Dunia Keroyok AS di Sidang Darurat PBB Soal Venezuela

Selasa, 6 Januari 2026 - 18:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, AS terisolasi di Dewan Keamanan. Brazil sebut penangkapan Maduro

Ilustrasi, AS terisolasi di Dewan Keamanan. Brazil sebut penangkapan Maduro "garis yang tak bisa diterima", sementara Rusia tuduh Washington main hakim sendiri. Dok: Istimewa.

NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Amerika Serikat menghadapi badai diplomatik di markas besar PBB pada Senin lalu. Dalam sebuah sidang darurat Dewan Keamanan, Washington berdiri sendirian saat belasan negara secara bergantian mengecam operasi militer di Venezuela sebagai “kejahatan agresi”.

Negara-negara seperti Brazil, China, Kolombia, Meksiko, Rusia, Afrika Selatan, hingga sekutu tradisional Spanyol, kompak menolak keputusan Presiden Donald Trump. Mereka menilai serangan mematikan dan penculikan Presiden Nicolás Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, telah melanggar norma internasional.

“Pengeboman di wilayah Venezuela dan penangkapan presidennya melintasi garis yang tidak dapat diterima,” tegas SĂ©rgio França Danese, Duta Besar Brazil untuk PBB. Lebih lanjut, ia memperingatkan bahwa tindakan ini merupakan penghinaan serius terhadap kedaulatan dan menetapkan preseden yang sangat berbahaya bagi seluruh komunitas internasional.

Dalih “Penegakan Hukum”, Bukan Perang

Di tengah hujan kritik, Duta Besar AS Mike Waltz berdiri membela tindakan negaranya. Ia menolak label “tindakan perang”. Sebaliknya, Waltz membingkai operasi tersebut sebagai “tindakan penegakan hukum” yang sah untuk mengeksekusi dakwaan pidana lama terhadap pemimpin yang ia sebut “tidak sah”.

Baca Juga :  Trump Perintahkan Pengepungan Minyak Venezuela, Maduro Siap Melawan

“Kami tidak menduduki sebuah negara; ini adalah operasi penegakan hukum,” kilah Waltz. Ia bahkan menggunakan penangkapan mantan pemimpin Panama Manuel Noriega pada 1989 sebagai preseden pembenar.

Waltz juga mengutip Pasal 51 Piagam PBB tentang hak membela diri. Ia mengklaim bahwa Presiden Trump telah memberi kesempatan diplomasi berkali-kali, namun Maduro menolaknya.

Rusia dan China: AS Bukan “Polisi Dunia”

Namun, argumen tersebut tidak laku di mata rival geopolitik AS. Rusia dan China menggunakan panggung ini untuk menyerang balik hegemoni Washington. Duta Besar Rusia, Vasily Nebenzya, menyebut intervensi ini sebagai kemunduran ke “era tanpa hukum”.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami tidak bisa membiarkan Amerika Serikat memproklamirkan diri sebagai semacam hakim agung, yang sendirian memiliki hak untuk menyerang negara mana pun,” ujar Nebenzya pedas.

Senada dengan Moskow, perwakilan China, Fu Cong, menuduh AS telah “dengan ceroboh menginjak-injak kedaulatan Venezuela”. Ia menegaskan prinsip kesetaraan berdaulat: “Tidak ada negara yang bisa bertindak sebagai polisi dunia.”

Baca Juga :  Qatar dan Mesir Desak Penarikan Israel: Pasukan Internasional Jadi Kunci, Hamas Siap Lucuti Senjata?

Kekhawatiran Sekjen PBB dan Tetangga Venezuela

Sekretaris Jenderal PBB AntĂłnio Guterres turut menyuarakan peringatan keras. Kepala urusan politik Rosemary DiCarlo membacakan pernyataan Guterres yang berisi kekhawatiran bahwa penangkapan ini akan mengintensifkan ketidakstabilan di kawasan.

Sementara itu, Kolombia memberikan teguran yang terukur namun tajam. Duta Besar Leonor Zalabata Torres menekankan bahwa kekerasan tidak dapat menegakkan demokrasi. “Tidak ada pembenaran apa pun, dalam keadaan apa pun, untuk penggunaan kekuatan sepihak,” tegasnya.

Duta Besar Venezuela Samuel Moncada menutup sesi dengan tuduhan emosional. Ia menyebut negaranya menjadi korban semata-mata karena kekayaan sumber daya alamnya. “Tidak ada negara yang bisa menempatkan dirinya sebagai hakim, jaksa, dan eksekutor tatanan dunia,” ujarnya.

Meskipun kecaman menggema, Dewan Keamanan tampaknya lumpuh. Perpecahan di antara anggota tetap memastikan bahwa veto Washington pasti akan mengandaskan resolusi apa pun untuk menghukum AS.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Sumber Berita: The Guardian

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kapolri Hadiri Retret KOKAM Muhammadiyah, Tegaskan Sinergi Jaga Kamtibmas
Wang Yi dan Viktor Orban Pertegas Kemitraan Jangka Panjang
Pesawat Smart Air Ditembaki KKB di Boven Digoel, 2 Pilot Gugur dan 39 Warga Mengungsi
Guru SD di Jember Diduga Telanjangi 22 Murid karena Uang Rp75 Ribu Hilang
Ojol Dipukuli di Citayam Depok Gara-Gara Klakson, Wajah Korban Bonyok
Rem Diduga Blong, Bus Hantam Gate Tol Waru Utama, 16 Luka
Pramono Anung Larang Gadai KJP Jelang Ramadan, Disdik DKI Perketat Pengawasan
Satpol PP Sisir 6 Kecamatan, 65 PKL Diimbau – Parkir Liar Disikat

Berita Terkait

Kamis, 12 Februari 2026 - 16:15 WIB

Kapolri Hadiri Retret KOKAM Muhammadiyah, Tegaskan Sinergi Jaga Kamtibmas

Kamis, 12 Februari 2026 - 15:58 WIB

Wang Yi dan Viktor Orban Pertegas Kemitraan Jangka Panjang

Kamis, 12 Februari 2026 - 15:53 WIB

Pesawat Smart Air Ditembaki KKB di Boven Digoel, 2 Pilot Gugur dan 39 Warga Mengungsi

Kamis, 12 Februari 2026 - 14:12 WIB

Guru SD di Jember Diduga Telanjangi 22 Murid karena Uang Rp75 Ribu Hilang

Kamis, 12 Februari 2026 - 13:57 WIB

Ojol Dipukuli di Citayam Depok Gara-Gara Klakson, Wajah Korban Bonyok

Berita Terbaru

Persahabatan di tengah ketidakpastian global. Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi menemui PM Viktor Orban di Budapest guna memperdalam kerja sama ekonomi dan memperkuat peran Hongaria sebagai jembatan Tiongkok-Eropa. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Wang Yi dan Viktor Orban Pertegas Kemitraan Jangka Panjang

Kamis, 12 Feb 2026 - 15:58 WIB