JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Mengapa sebuah negara mendadak merasa terancam oleh tetangganya padahal tidak ada perubahan pada jumlah tank atau rudal di perbatasan? Jawabannya sering kali tidak terletak pada angka militer, melainkan pada perubahan identitas dan persepsi.
Bagi kaum Konstruktivis, dunia internasional adalah sebuah konstruksi sosial. Tokoh utama teori ini, Alexander Wendt, pernah berujar bahwa “Anarki adalah apa yang dibuat oleh negara darinya”. Oleh karena itu, kebijakan luar negeri sebuah negara sebenarnya mencerminkan jawaban atas pertanyaan mendasar: “Siapakah kita?”
Ide Membentuk Kepentingan: Bukan Sekadar Materi
Realime memandang negara hanya mengejar kekuatan, sementara Liberalisme memfokuskan pada kerja sama ekonomi. Namun demikian, Konstruktivisme melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa ide mendahului kepentingan materi.
Kepentingan nasional tidak jatuh dari langit. Pasalnya, apa yang sebuah negara anggap sebagai “kepentingan” sangat bergantung pada bagaimana mereka mendefinisikan diri mereka sendiri. Sebagai contoh, identitas Amerika Serikat sebagai “pemimpin dunia bebas” atau Tiongkok dengan narasi “Kebangkitan Besar Bangsa Tionghoa” menciptakan arah kebijakan yang sangat berbeda. Tanpa adanya identitas tersebut, ribuan hulu ledak nuklir hanyalah bongkahan logam tanpa makna strategis.
Kekuatan Bahasa dan Simbol: Menciptakan “Musuh Bersama”
Narasi “musuh bersama” tetap menjadi jualan utama dalam politik luar negeri karena fungsinya sebagai perekat sosial. Dalam proses yang para ahli sebut sebagai Othering, para pemimpin sering kali menggunakan bahasa dan simbol guna menciptakan batas tegas antara “Kita” dan “Lawan”.
Selanjutnya, proses ini melibatkan penggunaan label-label emosional. Istilah seperti “Rezim Nakal”, “Ancaman Eksistensial”, atau “Negara Teroris” bukan sekadar deskripsi teknis. Sebaliknya, kata-kata tersebut adalah alat untuk memobilisasi dukungan publik. Bahkan, simbol seperti bendera yang dibakar atau monumen sejarah yang dipuja berfungsi untuk memperkuat ikatan identitas kolektif. Ketika masyarakat percaya bahwa ada ancaman di luar sana, mereka akan lebih mudah menerima peningkatan anggaran militer atau pembatasan hak sipil demi keamanan bersama.
Dinamika Perubahan: Saat Musuh Menjadi Kawan
Salah satu kontribusi terbesar Konstruktivisme adalah penjelasan mengenai perubahan hubungan diplomatik yang drastis. Karena identitas bersifat sosial, maka ia bisa berubah melalui interaksi dan komunikasi.
Sebagai ilustrasi, hubungan antara Prancis dan Jerman berubah total pasca-Perang Dunia II. Mereka tidak lagi melihat satu sama lain sebagai musuh bebuyutan, melainkan sebagai mitra dalam integrasi Eropa. Perubahan ini terjadi bukan karena militer mereka menghilang, melainkan karena mereka berhasil membangun norma dan identitas baru sebagai sesama warga Eropa. Dengan demikian, diplomasi sebenarnya merupakan proses berkelanjutan untuk mendefinisikan ulang hubungan melalui pemahaman bersama yang baru (intersubjective meanings).
Diplomasi sebagai Pertukaran Makna
Memahami kebijakan luar negeri berarti memahami narasi yang berkembang di masyarakat tersebut. Selama para pemimpin masih merasa perlu memperkuat persatuan domestik, narasi “musuh bersama” akan terus muncul di panggung internasional.
Pada akhirnya, tantangan terbesar bagi stabilitas dunia di tahun 2026 adalah bagaimana kita membangun identitas global yang inklusif. Jika kita mampu mengonstruksi identitas yang tidak bergantung pada keberadaan musuh, maka peluang terciptanya perdamaian abadi akan terbuka lebar. Dunia internasional bukan hanya tentang siapa yang paling kuat, tetapi tentang bagaimana kita memilih untuk melihat satu sama lain di tengah perbedaan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia






















