JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Bayangkan Anda duduk di dalam tabung logam selama 12 jam. Tidak ada film, tidak ada musik, tidak ada buku, dan tidak ada tidur. Anda hanya menatap peta penerbangan atau sandaran kursi di depan mata.
Bagi kebanyakan orang, skenario ini terdengar seperti mimpi buruk atau penyiksaan. Namun, bagi sekelompok pria di media sosial, ini adalah tren baru yang menantang. Fenomena ini dikenal dengan nama “Rawdogging” penerbangan.
Istilah ini merujuk pada tindakan menempuh penerbangan jarak jauh tanpa bantuan hiburan elektronik sama sekali. Bahkan, pelakunya sering kali hanya duduk diam mematung. Mereka menolak segala bentuk distraksi dan memilih untuk menghadapi kebosanan secara total.
Perlawanan Balik Terhadap Layar
Tren ini muncul bukan tanpa alasan. Sebenarnya, ini adalah bentuk reaksi balik (counter-culture) terhadap gaya hidup modern kita. Kita hidup di era yang penuh sesak dengan stimulasi digital.
Otak kita terus-menerus digempur oleh notifikasi dan konten singkat. Akibatnya, banyak orang mengalami kelelahan dopamin (dopamine fatigue). Otak menjadi tumpul karena terlalu banyak asupan hiburan instan.
Oleh karena itu, “rawdogging” menjadi cara ekstrem untuk menekan tombol reset. Para pelaku ingin memulihkan kembali kemampuan otak mereka untuk fokus. Mereka memaksa diri untuk berdamai dengan keheningan dan pikiran mereka sendiri.
Uji Maskulinitas Stoik
Di sisi lain, tren ini juga memuat simbolisme maskulinitas yang kuat. Banyak pria menganggap tantangan ini sebagai uji ketahanan mental. Mereka ingin membuktikan bahwa mereka memiliki kontrol diri yang tinggi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sikap ini mencerminkan filosofi Stoikisme. Artinya, seseorang harus mampu menanggung ketidaknyamanan tanpa mengeluh. Menatap kursi selama sepuluh jam dianggap sebagai latihan meditasi tingkat tinggi.
Lantas, mereka memamerkan pencapaian ini di TikTok atau Instagram. Mereka merasa bangga karena berhasil menaklukkan rasa bosan tanpa bantuan teknologi.
Meditasi atau Penyiksaan Diri?
Meskipun demikian, pakar kesehatan memiliki pandangan berbeda. Sisi positifnya, beristirahat dari layar memang baik untuk mata dan pikiran. Akan tetapi, melakukannya secara ekstrem bisa berbahaya.
Duduk diam tanpa bergerak selama belasan jam meningkatkan risiko penggumpalan darah atau Deep Vein Thrombosis (DVT). Selain itu, dehidrasi juga menjadi ancaman nyata karena sebagian pelaku juga menolak minum selama penerbangan.
Maka, batas antara meditasi dan penyiksaan diri menjadi sangat tipis di sini. Menghukum tubuh demi sebuah konten viral bukanlah tindakan bijak.
Kerinduan Akan Keheningan
Pada akhirnya, tren aneh ini adalah manifestasi dari kebosanan modern. Kita mungkin tidak menyadarinya, tetapi jiwa kita merindukan keheningan total.
Dunia digital terlalu bising. Sayangnya, kita harus melakukan tindakan ekstrem seperti “rawdogging” hanya untuk bisa mendengar isi kepala sendiri kembali. Kita ingin merasakan kembali lambatnya waktu, sesuatu yang telah dirampas oleh algoritma media sosial.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















