KYIV, POSNEWS.CO.ID – Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy melontarkan kecaman keras terhadap Rusia pada Selasa (3/2/2026). Ia menuduh Moskow sengaja mengeksploitasi moratorium serangan energi yang didukung Amerika Serikat untuk menimbun amunisi.
Tuduhan ini muncul setelah pasukan Rusia meluncurkan serangan udara skala besar yang melibatkan rekor jumlah rudal balistik dan ratusan drone. Serangan tersebut terjadi hanya sehari sebelum delegasi Ukraina dijadwalkan menghadiri pembicaraan damai di Abu Dhabi. “Tentara Rusia mengeksploitasi proposal AS untuk menghentikan serangan singkat—bukan untuk mendukung diplomasi, melainkan untuk menimbun rudal,” tulis Zelenskyy melalui platform X.
Teror di Tengah Suhu Beku
Dampak dari serangan ini sangat fatal bagi warga sipil di tengah musim dingin terdingin dalam enam tahun terakhir. Suhu yang mencapai -20 derajat Celsius membuat ribuan warga di Kyiv dan Kharkiv menderita tanpa aliran pemanas.
Pejabat Ukraina melaporkan bahwa serangan tersebut merusak lebih dari 1.000 gedung apartemen di Kyiv. Sementara itu, Wali Kota Kharkiv, Ihor Terekhov, menyatakan sebuah pembangkit listrik termal di kotanya mengalami kerusakan parah. “Tujuannya jelas: untuk menyebabkan kehancuran maksimal dan membiarkan kota tanpa panas dalam cuaca dingin yang parah,” tulis Terekhov di Telegram.
Perselisihan Jadwal Gencatan Senjata
Ketidaksepakatan mengenai jangka waktu moratorium semakin memperumit ketegangan ini. Pekan lalu, kedua belah pihak setuju untuk menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi masing-masing, namun mereka memiliki interpretasi berbeda mengenai batas akhirnya.
Pihak Kremlin mengklaim bahwa kesepakatan tersebut telah kedaluwarsa pada 1 Februari lalu. Sebaliknya, Kyiv menegaskan bahwa moratorium seharusnya berlangsung hingga Jumat ini. Akibatnya, ketidakpercayaan publik terhadap proses perdamaian semakin meningkat. Warga sipil seperti Natalia Hlobenko (35), yang menyaksikan ledakan menghancurkan apartemennya, mempertanyakan efektivitas gencatan senjata tersebut di tengah kehancuran yang mereka alami.
Jalur Terjal Negosiasi Abu Dhabi
Ukraina, AS, dan Rusia menjadwalkan putaran kedua pembicaraan trilateral pada Rabu dan Kamis di Abu Dhabi. Meskipun demikian, Zelenskyy menyatakan ia akan “menyesuaikan” mandat para negosiator Ukraina sebagai respons atas serangan terbaru ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hingga saat ini, masalah wilayah tetap menjadi hambatan utama dalam meja perundingan. Moskow menuntut Ukraina untuk menyerahkan sisa 20% wilayah Donetsk di timur, namun Kyiv menolak mentah-mentah tuntutan tersebut. Selain membahas jaminan keamanan dari AS, delegasi Ukraina juga berencana mendiskusikan paket rekonstruksi pasca-perang di sela-sela pertemuan bilateral dengan pejabat Washington.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















