Revolusi Hijau Tiongkok: Menyeimbangkan Monster Karbon

Sabtu, 7 Februari 2026 - 17:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Lebih dari sekadar emisi. Perspektif Teori Kritis memandang krisis iklim sebagai manifestasi ketidakadilan sejarah, di mana negara berkembang menanggung beban bencana atas kemakmuran yang dinikmati negara maju. Dok: Istimewa.

Lebih dari sekadar emisi. Perspektif Teori Kritis memandang krisis iklim sebagai manifestasi ketidakadilan sejarah, di mana negara berkembang menanggung beban bencana atas kemakmuran yang dinikmati negara maju. Dok: Istimewa.

BEIJING, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah pusat Tiongkok baru saja merampungkan sesi penelitian mendalam mengenai perubahan iklim kontinental selama satu tahun terakhir. Sebagai pemain kunci global, Perdana Menteri Tiongkok kini menempatkan isu perubahan iklim sebagai agenda prioritas dalam forum internasional.

Tiongkok memang menghadapi tantangan besar karena proses industrialisasi selama tiga puluh tahun terakhir telah mengubah negara ini menjadi penghasil emisi karbon dioksida tertinggi di dunia. Bahkan, emisi karbon tersebut terus meningkat hingga delapan persen setiap tahun. Meskipun demikian, Beijing kini berkomitmen untuk mengubah citra “monster karbon” tersebut menjadi pemimpin revolusi bersih.

Ambisi Energi Terbarukan dan Kekuatan Angin

Tiongkok sangat sadar akan harga lingkungan yang harus mereka bayar demi keajaiban ekonomi pertama. Oleh karena itu, pemerintah memperkenalkan Undang-Undang Energi Terbarukan Nasional pada tahun 2006. Kebijakan ini menetapkan target ambisius untuk meningkatkan porsi energi bersih dari delapan persen menjadi 15 persen.

Sektor tenaga angin menunjukkan keberhasilan yang paling nyata. Saat ini, Tiongkok menempati peringkat lima besar dunia dalam kapasitas turbin angin, bersaing ketat dengan Jerman dan Amerika Serikat. Para ahli memprediksi kapasitas ini akan terus melonjak seiring dengan subsidi pemerintah dan kemajuan teknologi domestik yang pesat.

Transformasi Sektor Batu Bara dan Matahari

Meskipun pembangkit listrik tenaga batu bara baru masih sering muncul, Tiongkok sebenarnya sedang melakukan pembersihan besar-besaran. Pemerintah pusat secara bertahap menutup pembangkit listrik skala kecil yang tidak efisien. Sebagai gantinya, mereka mengembangkan teknologi batu bara bersih yang lebih mutakhir, termasuk riset pada teknologi Integrated Gasification Combined Cycle (IGCC).

Di sektor tenaga surya, Tiongkok kini menjadi produsen sel fotovoltaik terbesar kedua setelah Jepang. Walaupun pasar domestik awalnya kecil karena biaya produksi yang tinggi, tekanan kebijakan pemerintah mulai mendorong efisiensi. Kelompok lingkungan internasional kini memandang Tiongkok bukan sebagai ancaman, melainkan potensi kekuatan yang mampu memicu revolusi hijau global.

Baca Juga :  Presiden Brazil Lula da Silva Peringatkan Donald Trump

Perubahan Gaya Hidup dan Kendaraan Listrik

Seiring dengan meningkatnya taraf hidup, konsumen Tiongkok mulai menuntut hunian dan kendaraan yang lebih baik. Kesadaran publik akan penghematan energi pun terus meningkat. Tiongkok bahkan menerapkan standar ekonomi bahan bakar kendaraan yang lebih ketat daripada Amerika Serikat dan Australia.

Menariknya, Tiongkok kini merajai pasar kendaraan listrik dunia. Penjualan sepeda listrik meningkat tajam dengan adopsi sistem pemulihan energi cerdas yang menyerupai mobil hibrida. Saat ini, Tiongkok menguasai sekitar tiga perempat pasar kendaraan listrik global. Melalui tekanan internal dan kerja sama internasional, Tiongkok sedang berupaya mempertahankan pertumbuhan ekonominya sembari memimpin revolusi energi bersih di masa depan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Direktur Micron Jual Saham Senilai USD 1,4 Juta
Pemulangan Harta Karun: Politik Restitusi Benda Sejarah dari Museum Eropa
Presiden Paraguay Santiago Pena Kunjungi Taiwan
Proyeksi Pasar CPO Juli 2026: MPOC Prediksi Penguatan Harga
Data PPATK: 103.092 Warga Kabupaten Bogor Main Judol, Deposit Capai Rp414,4 Miliar
Polres Metro Jakarta Barat Amankan 3 Remaja, Diduga Bawa Narkoba Jenis Sinte
OTT KPK Langkat: Eks Timses Bupati Diduga Kuasai 85 Proyek Rp10,2 Miliar
520 Personel Diterjunkan, Operasi Berantas Jaya 2026 Bidik Pelaku Curanmor

Berita Terkait

Sabtu, 4 Juli 2026 - 13:21 WIB

Direktur Micron Jual Saham Senilai USD 1,4 Juta

Sabtu, 4 Juli 2026 - 11:38 WIB

Pemulangan Harta Karun: Politik Restitusi Benda Sejarah dari Museum Eropa

Sabtu, 4 Juli 2026 - 10:36 WIB

Presiden Paraguay Santiago Pena Kunjungi Taiwan

Sabtu, 4 Juli 2026 - 10:30 WIB

Proyeksi Pasar CPO Juli 2026: MPOC Prediksi Penguatan Harga

Sabtu, 4 Juli 2026 - 09:51 WIB

Data PPATK: 103.092 Warga Kabupaten Bogor Main Judol, Deposit Capai Rp414,4 Miliar

Berita Terbaru

Langkah strategis internal. Direktur Micron Technology Lynn A. Dugle melepas sebagian kepemilikan saham di tengah kolaborasi besar bersama General Motors.. Dok: Ilustrasi.

INTERNASIONAL

Direktur Micron Jual Saham Senilai USD 1,4 Juta

Sabtu, 4 Jul 2026 - 13:21 WIB

Kesetiaan di tengah tekanan. Presiden Paraguay Santiago Pena memulai kunjungan kenegaraan ke Taiwan guna memperkuat aliansi diplomatik dan ekonomi, meskipun China terus meningkatkan upaya untuk menarik Asuncion ke orbitnya. Dok: REUTERS/Cesar Olmedo.

INTERNASIONAL

Presiden Paraguay Santiago Pena Kunjungi Taiwan

Sabtu, 4 Jul 2026 - 10:36 WIB

Angin segar bagi industri sawit. MPOC memproyeksikan harga CPO bertahan tinggi akibat pengetatan pasokan Indonesia dan ancaman El Nino. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Proyeksi Pasar CPO Juli 2026: MPOC Prediksi Penguatan Harga

Sabtu, 4 Jul 2026 - 10:30 WIB