Teori Sekuritisasi: Mantra Ajaib yang Mengubah Isu Biasa Jadi Keadaan Darurat

Sabtu, 20 Desember 2025 - 09:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Isu biasa tiba-tiba jadi ancaman negara? Itu teknik

Ilustrasi, Isu biasa tiba-tiba jadi ancaman negara? Itu teknik "Sekuritisasi". Simak bagaimana ucapan elit politik bisa mematikan demokrasi demi keamanan. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Kata “keamanan” memiliki kekuatan magis dalam dunia politik. Seketika seorang pemimpin negara mengucapkan kata tersebut, aturan main berubah total. Anggaran cair tanpa perdebatan panjang, dan hak sipil warga bisa hilang dalam sekejap.

Banyak orang mengira keamanan adalah kondisi objektif. Padahal, para pemikir dari Mazhab Kopenhagen (Copenhagen School), seperti Barry Buzan dan Ole Wæver, memiliki pandangan berbeda.

Mereka memperkenalkan konsep revolusioner bernama “Teori Sekuritisasi”. Menurut teori ini, keamanan bukanlah fakta fisik, melainkan hasil dari konstruksi sosial melalui “Tindakan Bicara” (Speech Act).

Mantra “Ancaman Eksistensial”

Bagaimana proses ini bekerja? Mekanismenya sangat sederhana namun mematikan. Elit politik atau aktor keamanan menunjuk sebuah isu—misalnya imigran atau virus—dan melabelinya sebagai “ancaman eksistensial”.

Mereka meyakinkan publik bahwa jika kita tidak bertindak sekarang, maka negara akan hancur. Jika audiens (rakyat) menerima klaim tersebut, maka isu itu telah berhasil “disekuritisasi”.

Akibatnya, isu tersebut keluar dari ranah politik normal. Pemerintah mendapatkan legitimasi untuk mengambil tindakan darurat. Mereka bisa melangkahi hukum, mengabaikan prosedur demokrasi, atau menggunakan kekerasan atas nama keselamatan negara.

Baca Juga :  Perang Hibrida: Ketika Medan Tempur Tidak Lagi Terlihat

Dari Narkoba hingga Pandemi

Kita bisa melihat contoh nyata di depan mata. Perhatikan istilah “Perang Melawan Narkoba”. Penyalahgunaan narkoba sejatinya adalah masalah kesehatan dan sosial.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, pemerintah melabelinya sebagai ancaman bagi kelangsungan bangsa. Lantas, polisi dan militer turun tangan dengan senjata lengkap. Penembakan di tempat atau hukuman mati menjadi sah, sesuatu yang tidak mungkin terjadi jika isu ini kita tangani sebagai masalah medis biasa.

Begitu pula dengan penanganan pandemi COVID-19. Virus corona berubah dari isu kesehatan menjadi isu keamanan nasional. Seketika, pemerintah di seluruh dunia membatasi kebebasan bergerak warganya.

Karantina wilayah (lockdown) dan pengawasan digital ketat diberlakukan. Rakyat menerimanya tanpa protes karena mereka percaya bahwa kelangsungan hidup mereka sedang terancam.

Baca Juga :  Terobosan Jenewa: AS dan Iran Sepakati Prinsip Panduan

Bahaya Matinya Debat Publik

Meskipun terkadang perlu, sekuritisasi menyimpan bahaya besar bagi demokrasi. Pasalnya, proses ini mematikan debat publik yang sehat.

Saat sebuah isu sudah masuk kotak “keamanan”, kritik dianggap sebagai pengkhianatan. Misalnya, mempertanyakan anggaran militer saat perang dianggap tidak patriotik. Oposisi menjadi bungkam karena takut cap buruk.

Selain itu, terjadi militerisasi masalah sosial. Masalah yang seharusnya selesai lewat dialog atau kebijakan ekonomi, justru dihadapi dengan pendekatan keamanan yang represif.

Menolak atau Menerima?

Pada akhirnya, kita sebagai warga negara harus waspada. Tidak semua isu layak mendapatkan label “darurat”.

Kita harus kritis membedakan mana ancaman nyata yang membutuhkan respons cepat, dan mana manuver elit politik yang hanya ingin memperluas kekuasaan mereka tanpa pengawasan.

Ingatlah, sekuritisasi adalah pedang bermata dua. Ia bisa menyelamatkan negara dari kehancuran, tetapi ia juga bisa membunuh kebebasan yang susah payah kita bangun.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wanita Tewas di Kamar Terkunci di Jaktim, Leher Tersayat, Polisi Selidiki WNA Iran
Remisi Lebaran 2026: 155.908 Warga Binaan Pengurangan Hukuman, Ribuan Langsung Bebas
Viral Polantas Dorong Mobil Mogok Pakai Kaki di Tol Cipali, Sejauh 3 Km Bikin Salut
BMKG Gelar Modifikasi Cuaca Lebaran 2026, Hujan Ekstrem Ditekan hingga 50 Persen
Prabowo Undang SBY dan Jokowi ke Istana, Momen Langka Halalbihalal Lebaran 2026
Tol Jakarta-Cikampek Macet Parah Hari Ini, Contraflow Diperpanjang hingga KM 47–65
Open House Istana Lebaran 2026 Dibuka, 5.000 Warga Bisa Hadir Mulai Pukul 12.00 WIB
Cuaca Jabodetabek dan Kota Besar Sabtu 21 Maret 2026: Hujan Lebat dan Petir Mengintai

Berita Terkait

Sabtu, 21 Maret 2026 - 17:09 WIB

Wanita Tewas di Kamar Terkunci di Jaktim, Leher Tersayat, Polisi Selidiki WNA Iran

Sabtu, 21 Maret 2026 - 16:43 WIB

Remisi Lebaran 2026: 155.908 Warga Binaan Pengurangan Hukuman, Ribuan Langsung Bebas

Sabtu, 21 Maret 2026 - 16:25 WIB

Viral Polantas Dorong Mobil Mogok Pakai Kaki di Tol Cipali, Sejauh 3 Km Bikin Salut

Sabtu, 21 Maret 2026 - 16:10 WIB

BMKG Gelar Modifikasi Cuaca Lebaran 2026, Hujan Ekstrem Ditekan hingga 50 Persen

Sabtu, 21 Maret 2026 - 15:51 WIB

Prabowo Undang SBY dan Jokowi ke Istana, Momen Langka Halalbihalal Lebaran 2026

Berita Terbaru