JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Hipnoterapi bukanlah istilah baru dalam dunia medis. Dokter bedah saraf Skotlandia, James Braid, pertama kali mencetuskan istilah ini pada medio 1840-an. Pada saat yang hampir bersamaan di India, seorang ahli bedah Inggris bernama James Esdaile bahkan sukses melakukan ratusan operasi besar hanya dengan menggunakan hipnosis sebagai satu-satunya alat anestesi.
Namun, sejarah berpihak pada hal lain. Esdaile melaporkan risetnya ke London Royal Society tepat saat dunia menemukan anestesi kimia. Akibatnya, lembaga medis saat itu mengabaikan teknik hipnosis. Hingga kini, meskipun peminat praktisi swasta terus meningkat, hipnoterapi masih sering dianggap sebagai pengobatan pinggiran.
Tantangan Validasi Ilmiah dan Regulasi
Masalah utama hipnoterapi terletak pada persepsi mengenai kualitas risetnya. Pada tahun 2000, Komite Sains dan Teknologi dari House of Lords Inggris memasukkan hipnosis ke dalam kategori “riset dan regulasi yang buruk”. Penilaian ini menyiratkan bahwa hipnoterapi sulit masuk ke sistem kesehatan utama tanpa perubahan substansial.
Jika menelusuri basis data PubMed, terdapat lebih dari 11.000 studi terkait hipnoterapi. Namun, mayoritas peneliti tidak menggunakan standar emas medis, yaitu Randomised Controlled Trial (RCT). Sebagian besar laporan hanya berbentuk studi kasus atau ulasan. Meskipun demikian, bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa hipnoterapi efektif untuk mengendalikan rasa sakit, mengatasi gangguan kecemasan, hingga membantu orang berhenti merokok.
Hambatan Dana dan Standarisasi
Salah satu hambatan terbesar dalam pengembangan riset hipnoterapi adalah masalah pendanaan. Berbeda dengan obat-obatan baru, perusahaan farmasi tidak mendapatkan keuntungan finansial dari pendanaan studi hipnosis yang mahal. Selain itu, hipnoterapi melibatkan interaksi unik antara praktisi dan pasien yang sulit untuk direplikasi secara identik dalam kondisi laboratorium.
Para ahli berpendapat bahwa agar hipnosis dianggap sebagai tindakan medis, hasilnya harus dapat diukur, direplikasi, dan kuat secara metodologi. Peneliti kini mulai beralih menggunakan peralatan canggih seperti pemindaian otak. Selain itu, mereka mulai mencari penanda biokimia yang bisa diukur secara kuantitatif untuk melihat efek nyata setelah sesi hipnosis.
Menuju Pengakuan Medis Nasional
Langkah maju mulai terlihat melalui pendirian Medical School Hypnosis Association oleh Ursula James di Inggris. Organisasi ini berupaya mempertemukan profesor medis, mahasiswa, dan ahli hipnoterapi untuk menjalankan uji coba nasional yang terkoordinasi. Fokus utama mereka adalah membuktikan apakah hipnosis klinis dapat menurunkan tingkat stres secara signifikan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Para peneliti kini menggunakan kuesioner terstandarisasi untuk menghitung tingkat depresi serta mengukur kadar berbagai hormon stres dalam sampel air liur peserta. Jika mereka mampu menyajikan bukti penurunan stres yang konkret, hipnoterapi berpotensi terbuka secara luas untuk membantu pemulihan pasien dan mengurangi persepsi rasa sakit secara medis di masa depan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















