Mengapa Narasi Musuh Bersama Masih Laku di Politik Luar Negeri?

Minggu, 22 Februari 2026 - 18:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto, Pesan ganda dari Pyongyang. Di balik peresmian sistem peluncur roket raksasa berkemampuan nuklir, Korea Utara mengirimkan sinyal diplomasi yang mengejutkan terkait ketegangan drone dengan Korea Selatan. Dok: Istimewa.

Foto, Pesan ganda dari Pyongyang. Di balik peresmian sistem peluncur roket raksasa berkemampuan nuklir, Korea Utara mengirimkan sinyal diplomasi yang mengejutkan terkait ketegangan drone dengan Korea Selatan. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Mengapa sebuah negara mendadak merasa terancam oleh tetangganya padahal tidak ada perubahan pada jumlah tank atau rudal di perbatasan? Jawabannya sering kali tidak terletak pada angka militer, melainkan pada perubahan identitas dan persepsi.

Bagi kaum Konstruktivis, dunia internasional adalah sebuah konstruksi sosial. Tokoh utama teori ini, Alexander Wendt, pernah berujar bahwa “Anarki adalah apa yang dibuat oleh negara darinya”. Oleh karena itu, kebijakan luar negeri sebuah negara sebenarnya mencerminkan jawaban atas pertanyaan mendasar: “Siapakah kita?”

Ide Membentuk Kepentingan: Bukan Sekadar Materi

Realime memandang negara hanya mengejar kekuatan, sementara Liberalisme memfokuskan pada kerja sama ekonomi. Namun demikian, Konstruktivisme melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa ide mendahului kepentingan materi.

Kepentingan nasional tidak jatuh dari langit. Pasalnya, apa yang sebuah negara anggap sebagai “kepentingan” sangat bergantung pada bagaimana mereka mendefinisikan diri mereka sendiri. Sebagai contoh, identitas Amerika Serikat sebagai “pemimpin dunia bebas” atau Tiongkok dengan narasi “Kebangkitan Besar Bangsa Tionghoa” menciptakan arah kebijakan yang sangat berbeda. Tanpa adanya identitas tersebut, ribuan hulu ledak nuklir hanyalah bongkahan logam tanpa makna strategis.

Baca Juga :  602 Ribu Warga Jakarta Main Judi Online, 5.000 Penerima Bansos Ikut Terlibat

Kekuatan Bahasa dan Simbol: Menciptakan “Musuh Bersama”

Narasi “musuh bersama” tetap menjadi jualan utama dalam politik luar negeri karena fungsinya sebagai perekat sosial. Dalam proses yang para ahli sebut sebagai Othering, para pemimpin sering kali menggunakan bahasa dan simbol guna menciptakan batas tegas antara “Kita” dan “Lawan”.

Selanjutnya, proses ini melibatkan penggunaan label-label emosional. Istilah seperti “Rezim Nakal”, “Ancaman Eksistensial”, atau “Negara Teroris” bukan sekadar deskripsi teknis. Sebaliknya, kata-kata tersebut adalah alat untuk memobilisasi dukungan publik. Bahkan, simbol seperti bendera yang dibakar atau monumen sejarah yang dipuja berfungsi untuk memperkuat ikatan identitas kolektif. Ketika masyarakat percaya bahwa ada ancaman di luar sana, mereka akan lebih mudah menerima peningkatan anggaran militer atau pembatasan hak sipil demi keamanan bersama.

Dinamika Perubahan: Saat Musuh Menjadi Kawan

Salah satu kontribusi terbesar Konstruktivisme adalah penjelasan mengenai perubahan hubungan diplomatik yang drastis. Karena identitas bersifat sosial, maka ia bisa berubah melalui interaksi dan komunikasi.

Sebagai ilustrasi, hubungan antara Prancis dan Jerman berubah total pasca-Perang Dunia II. Mereka tidak lagi melihat satu sama lain sebagai musuh bebuyutan, melainkan sebagai mitra dalam integrasi Eropa. Perubahan ini terjadi bukan karena militer mereka menghilang, melainkan karena mereka berhasil membangun norma dan identitas baru sebagai sesama warga Eropa. Dengan demikian, diplomasi sebenarnya merupakan proses berkelanjutan untuk mendefinisikan ulang hubungan melalui pemahaman bersama yang baru (intersubjective meanings).

Diplomasi sebagai Pertukaran Makna

Memahami kebijakan luar negeri berarti memahami narasi yang berkembang di masyarakat tersebut. Selama para pemimpin masih merasa perlu memperkuat persatuan domestik, narasi “musuh bersama” akan terus muncul di panggung internasional.

Pada akhirnya, tantangan terbesar bagi stabilitas dunia di tahun 2026 adalah bagaimana kita membangun identitas global yang inklusif. Jika kita mampu mengonstruksi identitas yang tidak bergantung pada keberadaan musuh, maka peluang terciptanya perdamaian abadi akan terbuka lebar. Dunia internasional bukan hanya tentang siapa yang paling kuat, tetapi tentang bagaimana kita memilih untuk melihat satu sama lain di tengah perbedaan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menguji Efektivitas PBB di Tengah Pelanggaran Hukum Global?
Pos PT Kristal di Nabire Diserang, Dua Korban Tewas dan Bangunan Terbakar
4.725 WNI Korban Online Scam di Kamboja Pulang ke Indonesia Jelang Lebaran 2026
Kesenjangan Utara-Selatan: Menelaah Teori Ketergantungan dalam Arsitektur Ekonomi Global Baru
Apakah Kebangkitan Multipolaritas Akan Membawa Stabilitas?
Arus Mudik 2026, Polisi Batasi Truk di Tol Tangerang–Merak dan Jalur Arteri
Bagaimana Soft Power Budaya Mengatur Ulang Diplomasi?
Motor Penjaga Kios Raib di Cipedak Jagakarsa, Pelaku Pakai Jaket Ojol

Berita Terkait

Minggu, 22 Februari 2026 - 20:09 WIB

Menguji Efektivitas PBB di Tengah Pelanggaran Hukum Global?

Minggu, 22 Februari 2026 - 19:07 WIB

Pos PT Kristal di Nabire Diserang, Dua Korban Tewas dan Bangunan Terbakar

Minggu, 22 Februari 2026 - 18:56 WIB

Mengapa Narasi Musuh Bersama Masih Laku di Politik Luar Negeri?

Minggu, 22 Februari 2026 - 18:19 WIB

4.725 WNI Korban Online Scam di Kamboja Pulang ke Indonesia Jelang Lebaran 2026

Minggu, 22 Februari 2026 - 18:01 WIB

Kesenjangan Utara-Selatan: Menelaah Teori Ketergantungan dalam Arsitektur Ekonomi Global Baru

Berita Terbaru

Ilustrasi, Otoritas yang dipertanyakan. Melalui kacamata Institusionalisme Liberal, keberadaan PBB bukan sekadar formalitas, melainkan kebutuhan fungsional yang kini terancam oleh egoisme kekuatan besar. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Menguji Efektivitas PBB di Tengah Pelanggaran Hukum Global?

Minggu, 22 Feb 2026 - 20:09 WIB

Foto, Pesan ganda dari Pyongyang. Di balik peresmian sistem peluncur roket raksasa berkemampuan nuklir, Korea Utara mengirimkan sinyal diplomasi yang mengejutkan terkait ketegangan drone dengan Korea Selatan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mengapa Narasi Musuh Bersama Masih Laku di Politik Luar Negeri?

Minggu, 22 Feb 2026 - 18:56 WIB