terus berupaya mengembangkan cara guna mengukur kualitas psikologis lainnya, seperti kecemasan dan stabilitas emosional. Perdebatan apakah kecerdasan dapat petugas ukur secara kuantitatif tetap menjadi salah satu topik paling hangat di dunia psikologi tahun 2026 ini.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















