Tirai Besi Digital: Rusia Blokir WhatsApp dan Paksa Migrasi

Jumat, 13 Februari 2026 - 18:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kontrol total ruang siber. Moskow resmi memblokir WhatsApp dan membatasi Telegram guna memaksa warga menggunakan aplikasi domestik

Kontrol total ruang siber. Moskow resmi memblokir WhatsApp dan membatasi Telegram guna memaksa warga menggunakan aplikasi domestik "Max" yang diduga menjadi alat pengawasan negara. Dok: Istimewa.

MOSKOW, POSNEWS.CO.ID – Rusia mengambil langkah drastis dalam memperketat kontrol internet di wilayahnya. Pada Kamis, pemerintah mengumumkan pemblokiran penuh terhadap WhatsApp karena platform tersebut menolak permintaan akses data dari penegak hukum.

Keputusan ini muncul hanya selang beberapa hari setelah regulator internet Rusia membatasi akses ke Telegram. Oleh karena itu, kritikus menilai tindakan ini sebagai bagian dari kampanye besar Moskow untuk memantau aktivitas daring warganya secara lebih mudah.

WhatsApp dan Telegram di Bawah Tekanan

WhatsApp merupakan layanan pesan paling populer di Rusia dengan lebih dari 100 juta pengguna. Namun demikian, ketegangan dengan pemiliknya, Meta, telah meningkat sejak tahun lalu. Pemerintah Rusia menuduh platform ini memfasilitasi aktivitas kriminal dan terorisme.

Di sisi lain, Telegram tetap menjadi saluran utama bagi komunikasi militer dan pernyataan resmi Kremlin. Meskipun demikian, otoritas kini mulai memperlambat akses ke aplikasi buatan Pavel Durov tersebut. Durov sendiri menyebut tindakan ini sebagai upaya paksa untuk menggiring warga menuju aplikasi yang dikendalikan negara demi sensor politik.

Ambisi “Max” Sebagai Super-App Domestik

Rusia kini mempromosikan aplikasi “Max” sebagai solusi pengganti. Raksasa media sosial VK merilis aplikasi ini tahun lalu dengan ambisi meniru kesuksesan WeChat di Tiongkok. Bahkan, pemerintah mewajibkan produsen untuk memasang aplikasi Max pada semua ponsel dan tablet baru sejak September lalu.

Aplikasi Max menawarkan berbagai layanan, mulai dari pesan singkat hingga pemesanan makanan dan layanan pemerintah. Tentu saja, popularitasnya meningkat tajam dengan klaim 75 juta pengguna pada akhir Desember. Namun, banyak warga mengaku terpaksa mengunduh aplikasi ini karena instruksi langsung dari tempat mereka bekerja.

Baca Juga :  Avatar & Alter Ego: Krisis Identitas di Era Metaverse

Risiko Pengawasan dan Ketiadaan Enkripsi

Para ahli keamanan siber menyoroti perbedaan teknis yang sangat krusial pada aplikasi Max. Berbeda dengan WhatsApp, Max tampaknya tidak menerapkan enkripsi ujung-ke-ujung. Akibatnya, negara dapat memantau dan menyimpan pesan yang dikirim oleh pengguna tanpa hambatan teknis.

Sarkis Darbinyan dari LSM Roskomsvoboda menyatakan bahwa migrasi ini menciptakan “vakum informasi”. Selain itu, pemerintah dapat dengan mudah membatasi informasi yang mereka anggap tidak layak konsumsi oleh publik. Pada akhirnya, warga Rusia kini terjepit antara kebutuhan komunikasi dan hilangnya ruang privasi digital di tengah konflik yang masih berlangsung di Ukraina.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tragedi Pesawat Terjun Payung di Missouri: 12 Tewas Setelah Pesawat Jatuh dan Terbakar
Samurai Blue Tahan Imbang Belanda di Piala Dunia
Israel Gempur Lebanon Selatan di Tengah Isyarat Damai
Donald Trump dan Emmanuel Macron Pererat Aliansi
Wabah Ebola Kongo Kian Mengkhawatirkan
Israel Bersiap Hadapi Pemilihan Umum Sela
Presiden Mongolia Ukhnaa Khurelsukh Sambut Menlu Tiongkok
Raksasa Teknologi Dunia Serap Mineral Milisi M23

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 17:59 WIB

Tragedi Pesawat Terjun Payung di Missouri: 12 Tewas Setelah Pesawat Jatuh dan Terbakar

Senin, 15 Juni 2026 - 08:35 WIB

Samurai Blue Tahan Imbang Belanda di Piala Dunia

Minggu, 14 Juni 2026 - 17:21 WIB

Israel Gempur Lebanon Selatan di Tengah Isyarat Damai

Minggu, 14 Juni 2026 - 16:14 WIB

Donald Trump dan Emmanuel Macron Pererat Aliansi

Minggu, 14 Juni 2026 - 14:03 WIB

Wabah Ebola Kongo Kian Mengkhawatirkan

Berita Terbaru