KEPULAUAN GALAPAGOS, POSNEWS.CO.ID – Di sebuah kerucut vulkanik gersang bernama Daphne Major, kaktus dan semak belukar jarang tumbuh lebih tinggi dari lutut orang dewasa. Di tempat sunyi inilah, ahli biologi Peter dan Rosemary Grant dari Universitas Princeton menghabiskan lebih dari tiga dekade untuk mengamati warisan Charles Darwin.
Mereka mengenal hampir setiap individu burung di pulau itu dan melacak garis keturunan mereka ke masa lalu. Hasilnya, mereka menyaksikan prinsip Darwin beraksi berulang kali: evolusi bukanlah proses yang memakan waktu jutaan tahun, melainkan bisa terjadi dalam satu generasi.
Sang Superstar: Finch Tanah Sedang
Bintang utama penelitian ini adalah Finch Tanah Sedang (Medium Ground Finch). Sekilas, burung seukuran pipit ini tampak biasa saja. Namun, bagi biologi evolusi, ia adalah superstar. Kuncinya terletak pada paruhnya yang berada di tengah-tengah: lebih kokoh dari pemakan biji lunak, tapi lebih kecil dari pemecah biji keras.
Saat kekeringan parah melanda pada 1977, burung-burung ini dengan cepat melahap sisa biji kecil. Akibatnya, burung yang berparuh lemah mati kelaparan. Alam kemudian menyeleksi yang kuat; generasi berikutnya lahir dengan dominasi individu berparuh besar yang mampu memecah biji keras.
Akan tetapi, roda nasib berputar cepat. Delapan tahun kemudian, badai El Nino mengubah pulau gersang itu menjadi hutan rimbun. Tanaman merambat mematikan penyedia biji besar, sementara biji kecil melimpah ruah. Seketika itu juga, arah evolusi berbalik. Burung berparuh besarlah yang kini mati, sementara si paruh kecil bangkit kembali.
“Seleksi alam dapat diamati,” tegas Rosemary Grant. “Itu terjadi ketika lingkungan berubah.”
Evolusi Akibat Persaingan
Baru-baru ini, keluarga Grant menyaksikan bentuk seleksi alam yang berbeda: kompetisi antarspesies. Pada 1982, Finch Tanah Besar (Large Ground Finch) tiba di pulau itu. Paruh mereka yang kuat mendominasi sumber makanan biji besar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Saat kekeringan kembali menyerang pada 2003, Finch Tanah Sedang yang berparuh besar kalah telak dalam perebutan makanan. Oleh karena itu, pada tahun 2004, generasi baru Finch Tanah Sedang berevolusi memiliki paruh yang jauh lebih kecil. Peter Grant menyebut ini sebagai respons seleksi alam terkuat yang pernah ia lihat selama 33 tahun.
Manusia Menghentikan Evolusi?
Sementara itu, di pulau tetangga Santa Cruz yang berpenghuni, Andrew Hendry dari Universitas McGill menemukan fakta yang meresahkan. Di sekitar kota Puerto Ayora yang penuh hotel turis, populasi manusia melonjak drastis.
Aktivitas manusia memperkenalkan sumber makanan baru, seperti nasi dan tanaman eksotis. Dampaknya, ukuran paruh tidak lagi menjadi penentu hidup dan mati. Burung dengan paruh “tanggung” yang dulu sulit bertahan hidup, kini bisa makan dengan kenyang dari sisa makanan manusia.
Faktanya, populasi burung yang dulunya terpisah menjadi dua subspesies berbeda kini mulai melebur kembali. Hendry memperingatkan bahwa campur tangan manusia ini bisa “menghentikan evolusi di jalurnya”.
Penemuan ini mengajarkan pelajaran penting: pelestarian alam bukan hanya tentang melindungi spesies yang ada, tetapi juga menjaga proses alami yang memungkinkan spesies baru tercipta.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















