NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Angka statistik dari Kantor Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB pada Jumat ini melukiskan kenyataan suram. Kantor tersebut memperkirakan lebih dari 1 juta orang di Gaza masih sangat butuh tempat tinggal layak. Jumlah ini setara dengan satu dari setiap dua penduduk di sana.
Pekerja kemanusiaan memang telah mendistribusikan ribuan tenda dan ratusan ribu terpal sejak gencatan senjata. Namun, kebutuhan di lapangan tetap menganga lebar. Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) melaporkan bahwa keluarga paling rentan kini harus bertarung melawan ganasnya alam.
Hujan lebat, angin kencang, dan ombak laut menerjang tenda darurat yang rapuh. Akibatnya, ratusan ribu warga Palestina kini hidup dalam kondisi memprihatinkan.
Ancaman Wabah di Balik Tumpukan Sampah
Badai menghantam dari atas, sementara ancaman lain mengintai dari bawah. Mitra PBB di sektor air, sanitasi, dan kebersihan (WASH) menghadapi tantangan berat dalam mengelola limbah padat. Kesenjangan antara sampah yang petugas kumpulkan dan tumpukan yang ada kian melebar.
Penyebabnya kompleks namun fatal. Truk sampah tak mampu mencapai tempat pembuangan akhir, infrastruktur hancur lebur, serta bahan bakar langka. Program Pembangunan PBB (UNDP) mencatat pengelolaan limbah padat sebagai layanan yang paling menderita pada bulan Desember. Truk pengangkut hanya bisa mengakses segelintir tempat pembuangan sementara, sehingga risiko kesehatan masyarakat berlipat ganda.
Meski menghadapi rintangan tersebut, tim dukungan UNICEF berhasil mengangkut 1.000 ton limbah padat setiap bulan sejak gencatan senjata. Mereka melakukan upaya heroik ini demi menjaga kesehatan anak-anak dan keluarga dari ancaman wabah penyakit.
Ultimatum untuk LSM Internasional
Di tengah krisis logistik ini, muncul tantangan birokrasi yang mengkhawatirkan. Komite Tetap Antar-Lembaga (IASC), yang menyatukan entitas PBB dan mitranya, mengeluarkan pernyataan mendesak pada hari Rabu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mereka meminta otoritas Israel meninjau kembali rencana pelarangan operasional bagi banyak organisasi non-pemerintah (LSM) internasional. IASC menegaskan bahwa organisasi-organisasi ini adalah jantung operasi kemanusiaan di wilayah pendudukan Palestina. Tanpa mereka, sistem bantuan yang sudah rapuh bisa runtuh total.
Gencatan Senjata Bukanlah Solusi Akhir
Situasi di Gaza saat ini adalah pengingat brutal bahwa “henti tembak” tidak serta merta berarti “aman”. Gencatan senjata memang menghentikan peluru. Namun, hawa dingin tetap menusuk tulang dan bakteri terus berkembang biak di tumpukan sampah.
Satu juta orang kini tak punya atap layak saat musim dingin. Ini adalah resep bencana sekunder berupa kematian akibat hipotermia dan penyakit menular. Ironisnya, infrastruktur hancur dan kebutuhan memuncak. Maka, rencana membatasi gerak LSM internasional terasa kontra-produktif dan tidak manusiawi.
Birokrasi dan blokade bahan bakar yang terus menghambat akses bantuan akan memicu gelombang kematian kedua. Kematian ini sunyi, bukan karena bom, tapi karena ketiadaan kebutuhan dasar. Kita mustahil mencapai stabilitas pasca-konflik di atas pondasi tenda yang bocor dan sanitasi buruk.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















