Burung Finch Galapagos Berubah Wujud di Depan Mata Peneliti

Selasa, 6 Januari 2026 - 05:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Alam yang kian sunyi. Studi terbaru mengungkap bahwa hilangnya miliaran burung di Amerika Serikat bukan sekadar tren tetap, melainkan sebuah krisis yang kini bergerak semakin cepat di kawasan pertanian intensif. Dok: Istimewa.

Alam yang kian sunyi. Studi terbaru mengungkap bahwa hilangnya miliaran burung di Amerika Serikat bukan sekadar tren tetap, melainkan sebuah krisis yang kini bergerak semakin cepat di kawasan pertanian intensif. Dok: Istimewa.

KEPULAUAN GALAPAGOS, POSNEWS.CO.ID – Di sebuah kerucut vulkanik gersang bernama Daphne Major, kaktus dan semak belukar jarang tumbuh lebih tinggi dari lutut orang dewasa. Di tempat sunyi inilah, ahli biologi Peter dan Rosemary Grant dari Universitas Princeton menghabiskan lebih dari tiga dekade untuk mengamati warisan Charles Darwin.

Mereka mengenal hampir setiap individu burung di pulau itu dan melacak garis keturunan mereka ke masa lalu. Hasilnya, mereka menyaksikan prinsip Darwin beraksi berulang kali: evolusi bukanlah proses yang memakan waktu jutaan tahun, melainkan bisa terjadi dalam satu generasi.

Sang Superstar: Finch Tanah Sedang

Bintang utama penelitian ini adalah Finch Tanah Sedang (Medium Ground Finch). Sekilas, burung seukuran pipit ini tampak biasa saja. Namun, bagi biologi evolusi, ia adalah superstar. Kuncinya terletak pada paruhnya yang berada di tengah-tengah: lebih kokoh dari pemakan biji lunak, tapi lebih kecil dari pemecah biji keras.

Saat kekeringan parah melanda pada 1977, burung-burung ini dengan cepat melahap sisa biji kecil. Akibatnya, burung yang berparuh lemah mati kelaparan. Alam kemudian menyeleksi yang kuat; generasi berikutnya lahir dengan dominasi individu berparuh besar yang mampu memecah biji keras.

Akan tetapi, roda nasib berputar cepat. Delapan tahun kemudian, badai El Nino mengubah pulau gersang itu menjadi hutan rimbun. Tanaman merambat mematikan penyedia biji besar, sementara biji kecil melimpah ruah. Seketika itu juga, arah evolusi berbalik. Burung berparuh besarlah yang kini mati, sementara si paruh kecil bangkit kembali.

“Seleksi alam dapat diamati,” tegas Rosemary Grant. “Itu terjadi ketika lingkungan berubah.”

Evolusi Akibat Persaingan

Baru-baru ini, keluarga Grant menyaksikan bentuk seleksi alam yang berbeda: kompetisi antarspesies. Pada 1982, Finch Tanah Besar (Large Ground Finch) tiba di pulau itu. Paruh mereka yang kuat mendominasi sumber makanan biji besar.

Saat kekeringan kembali menyerang pada 2003, Finch Tanah Sedang yang berparuh besar kalah telak dalam perebutan makanan. Oleh karena itu, pada tahun 2004, generasi baru Finch Tanah Sedang berevolusi memiliki paruh yang jauh lebih kecil. Peter Grant menyebut ini sebagai respons seleksi alam terkuat yang pernah ia lihat selama 33 tahun.

Baca Juga :  KKB Serang Tambang Emas Yahukimo, 2 Pendulang Tewas, 4 Selamat

Manusia Menghentikan Evolusi?

Sementara itu, di pulau tetangga Santa Cruz yang berpenghuni, Andrew Hendry dari Universitas McGill menemukan fakta yang meresahkan. Di sekitar kota Puerto Ayora yang penuh hotel turis, populasi manusia melonjak drastis.

Aktivitas manusia memperkenalkan sumber makanan baru, seperti nasi dan tanaman eksotis. Dampaknya, ukuran paruh tidak lagi menjadi penentu hidup dan mati. Burung dengan paruh “tanggung” yang dulu sulit bertahan hidup, kini bisa makan dengan kenyang dari sisa makanan manusia.

Faktanya, populasi burung yang dulunya terpisah menjadi dua subspesies berbeda kini mulai melebur kembali. Hendry memperingatkan bahwa campur tangan manusia ini bisa “menghentikan evolusi di jalurnya”.

Penemuan ini mengajarkan pelajaran penting: pelestarian alam bukan hanya tentang melindungi spesies yang ada, tetapi juga menjaga proses alami yang memungkinkan spesies baru tercipta.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Selasa, 7 Juli 2026 - 21:55 WIB

Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Berita Terbaru

Inovasi gawai modular dua fungsi. HoverAir merilis konsep Versa yang menggabungkan kamera gimbal genggam dan drone terbang pintar dalam satu perangkat. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

HoverAir Memperkenalkan Perangkat Modular Versa

Minggu, 2 Agu 2026 - 13:00 WIB

Peta baru industri hiburan interaktif. Krisis memori RAM global, kebijakan tarif impor, serta inflasi mengakhiri era konsol gaming murah 500 dolar AS secara permanen. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Krisis Memori dan Tarif Global Dorong Harga Gawai Gaming

Minggu, 2 Agu 2026 - 12:00 WIB

Lini tayangan terlengkap bulan Agustus. Disney+ menyajikan konten bervariasi mulai dari Pokemon, tayangan spin-off Star Wars, hingga siaran langsung e-sports. Dok: Istimewa.

ENTERTAINMENT

Disney+ Merilis Lini Konten Agustus 2026 Mulai Pokemon

Minggu, 2 Agu 2026 - 11:00 WIB