Tuna Sirip Biru: Dari Hama Perusak Jaring Menjadi Raja Sushi

Rabu, 31 Desember 2025 - 17:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Dulu dibuang nelayan, kini harganya selangit! Simak fakta Tuna Sirip Biru, tantangan budidaya yang mahal, dan ancaman kepunahan di balik lezatnya sushi. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Dulu dibuang nelayan, kini harganya selangit! Simak fakta Tuna Sirip Biru, tantangan budidaya yang mahal, dan ancaman kepunahan di balik lezatnya sushi. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Siapa sangka, ikan yang kini menjadi primadona di piring sushi mewah dulunya adalah musuh para nelayan. Sebelum tahun 1950-an, tidak ada pasar komersial untuk Tuna Sirip Biru Atlantik barat.

Faktanya, nelayan justru menganggap raksasa laut ini sebagai hama pengganggu. Alasannya, ukuran tubuh mereka yang besar sering kali merusak jaring tangkapan ikan lain.

Namun, nasib ikan ini berubah drastis pada era 1970-an dan 1980-an. Pasar sushi dan sashimi di Jepang berkembang pesat. Seketika, permintaan melonjak dan harga meroket. Ikan yang dulu dibenci kini menjadi “emas biru” yang diburu oleh armada penangkap ikan di seluruh dunia.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Biologi yang Rentan: Lambat Dewasa

Sayangnya, popularitas ini menjadi kutukan. Tuna sirip biru memiliki karakteristik biologis yang membuatnya sangat rentan terhadap penangkapan berlebihan (overfishing).

Berbeda dengan spesies lain yang tumbuh cepat, tuna ini tumbuh lambat dan berumur panjang hingga 20 tahun. Masalahnya, mereka baru bisa memijah (bertelur) saat mencapai usia sekitar delapan tahun.

Baca Juga :  Bukit Pasir yang Bernyanyi dan Berjalan, Ancaman Indah

Akibatnya, populasi mereka sulit pulih jika nelayan menangkapnya sebelum usia matang. Oleh karena itu, konservasi yang efektif sangat bergantung pada kerja sama internasional yang ketat.

Kisah Sukses AS vs Krisis Australia

Upaya penyelamatan stok tuna menunjukkan hasil yang beragam di berbagai belahan dunia. Amerika Serikat (AS) telah mengambil langkah agresif sejak awal 1980-an untuk mengelola perikanan Atlantik.

Hasilnya, stok tuna sirip biru Atlantik barat kini tidak lagi mengalami penangkapan berlebihan. Regulasi ketat dan skema dokumentasi hasil tangkapan memastikan pemulihan stok berjalan positif.

Sebaliknya, kabar buruk datang dari belahan bumi lain. Di Mediterania Barat (sekitar Kepulauan Balearic Spanyol), hasil tangkapan anjlok hingga tersisa 15 persen dibanding satu dekade lalu.

Kondisi di Australia lebih memprihatinkan. Stok tuna sirip biru selatan berada di tingkat terendah dalam sejarah, yakni kurang dari 10 persen dari stok asli. Tampaknya, upaya mencegah eksploitasi di sana masih jalan di tempat.

Peternakan Tuna: Solusi atau Masalah Baru?

Tingginya nilai ekonomi mendorong ilmuwan mencari jalan pintas: budidaya atau farming. Visi mereka adalah menciptakan tangki raksasa di darat tempat tuna bisa bertelur sepanjang tahun.

Baca Juga :  Viral Pemotor Hadang Ambulans di Depok, Pelaku Ditangkap Polisi

Akan tetapi, realitas teknis sangat menantang. Larva tuna yang baru menetas sangat rapuh. Kepala mereka berat, sehingga mereka cenderung tenggelam. Jika menyentuh dasar tangki, mereka mati karena guncangan.

Tantangan terbesar lainnya adalah nafsu makan. Tuna sirip biru adalah predator rakus. Saat ini, peternakan tuna (tuna ranches) menangkap tuna muda di laut dan menggemukkannya di keramba jaring.

Biaya lingkungannya sangat mahal. Peternak membutuhkan sekitar 15 pon ikan pakan (seperti sarden atau makarel) hanya untuk menghasilkan tambahan 1 pon daging tuna. Rasio ini dinilai tidak efisien dan merusak rantai makanan laut.

Makan di Rantai Bawah

Pada akhirnya, beberapa ahli menyimpulkan bahwa budidaya mungkin bukan jalan terbaik. Memelihara predator puncak justru menghabiskan lebih banyak sumber daya laut.

Maka, solusi yang lebih bijak mungkin terletak pada piring makan kita. Manusia sebaiknya mengonsumsi ikan di rantai makanan yang lebih rendah (seperti sarden atau kerang). Biarkan tuna sirip biru berkeliaran bebas dan pulih secara alami, sembari kita hargai sebagai komoditas premium yang langka, bukan komoditas massal.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Selasa, 7 Juli 2026 - 21:55 WIB

Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Berita Terbaru

Rampungnya proses syuting Elden Ring. Sutradara Alex Garland dan studio A24 menyelesaikan tahapan pengambilan gambar film adaptasi game bernilai 100 juta dolar AS. Dok: Istimewa.

ENTERTAINMENT

Adaptasi Game Raksasa: A24 Selesaikan Syuting Film Elden Ring

Sabtu, 1 Agu 2026 - 13:24 WIB