SURABAYA, POSNEWS.CO.ID –Teka-teki di balik tewasnya Raffa Galang Prayoga (19), remaja asal Krembangan, Surabaya, yang ditemukan sekarat di Sampang, mulai terkuak. Korban, yang orang temukan dalam kondisi mengenaskan dengan tangan terikat, mata tertutup, dan luka bacok, awalnya publik duga sebagai pengendara ojek online (ojol) yang menjadi korban begal.
Namun, pihak keluarga membantah keras informasi tersebut. Ayah korban, Bambang Kusnandar (50), menegaskan bahwa putranya bukanlah pengemudi ojol. Akibatnya, fakta ini membuka misteri baru mengenai motif di balik pembunuhan keji ini.
Kurir Ekspedisi, Bukan Ojol
Saat wartawan temui di rumah duka di Krembangan, Surabaya, Sabtu (8/11/2025), Bambang meluruskan kabar yang beredar. Galang, lulusan SMK, bekerja di perusahaan jasa ekspedisi milik tantenya sendiri, Titik.
“Dia bukan ojek, seperti yang orang beritakan sebelumnya. Dia kerja ikut budenya (tantenya) perusahaan ekspedisi bagian lapangan. Antar-antar surat dan paket ke pelanggan di Jatim,” ujar Bambang.
Tulang Punggung Keluarga Sejak Belia
Tragedi ini menjadi pukulan yang sangat berat bagi Bambang, yang merupakan seorang disabilitas tunadaksa (kehilangan kedua lengan) akibat kecelakaan. Galang, sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, adalah tulang punggung non-finansial bagi keluarganya.
Sejak Bambang mengalami kecelakaan, Galang yang masih belia mengambil alih hampir seluruh aktivitas di rumah. Selain itu, ia merawat sang ayah dan kedua adik kembarnya yang kini berusia 15 tahun.
“Dia tulang punggung. Bukan keuangan. Tapi dia membantu saya ke sana ke mari, karena saya seperti ini,” kata Bambang sambil menahan tangis. “Dia semua yang urus. Dia urus adiknya yang kembar sejak kecil.”
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Anak Rumahan yang Tak Punya Musuh
Keluarga meyakini Galang adalah “anak rumahan” yang tidak memiliki pergaulan bebas. Bahkan, sang tante, Titik, menegaskan bahwa Galang tidak pernah bepergian jauh, apalagi ke Madura.
“Dia enggak pernah ke Madura. Baru pertama kali ini ke Madura. Makanya saya belum tahu, antara penculikan dan dijebak,” ujar Bambang.
Pihak keluarga ragu jika motifnya adalah perampokan murni. Meskipun motor Honda Revo “butut” dan kalung asesoris korban hilang, gelang di tangannya masih ada. “Kalau (motif) dendam, saya juga ragu. Anaknya pendiam dan penurut,” tambah Bambang.
Lebih lanjut, Titik, sang tante, menggambarkan Galang sebagai sosok pekerja keras yang bertanggung jawab dan sangat santun. “Kustomer semuanya tahu kejadian itu, ya nangis. Anaknya pendiam dan menurut. Kerja di lapangan, enggak neko-neko,” pungkas Titik.
Kini, pihak keluarga menyerahkan sepenuhnya penyelidikan kepada polisi untuk mengungkap motif dan pelaku di balik pembunuhan keji ini.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















