Trump Ngotot Rebut Greenland, Pembicaraan Washington Berakhir Buntu

Kamis, 15 Januari 2026 - 08:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kontrak sosial di persimpangan jalan. Saat aspirasi rakyat akan perlindungan sosial meningkat, negara-negara di seluruh dunia kini bergelut menyeimbangkan keadilan distributif dengan realitas fiskal yang semakin mencekik. Dok: Istimewa.

Kontrak sosial di persimpangan jalan. Saat aspirasi rakyat akan perlindungan sosial meningkat, negara-negara di seluruh dunia kini bergelut menyeimbangkan keadilan distributif dengan realitas fiskal yang semakin mencekik. Dok: Istimewa.

WASHINGTON/BRUSSELS, POSNEWS.CO.ID – Ketegangan diplomatik di Atlantik Utara mencapai titik didih baru pada hari Rabu (14/1). Presiden Donald Trump menegaskan kembali bahwa Amerika Serikat “membutuhkan” Greenland. Ia bahkan secara terbuka meremehkan kemampuan Denmark untuk melindungi pulau tersebut.

Pernyataan provokatif ini muncul tepat setelah pertemuan berisiko tinggi antara pejabat AS, Denmark, dan Greenland berakhir tanpa solusi.

Para diplomat gagal menjembatani perbedaan mendasar mengenai masa depan politik pulau tersebut. Menteri Luar Negeri Denmark, Lars Løkke Rasmussen, menyatakan bahwa AS tetap berniat “menaklukkan” Greenland. Akibatnya, ketegangan antara Washington dan sekutu NATO-nya ini mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Kami tidak berhasil mengubah posisi Amerika. Jelas bahwa presiden memiliki keinginan untuk menaklukkan Greenland,” ujar Rasmussen. Ia menambahkan bahwa pihaknya telah menegaskan langkah tersebut tidak sejalan dengan kepentingan kerajaan.

Trump: Denmark Tak Berdaya Lawan China

Di Ruang Oval, Trump berbicara blak-blakan kepada wartawan. Ia menekankan pentingnya Greenland bagi keamanan nasional, termasuk untuk pembangunan sistem pertahanan rudal “Kubah Emas”.

“Masalahnya, tidak ada yang bisa Denmark lakukan jika Rusia atau China ingin menduduki Greenland, tetapi ada banyak hal yang bisa kami lakukan,” klaim Trump. Ia bahkan membandingkan situasi ini dengan intervensi AS di Venezuela minggu lalu.

Baca Juga :  Dunia Menggugat: Aksi AS di Venezuela Picu Kemarahan Global

Sebaliknya, Rasmussen menyebut penyitaan Greenland oleh AS sebagai tindakan yang “sama sekali tidak perlu”. Ia mendesak Washington untuk terlibat dalam kerja sama yang saling menghormati.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Eropa Siapkan Pasukan Multinasional

Eropa tidak tinggal diam melihat tekanan terhadap sekutunya. Kementerian Pertahanan Denmark mengumumkan sinyal dukungan yang kuat. Prancis, Jerman, dan Norwegia menyatakan kesiapan mereka untuk berkontribusi pasukan.

Negara-negara ini akan membentuk kekuatan multinasional di bawah pimpinan Denmark. Tujuannya adalah meningkatkan kehadiran militer di dalam dan sekitar Greenland, yang mencakup pesawat, kapal, dan tentara dari sekutu NATO.

Presiden Prancis Emmanuel Macron memberikan peringatan keras. Ia menyatakan bahwa jika kedaulatan negara UE terganggu, efek dominonya akan sangat besar.

“Prancis akan bertindak dalam solidaritas penuh dengan Denmark dan kedaulatannya,” tegas Macron.

Rakyat AS Tolak Opsi Militer

Meskipun retorika Trump sangat agresif, dukungan domestik ternyata minim. Sebuah jajak pendapat Reuters/Ipsos pada hari Rabu mengungkapkan fakta menarik. Hanya 17% orang Amerika yang menyetujui upaya Trump untuk mengambil alih Greenland.

Baca Juga :  Gudang BBM Ilegal Digerebek di Sumsel, 12 Pelaku Modus “Kencing di Jalan” Ditangkap

Lebih spesifik lagi, mayoritas besar dari Partai Demokrat maupun Republik menentang penggunaan kekuatan militer. Data menunjukkan hanya 4% responden yang menganggap kekuatan militer sebagai “ide yang baik”.

“Kami Memilih Denmark”

Di tengah badai geopolitik ini, suara dari Nuuk terdengar lantang. Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, menegaskan loyalitasnya dalam konferensi pers bersama.

“Jika kami harus memilih antara AS dan Denmark saat ini juga, kami memilih Denmark, NATO, dan UE,” tegas Nielsen.

Meskipun pembicaraan di Washington berakhir buntu setelah hampir satu jam, kedua belah pihak sepakat membentuk kelompok kerja. Tujuannya adalah membahas cara mengatasi kekhawatiran keamanan Amerika sambil tetap menghormati “garis merah” Kerajaan Denmark. Namun, dengan Trump yang bersikeras akan mengambil alih “dengan satu atau lain cara”, masa depan dialog ini masih penuh ketidakpastian.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Sumber Berita: The Guardian

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hujan Deras Bikin 12 RT di Petogogan Jakarta Selatan Terendam Banjir
Pria di Karawang Tewas di Atas Motor, Polisi Selidiki Dugaan Benang Layangan
LPG Subsidi Disuntik ke Tabung Non Subsidi, Negara Nyaris Rugi Rp6,7 Miliar
Protes Hari Buruh Filipina 2026: Ribuan Massa Kecam Krisis Energi
Penembakan Tokoh Suku Picu Kontak Senjata Berdarah, 3 Tewas
Mojtaba Khamenei Dinyatakan Sehat Walafiat
Serangan Drone Israel Tewaskan Warga di Tengah Rencana Negosiasi Trump
101 Orang Dipulangkan, Polisi Kejar Aktor Intelektual Aksi Anarkis

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 20:31 WIB

Hujan Deras Bikin 12 RT di Petogogan Jakarta Selatan Terendam Banjir

Sabtu, 2 Mei 2026 - 18:33 WIB

Pria di Karawang Tewas di Atas Motor, Polisi Selidiki Dugaan Benang Layangan

Sabtu, 2 Mei 2026 - 18:18 WIB

LPG Subsidi Disuntik ke Tabung Non Subsidi, Negara Nyaris Rugi Rp6,7 Miliar

Sabtu, 2 Mei 2026 - 17:13 WIB

Protes Hari Buruh Filipina 2026: Ribuan Massa Kecam Krisis Energi

Sabtu, 2 Mei 2026 - 15:07 WIB

Penembakan Tokoh Suku Picu Kontak Senjata Berdarah, 3 Tewas

Berita Terbaru

Ilustrasi, Eskalasi kekerasan di perbatasan. Pembunuhan seorang tetua suku yang anti-militan memicu baku tembak sengit antara komite perdamaian lokal dan kelompok bersenjata di wilayah Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Penembakan Tokoh Suku Picu Kontak Senjata Berdarah, 3 Tewas

Sabtu, 2 Mei 2026 - 15:07 WIB