BUDAPEST, POSNEWS.CO.ID β Sembilan tahun sebelum Tembok Berlin runtuh, Janos Vargha memulai karir barunya sebagai penulis di majalah alam Buvar. Saat itu, ia mengunjungi Danube Bend untuk mewawancarai pejabat lokal mengenai rencana pembangunan taman kecil.
Namun, seorang pejabat membisikkan rahasia besar. Lembaga negara yang sangat ditakuti, Water Management, berencana membangun bendungan hidroelektrik raksasa secara rahasia. Proyek ini akan menenggelamkan kawasan wisata populer di sepanjang kurva sungai yang indah tersebut.
Sensor Negara dan Lahirnya Perlawanan
Vargha segera menyelidiki rencana tersebut. Ia menemukan bahwa Bendungan Nagymaros akan mencemari air, menghancurkan cadangan air bawah tanah, dan merusak ekosistem sungai terpanjang di Eropa Tengah. Saat ia mencoba menerbitkan temuannya, direktur Water Management menghentikan mesin cetak. Artikel tersebut tidak pernah terbit.
“Saya frustrasi dan marah,” kenang Vargha. Ia menemukan bahwa proyek ini adalah kerja sama dengan Cekoslowakia dan Uni Soviet. Moskow menginginkan kapal besar mereka bisa melintasi Danube hingga ke perbatasan Austria. Vargha pun memutuskan untuk melangkah lebih jauh. Ia mendirikan “Danube Circle”, sebuah organisasi ilegal yang bertindak seolah-olah mereka hidup dalam demokrasi.
Mempertaruhkan Nyawa demi Sungai Danube
Danube Circle beroperasi secara sembunyi-sembunyi dan memproduksi pamflet ilegal. Dalam aksi pembangkangan yang luar biasa, mereka mengumpulkan 10.000 tanda tangan untuk menentang bendungan. Mereka juga menjalin hubungan dengan aktivis lingkungan di Barat.
Pada tahun 1985, Vargha memenangkan Right Livelihood Award, yang dikenal sebagai “Nobel Alternatif”. Pemerintah Hongaria melarangnya mengambil hadiah tersebut, namun ia mengabaikannya. Setahun kemudian, aksi protes mereka dihadapi dengan gas air mata dan pentungan oleh aparat. Vargha bahkan kehilangan pekerjaannya sebagai editor Scientific American versi Hongaria karena tekanan dari Politbiro.
Titik Lemah Komunisme Eropa Timur
Bendungan tersebut akhirnya menjadi fokus perlawanan terhadap rezim yang dibenci rakyat. Para pimpinan komunis terpecah. Kelompok reformis menyadari bahwa bendungan tersebut tidak ekonomis. Namun, kelompok garis keras tetap mempertahankan ide-ide Stalinis tentang bendungan besar sebagai simbol kemajuan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Isu lingkungan ternyata menjadi titik lemah komunisme Eropa Timur pada tahun-tahun terakhirnya. Gerakan serupa muncul di berbagai negara. Di Cekoslowakia, kelompok hak asasi manusia Charter 77 mulai mengangkat isu lingkungan. Di Bulgaria, kelompok Ecoglasnost mengadakan demonstrasi besar-besaran pada 1989. Proyek rekayasa air raksasa telah menjadi simbol kuat dari kegagalan rezim lama yang akhirnya tumbang oleh kehendak rakyat.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















