JAKARTA, POSNEWS.CO.ID –Â Dinas Bina Marga DKI Jakarta mengklaim telah menambal 3.652 titik jalan berlubang di Jakarta Timur dan 11.228 titik se-DKI.
Namun data itu justru memunculkan pertanyaan besar: mengapa lubang terus bermunculan dan perbaikan harus dilakukan berulang kali?
Fakta bahwa ribuan lubang muncul hanya dalam waktu sebulan lebih mengindikasikan masalah struktural, bukan sekadar dampak hujan.
Jika kualitas jalan dan sistem drainase memadai, curah hujan tinggi semestinya tidak langsung merusak aspal dalam waktu singkat.
Perbaikan Darurat Jadi Pola, Bukan Solusi
Dinas Bina Marga secara terbuka mengakui perbaikan yang dilakukan bersifat darurat. Ini berarti:
- Tambalan berumur pendek
- Lubang berpotensi muncul kembali
- Anggaran berisiko habis untuk pekerjaan berulang
Model “tambal-sulam” seperti ini menimbulkan kesan mengejar angka kinerja, bukan menyelesaikan akar persoalan infrastruktur jalan.
Luas Wilayah Bukan Pembenaran Mutlak
Alasan bahwa Jakarta Timur paling luas sehingga paling banyak lubang diperbaiki tidak sepenuhnya relevan. Luas wilayah seharusnya berbanding lurus dengan:
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
- Kualitas perencanaan jalan
- Ketahanan material
- Pengawasan proyek
Jika wilayah luas selalu identik dengan kerusakan terbanyak, maka ada problem serius dalam perencanaan dan pemeliharaan jangka panjang.
Keselamatan Publik Masih Dipertaruhkan
Pemasangan marka peringatan memang membantu, tetapi tidak menyelesaikan bahaya utama. Jalan berlubang tetap berisiko menyebabkan:
- Kecelakaan lalu lintas
- Kerusakan kendaraan
- Kemacetan mendadak
Artinya, keselamatan publik masih diposisikan sebagai konsekuensi, bukan prioritas utama dalam desain jalan yang tahan cuaca ekstrem.
Instruksi Gubernur Belum Terukur
Instruksi Gubernur Pramono Anung agar jalan diperbaiki segera patut diapresiasi. Namun hingga kini:
- Tidak ada target waktu jelas
- Tidak ada standar perbaikan permanen
- Tidak ada evaluasi kualitas tambalan
Tanpa indikator keberhasilan, instruksi berisiko menjadi respons reaktif, bukan kebijakan strategis.
Perbaikan ribuan jalan berlubang memang menunjukkan kerja lapangan. Namun di sisi lain, hal itu juga menjadi alarm keras kegagalan sistem pemeliharaan jalan.
Selama perbaikan hanya berfokus pada tambalan darurat, Jakarta akan terus terjebak dalam siklus tahunan: hujan turun – jalan rusak – tambal cepat – rusak lagi.
Publik tidak hanya membutuhkan jalan yang cepat ditambal, tetapi jalan yang tidak mudah berlubang.
Editor : Hadwan





















