Kesenjangan Utara-Selatan: Menelaah Teori Ketergantungan dalam Arsitektur Ekonomi Global Baru

Minggu, 22 Februari 2026 - 18:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Asia memimpin pemulihan. Laporan tahunan Forum Boao 2026 memproyeksikan Asia tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi dunia, di saat negara-negara Barat menghadapi ancaman proteksionisme dan perlambatan pasar. Dok: Istimewa.

Asia memimpin pemulihan. Laporan tahunan Forum Boao 2026 memproyeksikan Asia tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi dunia, di saat negara-negara Barat menghadapi ancaman proteksionisme dan perlambatan pasar. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Meskipun era kolonialisme fisik telah berakhir, peta kemakmuran dunia masih menunjukkan garis pemisah yang sangat tajam. Mengapa negara-negara kaya cenderung tetap kaya, sementara negara berkembang sering kali terjebak dalam pertumbuhan yang stagnan?

Teori Marxisme dan Teori Dependensi membedah fenomena ini secara tajam dalam studi Hubungan Internasional (HI). Oleh karena itu, ketimpangan ini bukan merupakan akibat dari kurangnya kerja keras. Sebaliknya, hal ini merupakan hasil dari arsitektur ekonomi global yang memang memiliki desain asimetris sejak awal.

Kritik terhadap Kapitalisme Global: Pusat vs Pinggiran

Teori Dependensi berasumsi bahwa kemakmuran negara-negara Utara (Pusat) secara langsung bergantung pada keterbelakangan negara-negara Selatan (Pinggiran). Pasalnya, sistem kapitalisme global mendorong terjadinya “pertukaran yang tidak adil” (unequal exchange).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Negara-negara pinggiran biasanya mengekspor bahan mentah dengan nilai tambah rendah ke negara maju. Selanjutnya, negara maju mengolah bahan tersebut dan menjualnya kembali ke negara berkembang dalam bentuk barang jadi dengan harga yang berlipat ganda. Akibatnya, akumulasi modal terus mengalir ke Utara, sementara Selatan tetap berada pada posisi sebagai penyedia sumber daya alam dan tenaga kerja murah. Ketidakseimbangan ini memastikan bahwa kemajuan di satu sisi mengakibatkan keterpurukan di sisi lain secara sistematis.

Baca Juga :  Trump Tepis Kekhawatiran soal Kondisi Kesehatan Mental

Institusi Keuangan sebagai Alat Dominasi

Negara-negara maju (Core) tidak hanya mengandalkan perdagangan untuk mempertahankan kontrolnya. Mereka menggunakan institusi keuangan internasional—seperti IMF dan Bank Dunia—sebagai instrumen kekuasaan politik.

Lembaga-lembaga tersebut sering kali menyertakan syarat-syarat liberalisasi pasar yang ketat pada setiap pemberian pinjaman. Kebijakan ini memaksa negara berkembang untuk membuka pintunya bagi perusahaan multinasional (MNC) tanpa perlindungan industri domestik yang memadai. Bahkan, negara maju sering kali menggunakan jebakan utang sebagai pengungkit guna menekan kedaulatan politik negara target. Melalui mekanisme ini, mereka memastikan bahwa arsitektur keuangan dunia tetap menjaga kepentingan pemilik modal besar di belahan bumi utara.

Perlawanan Selatan Global: Keluar dari Lingkaran Setan

Memasuki tahun 2026, tren “nasionalisme sumber daya” mulai mengubah dinamika kekuasaan global. Negara-negara Selatan Global tidak lagi mau sekadar menjadi penonton dalam rantai pasok dunia.

Beberapa langkah strategis yang kini marak terjadi antara lain:

  • Hilirisasi Industri: Indonesia dan beberapa negara Afrika mulai melarang ekspor bahan mentah (seperti nikel atau litium) guna memaksa pembangunan pabrik pengolahan di dalam negeri.
  • Diversifikasi Mitra: Penguatan blok BRICS memberikan alternatif pembiayaan di luar dominasi dolar Amerika Serikat.
  • ** Kerja Sama Selatan-Selatan:** Negara-negara berkembang mulai membangun jaringan perdagangan mandiri yang tidak lagi melewati perantara di negara maju.
Baca Juga :  NPS Peringatkan Gapura Donald Trump Ganggu Situs Bersejarah

Meskipun demikian, perjuangan ini menghadapi tantangan berat berupa ancaman sanksi dan tarif dari negara-negara besar. Namun, kesadaran kolektif bahwa ketergantungan bahan mentah adalah bentuk perbudakan modern kini menjadi motor penggerak utama bagi diplomasi ekonomi di Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

Teori Ketergantungan mengingatkan kita bahwa perdamaian global mustahil tercapai tanpa adanya keadilan ekonomi. Selama sistem internasional masih memprioritaskan akumulasi laba di Utara di atas kesejahteraan manusia di Selatan, konflik struktural akan terus terjadi.

Pada akhirnya, arsitektur ekonomi global baru yang sedang terbentuk saat ini merupakan medan tempur ideologis. Keberhasilan negara berkembang untuk mandiri secara teknologi dan industri akan menjadi penentu apakah kita bisa memutus “lingkaran ketergantungan” ini selamanya demi masa depan dunia yang lebih seimbang dan manusiawi.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Presiden Xi Jinping Dorong Blok BRICS Jadi Juru Damai Konflik
Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%
Peluncuran Konsol Retro NEOGEO AES+ Ditunda
Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya
Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa
Shinjuku Larang Separuh Sewa Liburan, Termasuk Properti
Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir
PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 20:57 WIB

Presiden Xi Jinping Dorong Blok BRICS Jadi Juru Damai Konflik

Minggu, 13 September 2026 - 19:56 WIB

Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%

Minggu, 13 September 2026 - 13:30 WIB

Peluncuran Konsol Retro NEOGEO AES+ Ditunda

Rabu, 9 September 2026 - 08:03 WIB

Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya

Rabu, 9 September 2026 - 07:00 WIB

Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa

Berita Terbaru