Bagaimana Isu Lingkungan Meruntuhkan Tirai Besi di Eropa Timur?

Selasa, 3 Februari 2026 - 16:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bukan sekadar air dan beton. Penolakan terhadap Bendungan Nagymaros di Sungai Danube menjadi simbol perlawanan rakyat Hongaria yang akhirnya mengguncang fondasi rezim komunis di Eropa Timur. Dok: Istimewa.

Bukan sekadar air dan beton. Penolakan terhadap Bendungan Nagymaros di Sungai Danube menjadi simbol perlawanan rakyat Hongaria yang akhirnya mengguncang fondasi rezim komunis di Eropa Timur. Dok: Istimewa.

BUDAPEST, POSNEWS.CO.ID – Sembilan tahun sebelum Tembok Berlin runtuh, Janos Vargha memulai karir barunya sebagai penulis di majalah alam Buvar. Saat itu, ia mengunjungi Danube Bend untuk mewawancarai pejabat lokal mengenai rencana pembangunan taman kecil.

Namun, seorang pejabat membisikkan rahasia besar. Lembaga negara yang sangat ditakuti, Water Management, berencana membangun bendungan hidroelektrik raksasa secara rahasia. Proyek ini akan menenggelamkan kawasan wisata populer di sepanjang kurva sungai yang indah tersebut.

Sensor Negara dan Lahirnya Perlawanan

Vargha segera menyelidiki rencana tersebut. Ia menemukan bahwa Bendungan Nagymaros akan mencemari air, menghancurkan cadangan air bawah tanah, dan merusak ekosistem sungai terpanjang di Eropa Tengah. Saat ia mencoba menerbitkan temuannya, direktur Water Management menghentikan mesin cetak. Artikel tersebut tidak pernah terbit.

“Saya frustrasi dan marah,” kenang Vargha. Ia menemukan bahwa proyek ini adalah kerja sama dengan Cekoslowakia dan Uni Soviet. Moskow menginginkan kapal besar mereka bisa melintasi Danube hingga ke perbatasan Austria. Vargha pun memutuskan untuk melangkah lebih jauh. Ia mendirikan “Danube Circle”, sebuah organisasi ilegal yang bertindak seolah-olah mereka hidup dalam demokrasi.

Baca Juga :  KUHP dan KUHAP Baru Resmi Berlaku, Komisi III DPR Sambut Haru Era Hukum Baru

Mempertaruhkan Nyawa demi Sungai Danube

Danube Circle beroperasi secara sembunyi-sembunyi dan memproduksi pamflet ilegal. Dalam aksi pembangkangan yang luar biasa, mereka mengumpulkan 10.000 tanda tangan untuk menentang bendungan. Mereka juga menjalin hubungan dengan aktivis lingkungan di Barat.

Pada tahun 1985, Vargha memenangkan Right Livelihood Award, yang dikenal sebagai “Nobel Alternatif”. Pemerintah Hongaria melarangnya mengambil hadiah tersebut, namun ia mengabaikannya. Setahun kemudian, aksi protes mereka dihadapi dengan gas air mata dan pentungan oleh aparat. Vargha bahkan kehilangan pekerjaannya sebagai editor Scientific American versi Hongaria karena tekanan dari Politbiro.

Baca Juga :  Kera Menuntut di Pengadilan? Perjuangan Radikal

Titik Lemah Komunisme Eropa Timur

Bendungan tersebut akhirnya menjadi fokus perlawanan terhadap rezim yang dibenci rakyat. Para pimpinan komunis terpecah. Kelompok reformis menyadari bahwa bendungan tersebut tidak ekonomis. Namun, kelompok garis keras tetap mempertahankan ide-ide Stalinis tentang bendungan besar sebagai simbol kemajuan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Isu lingkungan ternyata menjadi titik lemah komunisme Eropa Timur pada tahun-tahun terakhirnya. Gerakan serupa muncul di berbagai negara. Di Cekoslowakia, kelompok hak asasi manusia Charter 77 mulai mengangkat isu lingkungan. Di Bulgaria, kelompok Ecoglasnost mengadakan demonstrasi besar-besaran pada 1989. Proyek rekayasa air raksasa telah menjadi simbol kuat dari kegagalan rezim lama yang akhirnya tumbang oleh kehendak rakyat.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Membedah Realisme Geopolitik dalam Perebutan Arktik 2026
Polisi Gugur Saat Operasi Ketupat 2026, Diduga Kelelahan Ekstrem
Lonjakan Arus Balik 2026, Kedatangan Penumpang KAI Tembus 51 Ribu per Hari
Melindungi Plasma Nutfah dari Biopiracy Internasional di Tahun 2026
Arus Balik Lebaran 2026: Ribuan Motor Padati Pelabuhan Bakauheni, Antrean Mengular
Mendorong Ecocide ke Dalam Statuta Roma dan Memburu Korporasi Perusak Alam
Mengapa Keadilan Iklim Adalah Isu Etika Paling Krusial Tahun 2026?
Sekuritisasi Perubahan Iklim: Ketika Kerusakan Alam Menjadi Ancaman Militer

Berita Terkait

Senin, 23 Maret 2026 - 17:14 WIB

Membedah Realisme Geopolitik dalam Perebutan Arktik 2026

Senin, 23 Maret 2026 - 16:57 WIB

Polisi Gugur Saat Operasi Ketupat 2026, Diduga Kelelahan Ekstrem

Senin, 23 Maret 2026 - 16:30 WIB

Lonjakan Arus Balik 2026, Kedatangan Penumpang KAI Tembus 51 Ribu per Hari

Senin, 23 Maret 2026 - 16:21 WIB

Melindungi Plasma Nutfah dari Biopiracy Internasional di Tahun 2026

Senin, 23 Maret 2026 - 16:14 WIB

Arus Balik Lebaran 2026: Ribuan Motor Padati Pelabuhan Bakauheni, Antrean Mengular

Berita Terbaru

Ilustrasi, Perebutan garis depan terakhir. Mencairnya es di Kutub Utara membuka jalur perdagangan baru dan akses energi yang memicu persaingan militer antara Rusia, Amerika Serikat, dan Tiongkok. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Membedah Realisme Geopolitik dalam Perebutan Arktik 2026

Senin, 23 Mar 2026 - 17:14 WIB