KYIV, POSNEWS.CO.ID – Presiden Volodymyr Zelenskyy melontarkan tuduhan serius terhadap Rusia pada Selasa (3/2/2026). Ia menyebut Moskow sengaja melanggar kesepakatan dengan Presiden AS Donald Trump untuk menahan serangan selama puncak musim dingin.
Tuduhan ini muncul setelah pasukan Rusia melakukan serangan udara besar-besaran di Kyiv. Suhu di ibu kota Ukraina tersebut sedang merosot tajam hingga -20°C. Serangan ini melibatkan rekor 71 rudal balistik dan 450 drone yang menyasar jaringan listrik dan pemanas.
Perselisihan Soal Durasi Gencatan Senjata
Zelenskyy menyatakan bahwa Rusia melanggar janji yang Trump bingkai sebagai “permintaan pribadi” kepada Vladimir Putin. Pekan lalu, Trump mengklaim Putin setuju untuk berhenti menyerang Kyiv demi kemanusiaan karena cuaca ekstrem.
Namun, terdapat perbedaan persepsi mengenai durasi jeda tersebut. Kremlin mengumumkan gencatan senjata hanya berlangsung hingga hari Minggu. Di sisi lain, Ukraina meyakini jeda seharusnya berlanjut hingga Jumat pekan ini.
Donald Trump sendiri membela ketepatan janji Putin dari Gedung Putih. “Kesepakatannya adalah Minggu ke Minggu. Dia menepati janjinya soal itu, tapi kemudian dia menyerang dengan keras lagi,” ujar Trump kepada wartawan.
Teror Musim Dingin: Ribuan Tanpa Pemanas
Dampak serangan kali ini sangat fatal bagi warga sipil. Lebih dari 1.000 bangunan tempat tinggal di Kyiv kehilangan akses pemanas pada hari Selasa. Menteri Energi Ukraina, Denys Shmyhal, menyebut serangan ini sebagai tindakan “sengaja” untuk membiarkan ratusan ribu keluarga membeku.
Di Kharkiv, Wali Kota Ihor Terekhov melaporkan kerusakan serupa pada infrastruktur energi. Petugas terpaksa menguras air dari sistem radiator di 800 gedung agar pipa-pipa tersebut tidak pecah akibat membeku. Zelenskyy menuduh Rusia menggunakan jeda singkat pekan lalu hanya untuk menimbun senjata dan menunggu hari-hari terdingin di musim dingin ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sinyal Buruk Jelang Perundingan Abu Dhabi
Serangan besar ini terjadi tepat sebelum pembicaraan tiga arah antara Rusia, Ukraina, dan AS di Abu Dhabi. Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, menyebut serangan semalam sebagai “sinyal yang sangat buruk” dari pihak Moskow.
Rutte mempertanyakan keseriusan Rusia dalam berdiplomasi. “Zelenskyy sudah siap bermain adil dalam pembicaraan, tapi Rusia justru memilih teror,” tegasnya saat mengunjungi Kyiv. Ia juga memuji Trump sebagai satu-satunya sosok yang mampu menengahi solusi damai.
Laporan terbaru dari Financial Times menyebutkan adanya rencana multi-tahap untuk menegakkan gencatan senjata di masa depan. Rencana tersebut kabarnya mencakup tanggapan militer dari koalisi pendukung Ukraina jika Rusia melanggar gencatan senjata dalam waktu lebih dari 72 jam.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















