Mengapa Narasi Musuh Bersama Masih Laku di Politik Luar Negeri?

Minggu, 22 Februari 2026 - 18:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto, Kembali unjuk kekuatan. Korea Utara menembakkan sejumlah rudal ke perairan lepas pantai barat pada Selasa, menandai aktivitas militer pertama sejak bulan April dan menegaskan ambisi nuklir Pyongyang di tahun 2026. Dok: Istimewa.

Foto, Kembali unjuk kekuatan. Korea Utara menembakkan sejumlah rudal ke perairan lepas pantai barat pada Selasa, menandai aktivitas militer pertama sejak bulan April dan menegaskan ambisi nuklir Pyongyang di tahun 2026. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Mengapa sebuah negara mendadak merasa terancam oleh tetangganya padahal tidak ada perubahan pada jumlah tank atau rudal di perbatasan? Jawabannya sering kali tidak terletak pada angka militer, melainkan pada perubahan identitas dan persepsi.

Bagi kaum Konstruktivis, dunia internasional adalah sebuah konstruksi sosial. Tokoh utama teori ini, Alexander Wendt, pernah berujar bahwa “Anarki adalah apa yang dibuat oleh negara darinya”. Oleh karena itu, kebijakan luar negeri sebuah negara sebenarnya mencerminkan jawaban atas pertanyaan mendasar: “Siapakah kita?”

Ide Membentuk Kepentingan: Bukan Sekadar Materi

Realime memandang negara hanya mengejar kekuatan, sementara Liberalisme memfokuskan pada kerja sama ekonomi. Namun demikian, Konstruktivisme melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa ide mendahului kepentingan materi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kepentingan nasional tidak jatuh dari langit. Pasalnya, apa yang sebuah negara anggap sebagai “kepentingan” sangat bergantung pada bagaimana mereka mendefinisikan diri mereka sendiri. Sebagai contoh, identitas Amerika Serikat sebagai “pemimpin dunia bebas” atau Tiongkok dengan narasi “Kebangkitan Besar Bangsa Tionghoa” menciptakan arah kebijakan yang sangat berbeda. Tanpa adanya identitas tersebut, ribuan hulu ledak nuklir hanyalah bongkahan logam tanpa makna strategis.

Baca Juga :  3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon, MPR Desak Evaluasi dan Penarikan Pasukan UNIFIL

Kekuatan Bahasa dan Simbol: Menciptakan “Musuh Bersama”

Narasi “musuh bersama” tetap menjadi jualan utama dalam politik luar negeri karena fungsinya sebagai perekat sosial. Dalam proses yang para ahli sebut sebagai Othering, para pemimpin sering kali menggunakan bahasa dan simbol guna menciptakan batas tegas antara “Kita” dan “Lawan”.

Selanjutnya, proses ini melibatkan penggunaan label-label emosional. Istilah seperti “Rezim Nakal”, “Ancaman Eksistensial”, atau “Negara Teroris” bukan sekadar deskripsi teknis. Sebaliknya, kata-kata tersebut adalah alat untuk memobilisasi dukungan publik. Bahkan, simbol seperti bendera yang dibakar atau monumen sejarah yang dipuja berfungsi untuk memperkuat ikatan identitas kolektif. Ketika masyarakat percaya bahwa ada ancaman di luar sana, mereka akan lebih mudah menerima peningkatan anggaran militer atau pembatasan hak sipil demi keamanan bersama.

Dinamika Perubahan: Saat Musuh Menjadi Kawan

Salah satu kontribusi terbesar Konstruktivisme adalah penjelasan mengenai perubahan hubungan diplomatik yang drastis. Karena identitas bersifat sosial, maka ia bisa berubah melalui interaksi dan komunikasi.

Baca Juga :  Mandat Kekuatan Militer: Bahrain Ajukan Resolusi PBB untuk Amankan Selat Hormuz

Sebagai ilustrasi, hubungan antara Prancis dan Jerman berubah total pasca-Perang Dunia II. Mereka tidak lagi melihat satu sama lain sebagai musuh bebuyutan, melainkan sebagai mitra dalam integrasi Eropa. Perubahan ini terjadi bukan karena militer mereka menghilang, melainkan karena mereka berhasil membangun norma dan identitas baru sebagai sesama warga Eropa. Dengan demikian, diplomasi sebenarnya merupakan proses berkelanjutan untuk mendefinisikan ulang hubungan melalui pemahaman bersama yang baru (intersubjective meanings).

Diplomasi sebagai Pertukaran Makna

Memahami kebijakan luar negeri berarti memahami narasi yang berkembang di masyarakat tersebut. Selama para pemimpin masih merasa perlu memperkuat persatuan domestik, narasi “musuh bersama” akan terus muncul di panggung internasional.

Pada akhirnya, tantangan terbesar bagi stabilitas dunia di tahun 2026 adalah bagaimana kita membangun identitas global yang inklusif. Jika kita mampu mengonstruksi identitas yang tidak bergantung pada keberadaan musuh, maka peluang terciptanya perdamaian abadi akan terbuka lebar. Dunia internasional bukan hanya tentang siapa yang paling kuat, tetapi tentang bagaimana kita memilih untuk melihat satu sama lain di tengah perbedaan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar
Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit
Malaysia Siapkan Peningkatan Campuran Biodiesel B12 dan B15
Puncak 15 Pekan: Harga Minyak Sawit Malaysia Melandai
Lonjakan Harga Global Tekan Impor Minyak Nabati India
Polisi Tembak Mati Pelaku Penabrakan Minivan Pride
Pelaku Lepaskan Tembakan ke Gedung Konsulat AS
Gelombang Fitur AI Interaktif Ubah Pengalaman Membaca

Berita Terkait

Rabu, 29 Juli 2026 - 14:00 WIB

El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar

Rabu, 29 Juli 2026 - 11:17 WIB

Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:13 WIB

Malaysia Siapkan Peningkatan Campuran Biodiesel B12 dan B15

Rabu, 29 Juli 2026 - 09:08 WIB

Puncak 15 Pekan: Harga Minyak Sawit Malaysia Melandai

Rabu, 29 Juli 2026 - 07:04 WIB

Lonjakan Harga Global Tekan Impor Minyak Nabati India

Berita Terbaru

Solusi daya ringkas harian. Itel merilis powerbank Zeno berkapasitas 10.000mAh dan 20.000mAh berbekal kabel terintegrasi serta pengisian cepat. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Itel Resmi Meluncurkan Powerbank Zeno di India

Kamis, 30 Jul 2026 - 13:00 WIB

Terobosan baru industri gawai. Qualcomm merancang fitur eksklusif AI Frame Fusion pada Snapdragon 8 Elite Gen 6 Pro demi pengalaman gaming ekstra mulus. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Qualcomm Bekali Snapdragon 8 Elite Gen 6 Pro

Kamis, 30 Jul 2026 - 12:00 WIB