CRANS-MONTANA, POSNEWS.CO.ID – Langit malam pegunungan Alpen yang seharusnya penuh kembang api perayaan kini gelap oleh asap duka. Swiss menetapkan lima hari berkabung nasional setelah kebakaran “yang belum pernah terjadi sebelumnya” menghancurkan sebuah bar yang penuh sesak di resor ski Crans-Montana.
Sekitar 40 nyawa melayang dan 115 orang terluka saat merayakan pesta pergantian tahun di bar Le Constellation. Presiden Swiss, Guy Parmelin, menggambarkan insiden ini sebagai salah satu peristiwa paling traumatis dalam sejarah negara tersebut.
“Ini adalah drama dengan skala yang tak terbayangkan,” ujar Parmelin. Ia memberikan penghormatan khusus kepada banyak “jiwa muda yang hilang dan terputus,” seraya berjanji untuk memastikan tragedi serupa tak akan terulang.
Detik-detik Neraka di Ruang Bawah Tanah
Saksi mata mengungkapkan api mulai berkobar pukul 01.30 dini hari. Laporan BFMTV mengindikasikan percikan api berasal dari kembang api (sparklers) pada botol sampanye yang dibawa staf bar. Si jago merah dengan cepat menyambar langit-langit, memicu apa yang petugas pemadam kebakaran sebut sebagai embrasement généralisé atau flashover—suatu kondisi di mana gas yang mudah terbakar menyala secara serentak dan ganas.
Dalam hitungan detik, lidah api melahap ruang bawah tanah yang sesak oleh pengunjung, sebagian besar remaja. Kepanikan massal pecah saat mereka berusaha melarikan diri menaiki tangga sempit yang menjadi satu-satunya jalan keluar.
Penyelidikan dan Spekulasi Penyebab
Video unggahan penyintas memperlihatkan api yang langsung membesar di atas bar dan korban yang tergeletak di jalanan. Jaksa wilayah Valais, Beatrice Pilloud, menyatakan timnya sedang menyelidiki secara intensif penyebab pasti insiden ini, termasuk menelusuri laporan mengenai penggunaan lilin atau kembang api.
Sementara itu, Ulysse Brozzo, seorang instruktur ski lokal berusia 16 tahun, mengajukan dugaan lain. Ia menyebut bar tersebut menyediakan pipa shisha, dan spekulasi beredar bahwa arang shisha yang tumpah mungkin memicu kebakaran.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Merespons krisis ini, Komandan Polisi Frédéric Gisler mengerahkan kekuatan penuh: 42 ambulans dan 13 helikopter terbang ke lokasi. Namun, bagi banyak orang, bantuan itu datang terlambat.
Rumah Sakit Kewalahan, Identifikasi Sulit
Petugas medis segera melarikan korban luka ke rumah sakit di Sion, Lausanne, Jenewa, dan Zurich. Claire Charmet, manajer umum rumah sakit universitas Lausanne, mengatakan timnya langsung meresusitasi delapan pasien saat tiba. Kini, mereka menjalani perawatan kritis akibat luka bakar parah dan kerusakan paru-paru.
“Ini akan menjadi proses panjang dan intensif, berlangsung beberapa minggu, bahkan mungkin berbulan-bulan,” kata Charmet.
Tugas berat kini menanti tim forensik untuk mengidentifikasi jenazah, banyak di antaranya memerlukan sampel DNA keluarga. Korban tidak hanya warga Swiss; Kementerian Luar Negeri Italia melaporkan 16 warganya hilang, sementara Prancis masih mencari kepastian nasib delapan warganya.
Resor Mewah Berbalut Duka
Crans-Montana, yang biasanya gemerlap dengan turis elit Eropa dan butik mewah seperti Louis Vuitton, kini hening. Ratusan orang berkumpul dalam diam di tengah dingin yang membeku untuk menyalakan lilin dan meletakkan bunga.
Warga mengenal Le Constellation sebagai tempat favorit anak muda dengan harga terjangkau, berbeda dari kemewahan di sekitarnya. Francois (17), seorang instruktur ski, menuturkan tempat itu sering kali longgar dalam memeriksa usia pengunjung saat pesta tahun baru. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa banyak remaja di bawah umur terjebak di dalam saat api mengamuk.
Mathias Reynard, presiden kanton Valais, menyimpulkan perasaan seluruh bangsa: “Saya tidak bisa menyembunyikan bahwa kita semua terguncang. Apa yang seharusnya menjadi momen perayaan, berubah menjadi mimpi buruk.”
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
Sumber Berita: The Guardian





















