Mengenal Multiple Sclerosis, Penyakit yang Membingungkan Medis

Rabu, 28 Januari 2026 - 10:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tampak sehat dari luar, namun berjuang melawan

Tampak sehat dari luar, namun berjuang melawan "korsleting" saraf di dalam. Inilah realitas penderita Multiple Sclerosis, penyakit yang lebih sering menyerang wanita muda dan penduduk wilayah dingin. Dok: Unsplash.

JAKARTA/NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Tubuh manusia adalah mesin adaptasi yang luar biasa. Sering kali, seseorang bisa terlihat bugar dan tersenyum, padahal di dalam tubuhnya sedang terjadi perang saudara yang brutal. Inilah paradoks Multiple Sclerosis (MS).

MS adalah penyakit autoimun di mana sistem kekebalan tubuh pasien keliru mengenali kawan sebagai lawan. Imun menyerang sistem saraf pusat, mengganggu transmisi sinyal listrik vital antara otak dan tubuh.

Meskipun kerusakan sedang terjadi, kemampuan adaptasi tubuh sering kali menutupi gejala awal. Akibatnya, pasien bisa terlihat baik-baik saja secara fisik, meskipun penyakit tersebut sudah bersarang.

Dua Wajah MS: Kambuh vs Progresif

Penyakit ini memiliki dua varian utama yang membedakan perjalanan hidup pasiennya.

Sebagian besar pasien (80-90%) terdiagnosis dengan Bentuk Relapsing (Kambuh-Pereda). Penyakit ini berkembang dalam serangkaian lompatan. Ada masa remisi di mana fungsi normal kembali pulih, disusul oleh relaps atau kambuh di mana penyakit kembali aktif menyerang. Siklus ini bisa berlangsung bertahun-tahun sebelum akhirnya remisi menjadi makin jarang.

Varian kedua yang lebih serius adalah Bentuk Progresif Primer. Kondisi ini dialami sekitar 10-15% penderita saat diagnosis awal. Tidak ada masa jeda atau remisi di sini; yang terjadi adalah penurunan fungsi fisik dan kognitif yang stabil dan terus-menerus.

Baca Juga :  Temukan 62 Kasus Super Flu, Data Laboratorium Disorot - Kemenkes Minta Waspada

Misteri Geografis: Jauh dari Khatulistiwa

Penyebab pasti MS masih menjadi teka-teki medis. Namun, peneliti menemukan pola geografis yang mencolok.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penyakit ini tidak menyerang secara merata di seluruh dunia. MS jauh lebih umum terjadi pada orang Kaukasia, terutama di Amerika Utara, Eropa, dan Australia.

Fakta uniknya: semakin jauh sebuah negara dari garis khatulistiwa, semakin tinggi kasus MS yang ditemukan. Negara-negara utara dengan iklim sedang memiliki insiden yang jauh lebih tinggi daripada negara-negara selatan yang hangat. Hal ini memicu dugaan kuat adanya faktor lingkungan—mungkin terkait paparan sinar matahari atau Vitamin D—yang berinteraksi dengan kerentanan genetik.

Biasanya, penyakit ini mulai menyerang orang dewasa muda antara usia 20 hingga 40 tahun, dan statistik menunjukkan wanita lebih rentan terkena daripada pria.

Korsleting Saraf

Apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh? Tiga hal abnormal terjadi pada pasien MS:

  1. Muncul bercak peradangan kecil di otak atau sumsum tulang belakang.
  2. Lapisan pelindung di sekitar serabut saraf (myelin) mulai rusak.
  3. Serabut saraf (axon) itu sendiri hancur.
Baca Juga :  Black Death: Wabah Tikus Mengakhiri Feodalisme dan Melahirkan Kelas Menengah

Kerusakan ini mirip kabel listrik yang terkelupas. Sinyal tidak sampai dengan benar. Akibatnya, gejala yang muncul sangat beragam, mulai dari pandangan kabur akibat radang saraf optik, hilangnya kekuatan otot lengan dan kaki, hingga gangguan keseimbangan yang bisa memaksa penderita menggunakan kursi roda.

Bahkan, indra perasa bisa kacau. Penderita mungkin tidak bisa merasakan panas atau dingin, atau sebaliknya, merasakan suhu secara terbalik.

Harapan Hidup dan Penanganan

Diagnosis biasanya dikonfirmasi melalui pemindaian MRI yang bisa melihat “cacat” atau lesi di otak.

Meskipun MS adalah penyakit seumur hidup dan belum ada obat penyembuhnya, ini bukan vonis mati. Dengan standar perawatan yang wajar, harapan hidup pasien sering kali hampir sama dengan orang sehat.

Kunci utamanya adalah kecepatan. Diagnosis dini memungkinkan dokter memulai perawatan untuk mengurangi frekuensi kekambuhan dan memperlambat laju kerusakan saraf.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Banjir 2 Meter Kepung Kebon Pala, Ditpolairud Polda Metro Jaya Evakuasi Warga
Ke Mana Perginya Kanguru 3 Meter dan Kadal Sebesar Gajah?
Pengacara Pastikan Yaqut Cholil Qoumas Hadiri Pemeriksaan KPK Hari Ini
Rumah Mewah di Jaksel Terbakar, Lansia 60 Tahun Tewas Terjebak Api
Migran Bayar Mahal Demi Kecap dari Kampung Halaman?
Perlombaan Baru Miliarder Menuju Nol Gravitasi dan Koloni Mars
Kasus Kuota Haji Memanas, KPK Panggil Eks Menag Yaqut Hari Ini
Pembicaraan Teknis Greenland dengan AS Dimulai, Tensi Mereda

Berita Terkait

Jumat, 30 Januari 2026 - 14:04 WIB

Banjir 2 Meter Kepung Kebon Pala, Ditpolairud Polda Metro Jaya Evakuasi Warga

Jumat, 30 Januari 2026 - 13:17 WIB

Ke Mana Perginya Kanguru 3 Meter dan Kadal Sebesar Gajah?

Jumat, 30 Januari 2026 - 12:58 WIB

Pengacara Pastikan Yaqut Cholil Qoumas Hadiri Pemeriksaan KPK Hari Ini

Jumat, 30 Januari 2026 - 12:34 WIB

Rumah Mewah di Jaksel Terbakar, Lansia 60 Tahun Tewas Terjebak Api

Jumat, 30 Januari 2026 - 12:11 WIB

Migran Bayar Mahal Demi Kecap dari Kampung Halaman?

Berita Terbaru

Ilustrasi, Australia pernah menjadi

INTERNASIONAL

Ke Mana Perginya Kanguru 3 Meter dan Kadal Sebesar Gajah?

Jumat, 30 Jan 2026 - 13:17 WIB

Ilustrasi, Riset membuktikan: loyalitas pada merek masa kecil bertahan hingga 50 tahun. Migran di AS dan India lebih memilih produk mahal dari daerah asal daripada alternatif lokal yang murah. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Migran Bayar Mahal Demi Kecap dari Kampung Halaman?

Jumat, 30 Jan 2026 - 12:11 WIB