Migran Bayar Mahal Demi Kecap dari Kampung Halaman?

Jumat, 30 Januari 2026 - 12:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Ribuan pengungsi sekutu AS di Qatar menolak rencana pemindahan ke zona perang Republik Demokratik Kongo dan menganggap tawaran pulang dari Taliban sebagai hukuman mati yang terselubung pada April 2026. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Ribuan pengungsi sekutu AS di Qatar menolak rencana pemindahan ke zona perang Republik Demokratik Kongo dan menganggap tawaran pulang dari Taliban sebagai hukuman mati yang terselubung pada April 2026. Dok: Istimewa.

NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Berjalan-jalan di lorong supermarket di Sydney, Australia, seperti berkeliling dunia dalam sekejap. Teh Rooibos dari Afrika Selatan, saus Rogan Josh dari India, bir Tsingtao China, hingga cokelat Mars Bar untuk warga Inggris yang rindu rumah, semuanya tersedia.

Keragaman ini bukan kebetulan. Ini adalah hasil dari pergerakan populasi—sekitar 40% penduduk Australia adalah generasi pertama—dan efisiensi perdagangan global.

Namun, di balik melimpahnya pilihan produk asing, tersimpan fenomena psikologis dan ekonomi yang menarik: loyalitas merek (brand loyalty). Mengapa seseorang memilih satu merek kecap dibanding yang lain? Jawabannya ternyata bukan sekadar iklan atau harga, melainkan kenangan masa lalu.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dua peneliti Amerika, Bart Bronnenberg dan David Atkin, menemukan fakta mengejutkan. Loyalitas merek tidak hanya ditentukan oleh kualitas, tetapi oleh apa yang seseorang konsumsi di masa kecilnya.

Baca Juga :  Polisi Observasi Kejiwaan Pelaku Pembunuhan Ibu Kandung di Pekalongan

Migran dan Jejak Rasa 20 Tahun

Studi Bronnenberg di Amerika Serikat antara 2006 dan 2008 menganalisis data belanja 38.000 keluarga. Hasilnya menunjukkan bahwa migran antar-negara bagian (interstate migrants) membawa selera kampung halaman mereka ke tempat baru.

Yang mencengangkan adalah daya tahannya. Migran butuh waktu dua dekade (20 tahun) agar loyalitas merek mereka berkurang separuhnya. Bahkan, orang yang sudah pindah 50 tahun lalu masih mempertahankan preferensi terhadap merek dari negara bagian asal mereka.

Tampaknya, kebiasaan membeli makanan berubah jauh lebih lambat daripada yang kita duga.

India: Rela Lapar Demi Rasa Familier

Temuan Atkin di India bahkan lebih dramatis. India adalah negara dengan banyak negara bagian yang menerapkan tarif pajak antar-wilayah, membuat produk “impor” dari negara bagian lain menjadi lebih mahal.

Selama periode survei Atkin, biaya bahan pokok di India meningkat tajam. Logika ekonomi menyarankan keluarga untuk berhemat dan membeli produk lokal yang lebih murah. Namun, data menunjukkan sebaliknya.

Migran internal di India tetap membeli makanan dari daerah asal mereka meskipun harganya jauh lebih mahal daripada alternatif lokal. Mereka bahkan rela mengurangi asupan kalori harian demi mempertahankan rasa yang familier di lidah. Ini membuktikan bahwa loyalitas merek bisa mengalahkan rasionalitas harga.

Baca Juga :  Perang Iran Lumpuhkan Penerbangan Global dan Picu Rekor Harga Avtur

Target Baru: Anak-Anak

Temuan ini memiliki sisi gelap. Jika loyalitas merek terbentuk di masa kanak-kanak dan bertahan seumur hidup, maka perusahaan memiliki insentif besar untuk menargetkan iklan kepada anak di bawah umur.

Di dunia yang sudah penuh dengan gempuran informasi media, orang tua mungkin tidak menyambut baik gelombang iklan baru yang menyasar anak-anak mereka.

Bagi supermarket, implikasinya jelas. Mereka tidak bisa hanya mengandalkan perang harga. Menghitung demografi lingkungan secara cermat adalah kunci.

Jika sebuah lingkungan didominasi oleh warga Vietnam atau warga Amerika dari selatan, maka rak toko harus mencerminkan hal itu. Karena bagi perantau, menemukan sekaleng makanan dari kampung halaman bukan sekadar belanja—itu adalah obat rindu yang tak ternilai harganya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penembakan Massal di In-N-Out Idaho: Pelaku Tewas
Interpol Terbitkan Red Notice untuk Syekh Ahmad Al Misry, Polisi Sebut Masih di Mesir
Dua Helikopter Pemadam Tabrakan di Yunani
Israel Gempur Gaza 2 Hari Berturut-turut, 18 Warga Tewas
Bom Bunuh Diri Guncang Unjuk Rasa Anti-Militan di Pakistan
Trump Tunda Serangan Militer dan Buka Perundingan dengan Iran
Plt Jaksa Agung AS Batalkan Dana Ganti Rugi Trump Rp29 Triliun
Zelenskyy Desak Trump Izinkan Akses Panduan Rudal

Berita Terkait

Selasa, 4 Agustus 2026 - 11:49 WIB

Penembakan Massal di In-N-Out Idaho: Pelaku Tewas

Selasa, 4 Agustus 2026 - 11:07 WIB

Interpol Terbitkan Red Notice untuk Syekh Ahmad Al Misry, Polisi Sebut Masih di Mesir

Selasa, 4 Agustus 2026 - 09:18 WIB

Dua Helikopter Pemadam Tabrakan di Yunani

Selasa, 4 Agustus 2026 - 07:34 WIB

Bom Bunuh Diri Guncang Unjuk Rasa Anti-Militan di Pakistan

Selasa, 4 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Trump Tunda Serangan Militer dan Buka Perundingan dengan Iran

Berita Terbaru

Kepolisian Twin Falls mengonfirmasi insiden penembakan di restoran In-N-Out Burger, Idaho. Akibatnya, tiga orang tewas dan tujuh warga mengalami luka-luka. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Penembakan Massal di In-N-Out Idaho: Pelaku Tewas

Selasa, 4 Agu 2026 - 11:49 WIB

Tom Holland mengonfirmasi pengetahuan tentang jadwal debut Miles Morales di MCU saat mempromosikan film Spider-Man: Brand New Day yang mencetak rekor pendapatan box office. Dok: Istimewa.

ENTERTAINMENT

Tom Holland Tahu Jadwal Debut Miles Morales di MCU

Selasa, 4 Agu 2026 - 10:00 WIB

Tabrakan dua helikopter pemadam kebakaran di Yunani menewaskan dua kru di tengah krisis kebakaran hutan hebat dan gelombang panas ekstrem yang melanda berbagai negara Eropa. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Dua Helikopter Pemadam Tabrakan di Yunani

Selasa, 4 Agu 2026 - 09:18 WIB