WASHINGTON/ABU DHABI, POSNEWS.CO.ID – Upaya Amerika Serikat untuk menengahi akhir perang di Ukraina membentur tembok tebal bernama Donetsk. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, memberikan penilaian jujur namun suram pada hari Rabu (28/1).
Di hadapan Komite Hubungan Luar Negeri Senat, Rubio menggambarkan ketidaksepakatan mengenai wilayah Donetsk sebagai isu utama yang tersisa dan “sangat sulit” untuk diselesaikan.
“Itu masih sebuah jembatan yang harus kita seberangi. Itu masih sebuah kesenjangan,” aku Rubio. “Namun setidaknya kita mampu mempersempit masalah menjadi satu masalah utama, dan itu mungkin akan menjadi masalah yang sangat sulit.”
Harga Perdamaian: 5.000 Km Persegi
Inti masalahnya adalah tuntutan maksimalis Moskow. Presiden Vladimir Putin berulang kali menegaskan Rusia akan mengambil seluruh wilayah Donbas Ukraina—di mana pasukannya saat ini menguasai 90% area tersebut—dengan paksa, kecuali Kiev menyerahkannya dalam kesepakatan damai.
Secara spesifik, Putin menuntut Ukraina menyerahkan sisa 20 persen wilayah Donetsk yang masih mereka pertahankan, area seluas sekitar 5.000 km persegi. Putin mengklaim Donetsk sebagai bagian dari “tanah bersejarah” Rusia.
Di sisi lain, Kiev menolak keras. Ukraina menegaskan tidak akan menghadiahi Rusia wilayah yang gagal mereka menangkan di medan perang. Jajak pendapat pun menunjukkan minimnya keinginan rakyat Ukraina untuk melakukan konsesi teritorial.
Perubahan Delegasi: Kushner dan Witkoff Absen
Dinamika negosiasi juga mengalami pergeseran personel. Rubio mengisyaratkan kemungkinan adanya kehadiran AS dalam pembicaraan lanjutan di Abu Dhabi hari Minggu depan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, dua figur kunci dari lingkaran dalam Trump tidak akan hadir. Utusan utama Presiden Donald Trump, Steve Witkoff, dan menantunya, Jared Kushner, yang memimpin putaran sebelumnya, dipastikan tidak akan berpartisipasi kali ini.
Langkah ini menimbulkan pertanyaan mengenai strategi negosiasi Washington selanjutnya, mengingat pembicaraan akhir pekan lalu berakhir tanpa kesepakatan meski ada pertemuan tatap muka yang langka antara pejabat Rusia dan Ukraina.
Tekanan “Jaminan Keamanan”
Di balik layar, tekanan terhadap Kiev kian berat. Laporan Financial Times pada hari Selasa mengungkap ultimatum terselubung Washington. AS dikabarkan memberi tahu Ukraina bahwa mereka harus menandatangani kesepakatan damai dengan Rusia jika ingin mendapatkan jaminan keamanan AS.
Rubio mengonfirmasi hal ini secara tersirat. Ketika ditanya apakah jaminan keamanan untuk Ukraina telah disepakati, ia menjawab, “Saya pikir Anda bisa berargumen bahwa hal itu disetujui dari sisi persamaan kami… Dan tentu saja, jaminan keamanan apa pun akan berlaku setelah konflik berakhir.”
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
Sumber Berita: Reuters





















