JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Saat Charles Darwin menyusun teori evolusi, ia menghadapi rintangan besar yang kini dunia kenal sebagai “Dilema Darwin”. Dalam bukunya On the Origin of Species, Darwin mengaku tidak bisa menjelaskan alasan hewan kompleks seperti trilobit muncul secara tiba-tiba di catatan fosil tanpa adanya jejak nenek moyang di periode sebelumnya.
Namun, penelitian modern kini mulai memberikan jawaban yang memuaskan. Meskipun batuan berusia 3,8 miliar tahun telah menunjukkan tanda-tanda kehidupan bakteri, misteri mengenai lambatnya evolusi hewan multiseluler tetap menjadi perdebatan. Penemuan terbaru justru menyarankan bahwa hewan pertama muncul jauh lebih awal dari dugaan kita dan memainkan peran kunci dalam mengubah ekosistem Bumi secara permanen.
Embrio Purba dari China dan Jejak Kimia di Oman
Penemuan luar biasa di Formasi Doushantuo, China, menjadi salah satu bukti kunci. Di sana, kondisi lingkungan yang unik mengawetkan fosil mikro berupa bola-bola sel kecil yang identik dengan embrio hewan. Peneliti Leiming Yin melaporkan penemuan embrio di dalam cangkang keras yang berduri pada tahun 2007. Bukti serupa pada batuan berusia 632 juta tahun menunjukkan bahwa embrio hewan telah ada jauh sebelum periode Kambrian dimulai.
Selain itu, bukti pendukung datang dari kedalaman gurun di Oman. Peneliti Roger Summons dan Gordon Love mempelajari inti batu pasir berminyak dari kedalaman 4 kilometer di bawah tanah. Meskipun peneliti tidak melihat fosil fisik secara kasat mata, minyak tersebut menyimpan “fosil molekuler” berupa bahan kimia 24-isopropylcholestane (24-IPC). Ilmuwan saat ini hanya menemukan zat kimia ini pada membran sel spons tertentu sebagai bentuk kolesterol stabil. Temuan ini membuktikan bahwa biomassa spons sudah sangat substansial dan menonjol secara ekologis antara 635 hingga 713 juta tahun yang lalu.
Hewan sebagai Penggerak Evolusi Oksigen
Para ahli sering mengaitkan sejarah evolusi hewan dengan peningkatan kadar oksigen di samudra. Namun, pandangan baru menunjukkan hubungan yang lebih mendalam. Peneliti seperti Butterfield berpendapat bahwa hewan sendirilah yang menyebabkan peningkatan oksigen tersebut, bukan sebaliknya. Dengan mengambil alih peran bakteri di lautan, hewan-hewan awal ini mengubah tanda geokimia planet secara drastis.
Bahkan, pakar paleobiologi Martin Brasier menyarankan bahwa hubungan antara kehidupan kompleks dan transformasi planet berjalan lebih jauh. Dalam bukunya Darwin’s Lost World, Brasier menjelaskan bahwa kelompok sel besar—seperti rumput laut—menyerap karbon dioksida dari atmosfer. Proses ini memicu rangkaian zaman es yang membantu hewan pertama berjuang merebut kendali samudra dari bakteri. “Alih-alih menjadi penyebab evolusi hewan, zaman es kemungkinan besar merupakan respons terhadap evolusi tersebut,” tegas Brasier.
Melalui penemuan-penemuan ini, para ilmuwan tidak lagi melihat kemunculan hewan sebagai peristiwa yang tiba-tiba. Sebaliknya, hewan-hewan pertama adalah arsitek yang membangun lingkungan kaya oksigen, yang akhirnya memungkinkan kehidupan beragam meledak di periode Kambrian.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















