JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Selama puluhan tahun, tanggal 14 Februari identik dengan makan malam romantis berdua, buket mawar merah, dan kotak cokelat dari pasangan. Namun, memasuki tahun 2026, narasi tersebut mulai berubah drastis. Kini, banyak orang memilih untuk merayakan Valentine dengan sosok yang paling penting dalam hidup mereka: diri mereka sendiri.
Fenomena “Solo Valentine” mencerminkan perubahan paradigma masyarakat mengenai definisi cinta. Saat ini, masyarakat tidak lagi membatasi kasih sayang hanya pada hubungan romantis antar-individu, melainkan mulai memfokuskan perhatian pada kesejahteraan internal dan apresiasi terhadap perjalanan pribadi seseorang.
Kebangkitan Tren “Solo-entine” dan Self-Gifting
Data pasar menunjukkan bahwa sektor self-gifting atau membeli hadiah untuk diri sendiri mengalami kenaikan pesat menjelang Valentine tahun ini. Selain itu, banyak individu kini lebih memilih untuk berinvestasi pada barang-barang yang mendukung hobi atau kenyamanan mereka sendiri daripada menunggu orang lain memberi mereka hadiah.
Penganut “Solo-entine” melakukan beberapa aktivitas populer, antara lain:
- Ritual Spa di Rumah: Menciptakan suasana tenang dengan aromaterapi dan perawatan kulit menyeluruh.
- Solo Date: Menikmati film di bioskop atau makan di restoran favorit tanpa rasa canggung.
- Staycation Mandiri: Memesan kamar hotel untuk menikmati waktu istirahat berkualitas tanpa gangguan.
Langkah-langkah ini bukan sekadar pelarian dari kesepian. Sebaliknya, aktivitas tersebut merupakan bentuk pengakuan bahwa individu harus mengupayakan kebahagiaan secara sadar sebagai tanggung jawab pribadi.
Perspektif Psikolog: Mencintai Diri Sendiri Adalah Kunci
Para pakar kesehatan mental menyambut baik pergeseran tren ini. Psikolog klinis menekankan bahwa self-love atau mencintai diri sendiri bukan berarti bersikap narsis. Oleh karena itu, merayakan Valentine secara mandiri dapat menjadi terapi yang baik untuk membangun harga diri (self-esteem).
“Anda tidak bisa memberikan apa yang tidak Anda miliki,” ujar seorang pakar psikologi. Ia menjelaskan bahwa seseorang yang sudah merasa ‘utuh’ dengan dirinya sendiri cenderung memiliki hubungan yang lebih stabil dan sehat di masa depan. Dengan demikian, publik perlu memandang masa lajang sebagai periode pertumbuhan yang berharga, bukan sebuah kekosongan yang harus segera dipenuhi oleh kehadiran orang lain.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Normalisasi Lewat Kampanye Digital
Media sosial memainkan peran vital dalam menormalisasi status lajang di hari Valentine. Tagar seperti #SoloValentine dan #SelfLoveFirst kini menghiasi linimasa Instagram dan TikTok. Kampanye-kampanye ini berhasil mengubah stigma “kasihan” menjadi “bangga”.
Bahkan, berbagai merek gaya hidup kini mulai menyesuaikan strategi pemasaran mereka dengan tidak hanya menyasar pasangan, tetapi juga individu yang merayakan diri sendiri. Perusahaan teknologi hingga industri kecantikan kini mempromosikan pesan-pesan pemberdayaan. Alhasil, tekanan sosial untuk memiliki pasangan di hari Valentine perlahan memudar sementara perayaan atas kebebasan pribadi menggantikan tuntutan tersebut.
Pada akhirnya, Valentine hanyalah sebuah tanggal di kalender. Namun, semangat self-love yang diusungnya adalah pengingat harian bahwa Anda layak mendapatkan cinta, perhatian, dan penghargaan—pertama-tama dari diri Anda sendiri.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















