JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Bagi banyak pekerja, kecemasan “Sunday Scaries” mengisi Minggu malam mereka—kengerian membayangkan tumpukan email dan rapat di hari Senin. Selama bertahun-tahun, Hustle Culture mendoktrin kita: bahwa kita harus memulai Senin dengan “lari kencang”.
Namun, Gen Z dan pekerja muda kini mempopulerkan antitesisnya: gerakan “Bare Minimum Monday” (Senin Minimalis). Gerakan ini viral di media sosial sebagai perlawanan terhadap ekspektasi kerja yang tidak realistis dan pemicu burnout.
Bukan Soal Malas
Penting untuk Anda catat, “Bare Minimum Monday” bukan berarti tidak bekerja sama sekali. Ini adalah strategi yang sengaja mereka rancang untuk anti-burnout.
Filosofinya adalah memulai minggu kerja secara perlahan dan mengelolanya dengan baik. Alih-alih mencoba menaklukkan seluruh daftar tugas, para penganutnya fokus hanya pada tugas-tugas yang paling esensial dan mendesak. Misalnya, mereka menunda rapat-rapat yang menguras energi ke hari Selasa atau Rabu dan mendedikasikan Senin untuk pekerjaan yang fokus dan mendalam, namun dengan kecepatan yang manusiawi.
Maraton, Bukan Lari Cepat
Tujuan utama dari “Senin Minimalis” adalah manajemen energi. Hustle culture menuntut kita untuk memberikan 110% di hari Senin. Namun, hal ini sering kali menguras habis energi kita bahkan sebelum minggu kerja benar-benar dimulai.
“Bare Minimum Monday” memandang minggu kerja sebagai maraton, bukan lari cepat. Dengan memulai secara perlahan, tujuannya adalah menjaga agar energi dan kesehatan mental tetap stabil sehingga mereka bisa bertahan secara konsisten dan produktif hingga hari Jumat, tanpa mengalami kelelahan ekstrem di tengah minggu.
Genial atau Kemalasan?
Tentu saja, tren ini memicu perdebatan. Sebagian kritikus (sering kali dari generasi sebelumnya) melihat ini sebagai kemalasan terselubung atau kurangnya etos kerja. Mereka berpendapat bahwa menunda pekerjaan hanya akan menumpuk stres di kemudian hari.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Akan tetapi, para pendukungnya termasuk banyak pakar kesehatan mental melihatnya sebagai langkah genial. Ini adalah cara proaktif untuk menetapkan batas (boundaries) yang sehat. Pada akhirnya, mereka berargumen bahwa mencegah burnout (yang merupakan kondisi medis serius) jauh lebih produktif dalam jangka panjang daripada memaksakan diri dan akhirnya “tumbang” selama berminggu-minggu.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















