WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Langit Nigeria barat laut kembali terancam membara. Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Pete Hegseth, mengeluarkan peringatan keras hanya beberapa jam setelah serangan udara mematikan terhadap kamp militan ISIS.
Hegseth menegaskan bahwa Washington siap melancarkan gempuran lanjutan. Pasalnya, misi AS untuk menghentikan pembunuhan “orang Kristen yang tidak bersalah” belum selesai.
“Pentagon selalu siap, jadi ISIS mengetahuinya malam ini—pada hari Natal. Akan ada lagi yang akan datang,” tulis Hegseth di platform X.
Ia juga menyampaikan terima kasih atas dukungan dan kerja sama pemerintah Nigeria. Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan diplomatik sebelumnya, di mana Presiden Donald Trump sempat menuduh Nigeria gagal melindungi umat Kristen.
“Kado Natal” yang Tertunda
Trump sendiri mengungkapkan detail menarik di balik layar. Dalam wawancara dengan Politico, ia mengaku sengaja menunda serangan tersebut selama satu hari.
Awalnya, militer berencana menyerang pada hari Rabu. Namun, Trump memerintahkan penundaan agar bertepatan dengan hari raya.
“Saya bilang, ‘tidak, ayo kita beri hadiah Natal.’ Mereka tidak menyangka itu akan datang, tapi kami menghajar mereka dengan keras. Setiap kamp hancur lebur,” klaim Trump.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Trump menyebut operasi ini sebagai pemenuhan janjinya untuk melindungi umat Kristen dari “teroris sampah”. Meskipun ia berkampanye sebagai kandidat perdamaian, tahun pertama masa jabatan keduanya justru diwarnai serangkaian intervensi militer agresif, mulai dari Yaman hingga Venezuela.
Nigeria: Ini Operasi Gabungan, Bukan Perang Agama
Pemerintah Nigeria merespons dengan narasi berbeda. Menteri Luar Negeri Yusuf Tuggar menegaskan bahwa serangan di negara bagian Sokoto tersebut adalah hasil kerja sama intelijen yang erat.
Tuggar menjelaskan kronologi koordinasi tingkat tinggi. Ia berbicara dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio selama 19 menit, lalu meminta persetujuan Presiden Bola Tinubu, sebelum kembali menelepon Rubio selama lima menit.
“Kami telah bekerja sama erat dengan Amerika,” kata Tuggar. Menurutnya, operasi ini bertujuan memerangi terorisme dan melindungi nyawa warga Nigeria yang tidak bersalah, tanpa memandang agama.
“Ini bukan menargetkan agama apa pun, atau hanya atas nama satu agama atau lainnya,” tegasnya.
Nigeria yang sekuler memiliki populasi yang hampir terbagi rata antara Muslim (53%) dan Kristen (45%). Faktanya, kelompok bersenjata di sana menargetkan kedua komunitas tersebut tanpa pandang bulu, sering kali didorong oleh persaingan lahan dan sumber daya.
Warga Panik, Langit Membara
Dampak serangan udara AS dirasakan langsung oleh warga lokal. Penduduk desa Jabo di Sokoto menggambarkan kepanikan saat rudal menghantam.
“Panasnya menjadi sangat hebat saat mendekati daerah kami,” ujar Abubakar Sani. Sementara itu, petani bernama Sanusi Madabo menceritakan bagaimana langit bersinar merah terang selama berjam-jam, seolah-olah hari sudah siang.
Beruntung, laporan awal menyebutkan tidak ada korban sipil dalam insiden tersebut. Pasukan keamanan Nigeria telah menutup area kejadian.
Namun, trauma masa lalu kembali menghantui. Warga masih ingat tragedi Natal tahun lalu, saat Angkatan Udara Nigeria secara tidak sengaja mengebom warga sipil di dekat Jabo, menewaskan 13 orang.
Kini, dengan janji serangan lanjutan dari Hegseth, ketidakpastian kembali menyelimuti wilayah barat laut Nigeria. Apakah intervensi asing ini akan membawa stabilitas, atau justru memperkeruh konflik yang berakar pada masalah sosial-ekonomi yang kompleks?
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















