Tragedi Tahun Baru di Alpen: Api, Kepanikan, dan Duka

Jumat, 2 Januari 2026 - 10:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pesta pergantian tahun berubah menjadi mimpi buruk ketika

Pesta pergantian tahun berubah menjadi mimpi buruk ketika "flashover" mematikan melahap klub malam yang penuh sesak di resor ski elit Swiss. Dok: Istimewa.

CRANS-MONTANA, POSNEWS.CO.ID – Langit malam pegunungan Alpen yang seharusnya penuh kembang api perayaan kini gelap oleh asap duka. Swiss menetapkan lima hari berkabung nasional setelah kebakaran “yang belum pernah terjadi sebelumnya” menghancurkan sebuah bar yang penuh sesak di resor ski Crans-Montana.

Sekitar 40 nyawa melayang dan 115 orang terluka saat merayakan pesta pergantian tahun di bar Le Constellation. Presiden Swiss, Guy Parmelin, menggambarkan insiden ini sebagai salah satu peristiwa paling traumatis dalam sejarah negara tersebut.

“Ini adalah drama dengan skala yang tak terbayangkan,” ujar Parmelin. Ia memberikan penghormatan khusus kepada banyak “jiwa muda yang hilang dan terputus,” seraya berjanji untuk memastikan tragedi serupa tak akan terulang.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Detik-detik Neraka di Ruang Bawah Tanah

Saksi mata mengungkapkan api mulai berkobar pukul 01.30 dini hari. Laporan BFMTV mengindikasikan percikan api berasal dari kembang api (sparklers) pada botol sampanye yang dibawa staf bar. Si jago merah dengan cepat menyambar langit-langit, memicu apa yang petugas pemadam kebakaran sebut sebagai embrasement généralisé atau flashover—suatu kondisi di mana gas yang mudah terbakar menyala secara serentak dan ganas.

Baca Juga :  Revolusi Subtitle: Runtuhnya Dominasi Bahasa Inggris dalam Budaya Pop Global

Dalam hitungan detik, lidah api melahap ruang bawah tanah yang sesak oleh pengunjung, sebagian besar remaja. Kepanikan massal pecah saat mereka berusaha melarikan diri menaiki tangga sempit yang menjadi satu-satunya jalan keluar.

Penyelidikan dan Spekulasi Penyebab

Video unggahan penyintas memperlihatkan api yang langsung membesar di atas bar dan korban yang tergeletak di jalanan. Jaksa wilayah Valais, Beatrice Pilloud, menyatakan timnya sedang menyelidiki secara intensif penyebab pasti insiden ini, termasuk menelusuri laporan mengenai penggunaan lilin atau kembang api.

Sementara itu, Ulysse Brozzo, seorang instruktur ski lokal berusia 16 tahun, mengajukan dugaan lain. Ia menyebut bar tersebut menyediakan pipa shisha, dan spekulasi beredar bahwa arang shisha yang tumpah mungkin memicu kebakaran.

Merespons krisis ini, Komandan Polisi Frédéric Gisler mengerahkan kekuatan penuh: 42 ambulans dan 13 helikopter terbang ke lokasi. Namun, bagi banyak orang, bantuan itu datang terlambat.

Rumah Sakit Kewalahan, Identifikasi Sulit

Petugas medis segera melarikan korban luka ke rumah sakit di Sion, Lausanne, Jenewa, dan Zurich. Claire Charmet, manajer umum rumah sakit universitas Lausanne, mengatakan timnya langsung meresusitasi delapan pasien saat tiba. Kini, mereka menjalani perawatan kritis akibat luka bakar parah dan kerusakan paru-paru.

Baca Juga :  Banjir Rob Mengintai Jakarta hingga 7 Januari 2026, Warga Pesisir Diminta Siaga

“Ini akan menjadi proses panjang dan intensif, berlangsung beberapa minggu, bahkan mungkin berbulan-bulan,” kata Charmet.

Tugas berat kini menanti tim forensik untuk mengidentifikasi jenazah, banyak di antaranya memerlukan sampel DNA keluarga. Korban tidak hanya warga Swiss; Kementerian Luar Negeri Italia melaporkan 16 warganya hilang, sementara Prancis masih mencari kepastian nasib delapan warganya.

Resor Mewah Berbalut Duka

Crans-Montana, yang biasanya gemerlap dengan turis elit Eropa dan butik mewah seperti Louis Vuitton, kini hening. Ratusan orang berkumpul dalam diam di tengah dingin yang membeku untuk menyalakan lilin dan meletakkan bunga.

Warga mengenal Le Constellation sebagai tempat favorit anak muda dengan harga terjangkau, berbeda dari kemewahan di sekitarnya. Francois (17), seorang instruktur ski, menuturkan tempat itu sering kali longgar dalam memeriksa usia pengunjung saat pesta tahun baru. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa banyak remaja di bawah umur terjebak di dalam saat api mengamuk.

Mathias Reynard, presiden kanton Valais, menyimpulkan perasaan seluruh bangsa: “Saya tidak bisa menyembunyikan bahwa kita semua terguncang. Apa yang seharusnya menjadi momen perayaan, berubah menjadi mimpi buruk.”

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Sumber Berita: The Guardian

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang
PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran
António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng
Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan
Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila
Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia
Alysa Liu dan Ilia Malinin Siap Beraksi di Skate America
Aliansi SoftBank dan OpenAI: Perangi Krisis Siber Jepang

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:24 WIB

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Juni 2026 - 15:17 WIB

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Juni 2026 - 14:48 WIB

António Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng

Rabu, 17 Juni 2026 - 13:31 WIB

Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan

Rabu, 17 Juni 2026 - 12:21 WIB

Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila

Berita Terbaru

Ilustrasi, Misi damai Vatikan di Asia Timur. Kardinal Lazzaro You Heung-sik menyebut Paus Leo XIV siap mengunjungi Korea Utara guna meredakan ketegangan politik regional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Jun 2026 - 16:24 WIB

Sinergi Tokyo-Washington di G7. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menggelar pertemuan bilateral singkat bersama Presiden AS Donald Trump untuk membahas isu Timur Tengah dan tarif dagang. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Jun 2026 - 15:17 WIB