SURABAYA, POSNEWS.CO.ID – Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, mengambil sikap tegas. Rencana relokasi Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian ke lokasi baru di Tambak Osowilangun tetap akan berjalan sesuai jadwal. Ia tidak goyah meskipun gelombang protes dari para jagal dan pedagang daging terus mengalir dalam beberapa hari terakhir.
Keputusan ini mendapat dukungan politik yang kuat. Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surabaya secara terbuka menyatakan dukungan penuh terhadap operasional fasilitas baru tersebut. Para legislator menilai langkah ini strategis untuk meningkatkan kinerja perusahaan daerah sekaligus pelayanan publik.
Ketua Komisi B DPRD Surabaya, Muhammad Faridz Afif, turun langsung mendoakan kelancaran operasional di lokasi baru.
“Kami berharap dengan memiliki tempat baru ini, RPH bisa lebih baik. Perusahaan bisa cepat menata manajemen dan melayani masyarakat Kota Surabaya dengan lebih maksimal,” ujar Faridz Afif. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mendukung transformasi ini agar RPH bisa berkontribusi lebih besar bagi pendapatan kota.
Mengejar Standar “ASUH”
Sekretaris Komisi B DPRD Surabaya, Ghofar Ismail, menambahkan perspektif tata kota. Menurutnya, pemindahan operasional ke Tambak Osowilangun adalah langkah vital dalam puzzle pembangunan Surabaya yang lebih luas.
“Meskipun terdapat polemik, kami terus mendorong RPH untuk melanjutkan program-program yang sudah disepakati,” tegas Ghofar.
Ia menekankan bahwa tujuan utama relokasi bukan sekadar memindah tempat, melainkan menjamin kualitas. Fasilitas baru menjamin seluruh proses penyembelihan memenuhi prinsip ASUH: Aman, Sehat, Utuh, dan Halal. Ini adalah komitmen RPH Kota Surabaya yang sulit tercapai di fasilitas lama yang sudah padat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ghofar juga berharap manajemen RPH terus membuka ruang komunikasi dengan para mitra jagal agar suasana tetap rukun dan guyub di tengah transisi ini.
Pedagang Putar Otak Cari Stok
Di lapangan, dampak perselisihan ini mulai terasa, meski tidak sampai melumpuhkan pasar. Aksi demo dan mogok kerja para jagal RPH Pegirian sedikit banyak mengganggu rantai pasok daging sapi di Surabaya.
Di Pasar Tambahrejo, misalnya, stok daging masih tersedia, namun pedagang harus memutar otak mencari sumber alternatif.
Umik (71), salah satu pedagang senior, mengungkapkan bahwa biasanya ia mengambil 1 kuintal daging setiap hari dari RPH Pegirian. Namun, aksi mogok memaksanya mencari suplier lain.
“Kalau menunggu dari RPH Surabaya saya tidak jual-jual. Jadi sekarang saya belinya di Krian, Kedurus, atau dari Madura. Pokoknya ada di mana, saya ambil,” ujar Umik, Rabu (14/1/2026).
Meski sumber pasokan berubah, harga daging sapi di lapaknya masih relatif stabil di angka Rp 120 ribu per kilogram. Strategi diversifikasi pasokan yang dilakukan pedagang seperti Umik terbukti ampuh menjaga ketersediaan daging bagi warga Surabaya di tengah polemik relokasi.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















