Putra Mahkota Terakhir Iran: Rezim Akan Runtuh

Sabtu, 17 Januari 2026 - 15:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Di tengah banjir darah di Teheran, Reza Pahlavi muncul di Washington. Ia memprediksi akhir Republik Islam dan mengklaim dukungan rahasia dari militer untuk memimpin transisi. Dok: Istimewa.

Di tengah banjir darah di Teheran, Reza Pahlavi muncul di Washington. Ia memprediksi akhir Republik Islam dan mengklaim dukungan rahasia dari militer untuk memimpin transisi. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Reza Pahlavi, putra mendiang monarki Iran yang pro-Barat, keluar dari bayang-bayang pengasingan. Ia melontarkan prediksi berani: rezim Islam yang menguasai negaranya akan segera runtuh.

Tidak hanya memprediksi, Pahlavi juga memosisikan dirinya sebagai sosok yang “secara unik” ditempatkan untuk memimpin pemerintahan penerus.

Pernyataan ini muncul setelah berminggu-minggu protes massal mengguncang Iran. Pasukan keamanan menumpas demonstrasi dengan brutal, meninggalkan ribuan mayat di jalanan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam konferensi pers di Washington pada hari Jumat (16/1), Pahlavi menyerukan tindakan tegas dari dunia internasional.

“Rakyat Iran mengambil tindakan tegas di lapangan, sekarang saatnya bagi komunitas internasional untuk bergabung dengan mereka sepenuhnya,” ujarnya kepada wartawan.

Bukan Invasi Darat, Tapi “Intervensi Tertarget”

Pahlavi menyadari sensitivitas isu kedaulatan. Ia menegaskan bahwa keterlibatan asing tidak memerlukan “sepatu bot di tanah” (pasukan darat).

Sebaliknya, ia mendesak “intervensi tertarget”. Tujuannya adalah melemahkan aparat represif rezim, seperti menargetkan kepemimpinan Garda Revolusi.

Baca Juga :  Ranking FIFA Indonesia Turun Kalah dari Irak, Peluang Lolos Piala Dunia 2026 Pupus

“Apa yang mereka butuhkan dari dunia adalah dukungan yang tegas dan tertarget untuk melindungi nyawa, memperkuat suara mereka, dan mempercepat keruntuhan yang sudah terjadi,” tegasnya.

Ia menambahkan peringatan fatalistik bagi para mullah di Teheran: “Dengan atau tanpa bantuan dunia, rezim akan jatuh. Ia akan jatuh lebih cepat, dan lebih banyak nyawa akan terselamatkan jika dunia mengubah kata-katanya menjadi tindakan.”

Klaim Korban Jiwa dan Respons Trump

Pahlavi melontarkan angka yang mengejutkan. Ia mengklaim 12.000 pengunjuk rasa tewas hanya dalam waktu 48 jam selama penumpasan berdarah sejak 28 Desember. Kelompok hak asasi manusia mengonfirmasi jumlah korban mencapai ribuan, meski angkanya lebih rendah dari klaim Pahlavi.

Sementara itu, sikap Washington tampak bergeser. Sebelumnya, Presiden Donald Trump bersumpah bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan”. Namun, ia mundur setelah sekutu AS di Timur Tengah memperingatkan bahwa intervensi militer dapat memicu ketidakstabilan regional.

Pada hari Jumat, Trump justru berterima kasih kepada rezim Iran di media sosial Truth Social.

Baca Juga :  Gubernur DKI Luncurkan Try Out KJP, Siswa Kurang Mampu Siap Masuk Kampus

“Saya sangat menghormati fakta bahwa semua hukuman gantung yang dijadwalkan… telah dibatalkan oleh kepemimpinan Iran. Terima kasih!” tulis Trump.

Ironi Sejarah: “Hidup Shah”

Situasi ini penuh dengan ironi sejarah. Pengunjuk rasa di Iran baru-baru ini terdengar meneriakkan nama Pahlavi dan “Hidup Shah”. Padahal, ayahnyalah, Shah Mohammad Reza Pahlavi, yang digulingkan oleh revolusi 1979 setelah protes massa serupa menentang penyiksaan dan pelanggaran HAM.

Ketika ditanya apakah ia berniat mendirikan kembali monarki, Pahlavi menghindari jawaban langsung. Namun, ia menegaskan bahwa ia memiliki “rencana komprehensif untuk transisi yang tertib” yang mencakup referendum untuk menentukan bentuk pemerintahan baru.

“Saya memiliki posisi unik untuk memastikan transisi yang stabil,” klaimnya. Ia bahkan menyebut bahwa segmen besar pasukan keamanan telah “membisikkan kesetiaan mereka” kepadanya dan menolak menembaki rakyat.

“Ikatan antara saya dan rakyat Iran… telah ada sejak lahir, dan tidak dapat diputuskan, bahkan di pengasingan,” pungkasnya.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ukraina dan Rusia Saling Tuduh Serangan Mematikan
Kesepakatan Oman soal Selat Hormuz Memasuki Tahap Akhir
Eropa Barat Catat Juni-Juli Terpanas Sepanjang Sejarah
Observatorium Chilbolton Pantau Sampah Antariksa
Kelompok Houthi Melancarkan Serangan Rudal Maut di Yaman
PM Kanada Sebut Perundingan Dagang AS Makin Sengit
Trump Terbitkan Perintah Eksekutif Baru
Iran Ancam Serang Fasilitas Energi Teluk

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 15:08 WIB

Ukraina dan Rusia Saling Tuduh Serangan Mematikan

Selasa, 11 Agustus 2026 - 14:00 WIB

Kesepakatan Oman soal Selat Hormuz Memasuki Tahap Akhir

Selasa, 11 Agustus 2026 - 13:48 WIB

Eropa Barat Catat Juni-Juli Terpanas Sepanjang Sejarah

Minggu, 9 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Observatorium Chilbolton Pantau Sampah Antariksa

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:07 WIB

Kelompok Houthi Melancarkan Serangan Rudal Maut di Yaman

Berita Terbaru

Ukraina dan Rusia saling tuduh melancarkan serangan mematikan pada Minggu, sementara Presiden Volodymyr Zelenskyy menyebut Moskow mengancam. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Ukraina dan Rusia Saling Tuduh Serangan Mematikan

Selasa, 11 Agu 2026 - 15:08 WIB

Presiden AS Donald Trump menuntut Iran membayar kompensasi atas korban jiwa akibat perang, serangan, dan aksi protes, langkah yang berpotensi mempersulit upaya pembukaan kembali Selat Hormuz. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Kesepakatan Oman soal Selat Hormuz Memasuki Tahap Akhir

Selasa, 11 Agu 2026 - 14:00 WIB

Eropa Barat mengalami periode Juni-Juli terpanas yang pernah tercatat akibat perubahan iklim, memicu gelombang panas, kekeringan, dan kebakaran hutan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Eropa Barat Catat Juni-Juli Terpanas Sepanjang Sejarah

Selasa, 11 Agu 2026 - 13:48 WIB