Uni Eropa Paksa Meta Buka Akses WhatsApp untuk ChatGPT

Kamis, 11 Juni 2026 - 07:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Uni Eropa wacanakan larangan penggunaan media sosial untuk anak di bawah 13 tahun. Simak rincian usulan Ursula von der Leyen. Dok: Istimewa.

Uni Eropa wacanakan larangan penggunaan media sosial untuk anak di bawah 13 tahun. Simak rincian usulan Ursula von der Leyen. Dok: Istimewa.

BRUSSELS, POSNEWS.CO.ID – Uni Eropa memerintahkan Meta untuk segera membuka akses platform pesan WhatsApp bagi chatbot kecerdasan buatan saingan secara gratis.

Sebab, Komisi Eropa menduga perusahaan asal Amerika Serikat tersebut melakukan praktik monopoli yang merugikan ekosistem digital baru.

Penyelidikan Antimonopoli dan Ancaman Denda

Komisi Eropa selaku pengawas digital kawasan meluncurkan penyelidikan resmi terhadap kebijakan pembatasan Meta sejak Desember tahun lalu. Akibatnya, Meta kini harus menghadapi tuntutan hukum darurat untuk memulihkan akses sebelum penyelidikan selesai.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketua Urusan Antimonopoli Uni Eropa, Teresa Ribera, menegaskan pentingnya langkah pencegahan ini melalui pernyataan resmi. Sebab, tindakan Meta berpotensi menimbulkan kerusakan serius yang tidak dapat diperbaiki pada iklim kompetisi pasar.

“Kami mewajibkan Meta untuk mengembalikan akses WhatsApp bagi asisten AI pesaing saat ini,” tegas Ribera di Brussels.

Baca Juga :  Badai PHK Xbox: Pengembangan The Elder Scrolls 6 Terancam

Oleh sebab itu, kegagalan mematuhi keputusan ini akan memicu denda yang sangat fantastis bagi perusahaan. Uni Eropa memiliki wewenang hukum untuk menjatuhkan denda hingga mencapai 10 persen dari total omset global Meta.

Bantahan Meta dan Kontroversi Biaya Akses

Pihak Meta segera merespons keputusan darurat tersebut dengan menyatakan penolakan keras secara terbuka. Namun, mereka memastikan akan segera mengajukan banding hukum ke pengadilan Uni Eropa dalam waktu dekat.

Juru bicara Meta menilai keputusan tersebut sebagai bentuk campur tangan regulasi yang terlalu berlebihan. Selain itu, ia menuduh aturan baru ini hanya akan memberikan keuntungan cuma-cuma bagi raksasa teknologi seperti OpenAI.

Sebelumnya, Meta sempat mengenakan biaya sewa khusus bagi para penyedia AI saingan pada April lalu. Akan tetapi, Komisi Eropa menolak solusi tarif tersebut karena nilainya setara dengan larangan akses sebelumnya.

Dengan demikian, Uni Eropa mendesak pemulihan sistem sesuai kondisi sebelum perubahan kebijakan sepihak Meta pada Oktober tahun lalu.

Baca Juga :  Trump Beri Ultimatum: "Datang ke Meja Perundingan!"

Rentetan Pelanggaran dan Ketegangan DMA

Perselisihan ini menambah daftar panjang kasus hukum yang Meta hadapi dengan regulator Uni Eropa sepanjang tahun ini. Sebagai contoh, penyelidik menemukan kegagalan Meta dalam menyaring pengguna anak-anak di bawah umur 13 tahun pada April kemarin.

Sementara itu, Meta juga sedang berjuang melawan denda antimonopoli sebesar 200 juta euro dari tahun lalu. Denda besar tersebut jatuh berdasarkan aturan ketat Undang-Undang Pasar Digital milik Uni Eropa.

Aturan hukum DMA ini memang sangat tidak populer bagi para raksasa teknologi asal Amerika Serikat. Bahkan, Presiden AS Donald Trump juga berulang kali mengecam kebijakan regulasi ketat dari benua Eropa tersebut.

Di sisi lain, perusahaan Apple juga sempat menyalahkan aturan DMA atas penundaan peluncuran asisten suara Siri bertenaga AI. Pada akhirnya, Uni Eropa menolak mentah-mentah pembelaan Apple dan tetap berkomitmen menegakkan kedaulatan digital mereka.

Penulis : Alifa Latifa

Editor : Alifa Latifa

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Perayaan Meriah Festival Sembilan Dewa Kaisar
Fenomena Fesyen Gothic Lolita Jepang Kembali Memikat Hati
Lonceng Perdamaian Cenderamata Jepang Ditemukan Kembali
Hiu Viral Bukang-i Kembali Menerobos Masuk ke Kanal Kota Busan
Pembangunan Kota Vietnam Mengancam Keberadaan Hutan
Tiongkok Tampil Sebagai Pemasok Utama Teknologi Air Global
Ancaman Ruyung dan Tabrakan Mobil Memicu Kekhawatiran
Pelajar dan Guru Turun ke Jalanan Athena Menuntut Hunian Murah

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 09:19 WIB

Perayaan Meriah Festival Sembilan Dewa Kaisar

Selasa, 27 Oktober 2026 - 08:00 WIB

Fenomena Fesyen Gothic Lolita Jepang Kembali Memikat Hati

Selasa, 27 Oktober 2026 - 07:14 WIB

Lonceng Perdamaian Cenderamata Jepang Ditemukan Kembali

Senin, 26 Oktober 2026 - 06:00 WIB

Hiu Viral Bukang-i Kembali Menerobos Masuk ke Kanal Kota Busan

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 14:36 WIB

Pembangunan Kota Vietnam Mengancam Keberadaan Hutan

Berita Terbaru