Eropa Tolak Seruan Donald Trump untuk Koalisi Militer di Selat Hormuz

Rabu, 18 Maret 2026 - 19:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

AS kembali menyerang Iran, menewaskan empat orang dalam serangan yang mengenai pesta pernikahan, sementara Trump ancam balasan lebih besar dan harga minyak dunia melonjak. Dok: Istimewa.

AS kembali menyerang Iran, menewaskan empat orang dalam serangan yang mengenai pesta pernikahan, sementara Trump ancam balasan lebih besar dan harga minyak dunia melonjak. Dok: Istimewa.

BRUSSEL, POSNEWS.CO.ID – Upaya Presiden Donald Trump untuk membangun koalisi maritim internasional di Selat Hormuz menghadapi penolakan luas dari sekutu-sekutu di Eropa. Sebagian besar pemimpin negara Eropa menegaskan bahwa mereka tidak akan mengirimkan kekuatan militer untuk mendukung operasi Amerika Serikat terhadap Iran.

Trump sebelumnya menuntut agar negara-negara pengguna jalur energi tersebut melindungi teritori dan pasokan energi mereka sendiri. Ia mengharapkan pengiriman kapal perang secara masif untuk mengawal pelayaran komersial. Namun, realitas diplomatik menunjukkan arah yang sangat berbeda.

Uni Eropa dan Jerman: “Ini Bukan Perang Kami”

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyatakan bahwa tidak ada negara yang siap mempertaruhkan nyawa rakyatnya di Selat Hormuz. Uni Eropa lebih memilih cara-cara diplomatik untuk mencegah krisis pangan dan energi global. Kallas menegaskan bahwa menteri luar negeri Uni Eropa tidak memiliki niat untuk memperluas mandat misi angkatan laut mereka.

Penolakan lebih keras datang dari Jerman. Menteri Pertahanan Boris Pistorius mempertanyakan efektivitas pengiriman kapal fregat Eropa jika angkatan laut AS yang perkasa saja menemui jalan buntu. “Ini bukan perang kami. Kami tidak memulainya dan tidak ada konsultasi sebelumnya,” tegas Pistorius. Kanselir Friedrich Merz juga menutup peluang aktivitas militer Jerman di kawasan tersebut.

Sikap Inggris, Prancis, dan Spanyol

Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menegaskan bahwa dirinya tidak ingin terseret ke dalam perang Iran yang lebih luas. Ia menekankan bahwa rencana pembukaan Selat Hormuz bukanlah misi NATO. Sementara itu, Prancis melalui Presiden Emmanuel Macron menyebut pengerahan militer mereka di Mediterania Timur murni bersifat defensif dan bertujuan untuk perlindungan, bukan serangan.

Spanyol mengambil posisi yang paling tegas dengan menyebut serangan AS-Israel terhadap Iran sebagai tindakan ilegal. Menteri Pertahanan Margarita Robles menyatakan Spanyol tidak akan pernah menerima tindakan militer sebagai solusi. Menurutnya, tujuan utama dunia haruslah mengakhiri perang sekarang juga untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.

Keraguan Nordik dan Sikap Terbuka yang Terbatas

Negara-negara Nordik seperti Norwegia juga menolak tawaran Trump. Perdana Menteri Jonas Gahr Store menilai rencana perang saat ini sangat tidak jelas. Ia memperingatkan bahwa perang jarang berjalan sesuai naskah. Di sisi lain, Denmark dan Belanda menunjukkan sikap yang sedikit lebih terbuka.

Baca Juga :  Hujan Deras Picu Gerakan Tanah di Sukabumi, 114 Rumah Rusak - 475 Warga Terdampak

Menteri Luar Negeri Denmark, Lars Lokke Rasmussen, menyadari kepentingan negaranya sebagai bangsa pelaut besar. Namun, Belanda melalui Perdana Menteri Rob Jetten menyebutkan bahwa tingkat serangan di Selat Hormuz saat ini membuat misi perlindungan sangat sulit terlaksana dalam waktu dekat.

Polandia dan Yunani Fokus pada Keamanan Regional

Polandia secara resmi menyatakan tidak memiliki rencana ekspedisi militer ke Iran. Perdana Menteri Donald Tusk menegaskan bahwa konflik ini tidak berdampak langsung pada keamanan nasional Polandia. Di sisi lain, Yunani menolak ide perjanjian navigasi individu dan mendesak solusi permanen di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Penolakan massal ini menunjukkan perpecahan tajam dalam tatanan keamanan transatlantik di tahun 2026. Saat Washington mendesak kekuatan fisik, Eropa justru bersatu dalam keraguan terhadap strategi militer Trump. Dunia kini menanti apakah tekanan ekonomi akibat terhentinya pasokan energi akan mampu meruntuhkan pendirian para pemimpin Eropa ini.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pentagon Tuduh Jenderal Brett Sylvia Bocorkan Rahasia Negara
Hakim Federal Tolak Permintaan Pemerintahan Trump Soal Suara
Menhan AS Pete Hegseth Pecat Perencana Militer Utama
Biaya Perang Iran Melonjak Hingga 47,1 Miliar Dolar AS
Tabrakan Kereta Cepat di Toledo Spanyol Menewaskan 68 Orang
Jepang dan Jerman Sepakat Perkuat Kerja Sama Mineral Kritis
Perayaan Meriah Festival Sembilan Dewa Kaisar
Fenomena Fesyen Gothic Lolita Jepang Kembali Memikat Hati

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 09:44 WIB

Pentagon Tuduh Jenderal Brett Sylvia Bocorkan Rahasia Negara

Jumat, 30 Oktober 2026 - 12:42 WIB

Hakim Federal Tolak Permintaan Pemerintahan Trump Soal Suara

Jumat, 30 Oktober 2026 - 11:39 WIB

Menhan AS Pete Hegseth Pecat Perencana Militer Utama

Jumat, 30 Oktober 2026 - 09:42 WIB

Biaya Perang Iran Melonjak Hingga 47,1 Miliar Dolar AS

Jumat, 30 Oktober 2026 - 08:40 WIB

Tabrakan Kereta Cepat di Toledo Spanyol Menewaskan 68 Orang

Berita Terbaru

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
(Posnews/Kominfo)

JABODETABEK

Pramono Datangi 44 Kecamatan, Tak Mau Hanya Terima Laporan

Senin, 2 Nov 2026 - 19:12 WIB