JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Banyak pihak memandang kemajuan teknologi sebagai pemicu baru bagi perlombaan senjata global. Namun demikian, studi Hubungan Internasional menawarkan sudut pandang yang berbeda. Melalui lensa Konstruktivisme, kita memahami bahwa teknologi hanyalah alat yang maknanya bergantung pada cara manusia menggunakannya.
Struktur internasional saat ini memang tidak memiliki pemerintahan tunggal. Meskipun begitu, Alexander Wendt menegaskan bahwa kondisi anarki ini tidak otomatis berujung pada perang. Oleh karena itu, ketegangan di ruang digital saat ini sebenarnya merupakan hasil dari persepsi sosial yang bisa kita ubah melalui norma baru.
Persaingan Bukanlah Takdir Biologis
Masyarakat internasional sering terjebak dalam pemikiran bahwa negara akan selalu saling menyerang demi kekuasaan. Konstruktivisme menolak pandangan tersebut secara tegas. Pasalnya, negara bertindak berdasarkan makna yang mereka berikan kepada objek dan aktor lain di sekitar mereka.
Jika sebuah negara memandang kemajuan AI tetangganya sebagai ancaman eksistensial, maka konflik akan pecah. Sebaliknya, jika mereka melihat teknologi tersebut sebagai peluang untuk kemajuan bersama, maka kerja sama akan terjalin. Dengan demikian, struktur sosial dunia bersifat fleksibel. Identitas sebagai “musuh” atau “kawan” merupakan hasil dari proses belajar dan interaksi jangka panjang, bukan sebuah takdir biologis yang kaku.
Membentuk Norma Baru: Cybersecurity dan AI
Dunia saat ini sedang menyaksikan proses pembentukan norma internasional yang sangat krusial. Berbagai forum global kini mulai merumuskan aturan main mengenai penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam sistem militer.
Proses ini melibatkan beberapa langkah penting:
- Penetapan Standar Etika: Negara-negara mulai menyepakati batasan moral dalam serangan siber terhadap infrastruktur sipil.
- Transparansi Algoritma: Upaya membangun kepercayaan melalui pertukaran informasi mengenai kapasitas teknologi AI masing-masing negara.
- Sosialisasi Norma: Organisasi internasional terus mendorong negara besar untuk mengadopsi perilaku bertanggung jawab di ruang siber.
Selanjutnya, keberhasilan norma ini sangat bergantung pada pengakuan kolektif. Ketika mayoritas negara menganggap serangan siber sebagai tindakan tabu, maka biaya sosial bagi pelanggar akan menjadi sangat tinggi. Alhasil, norma tersebut akan menjadi instrumen pengontrol perilaku yang lebih efektif daripada sekadar sanksi fisik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Peluang Mengubah Struktur Sosial Dunia
Tahun 2026 menawarkan momentum bagi transformasi struktur internasional. Kita memiliki peluang besar untuk mengubah dunia yang awalnya penuh konflik menjadi lebih kooperatif. Langkah utamanya adalah dengan mengubah narasi keamanan nasional yang sempit.
Pemimpin dunia harus mulai membangun identitas global yang saling menghormati kedaulatan digital. Meskipun terdapat perbedaan ideologi, kebutuhan akan stabilitas sistem keuangan dan komunikasi global dapat menjadi perekat identitas baru. Oleh sebab itu, struktur sosial yang didasarkan pada kerja sama keamanan akan menciptakan lingkungan di mana setiap negara merasa aman tanpa harus mengancam pihak lain.
Kesimpulan: Masa Depan di Tangan Kita
Struktur internasional adalah hasil karya manusia. Pada akhirnya, jika kita menginginkan dunia digital yang aman, kita harus berani mengonstruksi norma-norma yang mendukung perdamaian. Teknologi AI dan kekuatan siber tidak akan menghancurkan peradaban selama negara-negara memilih untuk mendefinisikan diri mereka sebagai mitra pembangunan. Tantangan bagi diplomat masa kini adalah memastikan bahwa “apa yang dibuat negara dari anarki” adalah sebuah tatanan yang adil dan bermartabat bagi semua bangsa.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















