Qatar dan Mesir Desak Penarikan Israel: Pasukan Internasional Jadi Kunci, Hamas Siap Lucuti Senjata?

Minggu, 7 Desember 2025 - 14:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Fase kritis Gaza! Qatar dan Mesir serukan penarikan total Israel dan pengerahan pasukan internasional. Hamas tawarkan pelucutan senjata dengan syarat berat. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Fase kritis Gaza! Qatar dan Mesir serukan penarikan total Israel dan pengerahan pasukan internasional. Hamas tawarkan pelucutan senjata dengan syarat berat. Dok: Istimewa.

DOHA, POSNEWS.CO.ID – Masa depan Gaza kini berada di titik nadir yang menentukan. Dua negara penjamin gencatan senjata, Qatar dan Mesir, mengeluarkan seruan mendesak pada Sabtu (07/12/2025).

Mereka menuntut penarikan mundur pasukan Israel sepenuhnya dari Jalur Gaza. Selain itu, mereka mendesak pengerahan pasukan stabilisasi internasional sebagai langkah wajib berikutnya.

Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani, menegaskan posisi tersebut di Forum Doha. “Gencatan senjata tidak akan tuntas kecuali ada penarikan penuh pasukan Israel dan stabilitas kembali ke Gaza,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saat ini, perjanjian damai yang didukung AS dan PBB memang telah menghentikan sebagian besar pertempuran. Namun, implementasi fase kedua masih macet total karena ketidaksepakatan teknis.

Hamas: Senjata Kami untuk Melawan Pendudukan

Isu pelucutan senjata Hamas menjadi salah satu batu sandungan terbesar. Rencana awal AS menuntut Hamas menyerahkan senjata agar anggotanya bisa meninggalkan Gaza. Tentu saja, kelompok militan itu menolak mentah-mentah.

Baca Juga :  Pemerintah Yaman Serbu Separatis Selatan di Hadramout

Akan tetapi, nada bicara Hamas mulai berubah di Doha. Kepala negosiator Hamas, Khalil al-Hayya, menawarkan opsi mengejutkan. Ia menyatakan siap menyerahkan senjata kepada otoritas Palestina (PA).

Syaratnya satu dan mutlak: pendudukan militer Israel harus berakhir.

“Senjata kami terkait dengan keberadaan pendudukan dan agresi. Jika pendudukan berakhir, senjata-senjata ini akan ditempatkan di bawah otoritas negara,” janji Al-Hayya.

Pasukan Internasional di “Garis Kuning”

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty menyoroti urgensi pasukan internasional. Ia menilai pasukan ini harus segera turun ke lapangan, terutama di sepanjang “Garis Kuning” (Yellow Line).

Pasalnya, Israel dituduh melakukan pelanggaran gencatan senjata setiap hari di zona tersebut. Insiden penembakan warga sipil oleh pasukan Israel sering terjadi di perbatasan imajiner ini.

“Kita perlu mengerahkan pasukan ini secepat mungkin karena satu pihak, yaitu Israel, setiap hari melanggar gencatan senjata,” tegas Abdelatty.

Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, mendukung ide tersebut. Menurutnya, tujuan utama pasukan internasional haruslah memisahkan warga Palestina dari tentara Israel. Turki bahkan menyatakan minat untuk bergabung dalam pasukan stabilisasi tersebut.

Baca Juga :  Trump Sebut Sanae Takaichi Pendukung Setianya

Sengketa Pintu Rafah

Ketegangan juga terjadi terkait pintu perbatasan Rafah. Rencana perdamaian mengamanatkan pembukaan kembali jalur vital ini untuk bantuan.

Namun, Israel hanya mengizinkan pembukaan satu arah, khusus bagi warga yang ingin keluar ke Mesir. Mesir langsung menolak keras usulan tersebut. Mereka bersikeras perbatasan harus buka dua arah.

“Rafah tidak akan menjadi gerbang pengusiran (displacement), melainkan hanya titik masuk bantuan,” kata Abdelatty.

Negara-negara Muslim lain turut mengecam. Mereka melihat langkah Israel sebagai upaya pengusiran paksa rakyat Palestina dari tanah air mereka sendiri.

Kini, bola panas kembali ke tangan Amerika Serikat. Turki mendesak Washington untuk menekan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Jika tidak, risiko kegagalan rencana damai ini sangat besar dan pertumpahan darah di Gaza bisa meledak kembali kapan saja

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Inisiatif Label Karya Manusia Pada Buku Bebas AI Semakin Marak
Jepang Menegaskan Dukungan Mahkamah Pidana Internasional
Polisi India Menangkap 2.000 Pengunjuk Rasa Gerakan Pemuda
Serangan Rudal Rusia Menewaskan 20 Warga Zaporizhzhia
Kelompok Houthi Menyerang Bandara Internasional Riyadh
Donald Trump Kecam Komite Nobel dan Norwegia
Gencatan Senjata Gaza: Serangan Israel Masih Berlangsung
Presiden Taiwan Lai Ching-te Tegaskan Komitmen Perdamaian

Berita Terkait

Minggu, 11 Oktober 2026 - 15:23 WIB

Inisiatif Label Karya Manusia Pada Buku Bebas AI Semakin Marak

Minggu, 11 Oktober 2026 - 14:21 WIB

Jepang Menegaskan Dukungan Mahkamah Pidana Internasional

Minggu, 11 Oktober 2026 - 09:34 WIB

Polisi India Menangkap 2.000 Pengunjuk Rasa Gerakan Pemuda

Minggu, 11 Oktober 2026 - 09:00 WIB

Serangan Rudal Rusia Menewaskan 20 Warga Zaporizhzhia

Minggu, 11 Oktober 2026 - 08:30 WIB

Kelompok Houthi Menyerang Bandara Internasional Riyadh

Berita Terbaru