WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Reza Pahlavi, putra mendiang monarki Iran yang pro-Barat, keluar dari bayang-bayang pengasingan. Ia melontarkan prediksi berani: rezim Islam yang menguasai negaranya akan segera runtuh.
Tidak hanya memprediksi, Pahlavi juga memosisikan dirinya sebagai sosok yang “secara unik” ditempatkan untuk memimpin pemerintahan penerus.
Pernyataan ini muncul setelah berminggu-minggu protes massal mengguncang Iran. Pasukan keamanan menumpas demonstrasi dengan brutal, meninggalkan ribuan mayat di jalanan.
Dalam konferensi pers di Washington pada hari Jumat (16/1), Pahlavi menyerukan tindakan tegas dari dunia internasional.
“Rakyat Iran mengambil tindakan tegas di lapangan, sekarang saatnya bagi komunitas internasional untuk bergabung dengan mereka sepenuhnya,” ujarnya kepada wartawan.
Bukan Invasi Darat, Tapi “Intervensi Tertarget”
Pahlavi menyadari sensitivitas isu kedaulatan. Ia menegaskan bahwa keterlibatan asing tidak memerlukan “sepatu bot di tanah” (pasukan darat).
Sebaliknya, ia mendesak “intervensi tertarget”. Tujuannya adalah melemahkan aparat represif rezim, seperti menargetkan kepemimpinan Garda Revolusi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Apa yang mereka butuhkan dari dunia adalah dukungan yang tegas dan tertarget untuk melindungi nyawa, memperkuat suara mereka, dan mempercepat keruntuhan yang sudah terjadi,” tegasnya.
Ia menambahkan peringatan fatalistik bagi para mullah di Teheran: “Dengan atau tanpa bantuan dunia, rezim akan jatuh. Ia akan jatuh lebih cepat, dan lebih banyak nyawa akan terselamatkan jika dunia mengubah kata-katanya menjadi tindakan.”
Klaim Korban Jiwa dan Respons Trump
Pahlavi melontarkan angka yang mengejutkan. Ia mengklaim 12.000 pengunjuk rasa tewas hanya dalam waktu 48 jam selama penumpasan berdarah sejak 28 Desember. Kelompok hak asasi manusia mengonfirmasi jumlah korban mencapai ribuan, meski angkanya lebih rendah dari klaim Pahlavi.
Sementara itu, sikap Washington tampak bergeser. Sebelumnya, Presiden Donald Trump bersumpah bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan”. Namun, ia mundur setelah sekutu AS di Timur Tengah memperingatkan bahwa intervensi militer dapat memicu ketidakstabilan regional.
Pada hari Jumat, Trump justru berterima kasih kepada rezim Iran di media sosial Truth Social.
“Saya sangat menghormati fakta bahwa semua hukuman gantung yang dijadwalkan… telah dibatalkan oleh kepemimpinan Iran. Terima kasih!” tulis Trump.
Ironi Sejarah: “Hidup Shah”
Situasi ini penuh dengan ironi sejarah. Pengunjuk rasa di Iran baru-baru ini terdengar meneriakkan nama Pahlavi dan “Hidup Shah”. Padahal, ayahnyalah, Shah Mohammad Reza Pahlavi, yang digulingkan oleh revolusi 1979 setelah protes massa serupa menentang penyiksaan dan pelanggaran HAM.
Ketika ditanya apakah ia berniat mendirikan kembali monarki, Pahlavi menghindari jawaban langsung. Namun, ia menegaskan bahwa ia memiliki “rencana komprehensif untuk transisi yang tertib” yang mencakup referendum untuk menentukan bentuk pemerintahan baru.
“Saya memiliki posisi unik untuk memastikan transisi yang stabil,” klaimnya. Ia bahkan menyebut bahwa segmen besar pasukan keamanan telah “membisikkan kesetiaan mereka” kepadanya dan menolak menembaki rakyat.
“Ikatan antara saya dan rakyat Iran… telah ada sejak lahir, dan tidak dapat diputuskan, bahkan di pengasingan,” pungkasnya.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















