Uni Eropa Paksa Meta Buka Akses WhatsApp untuk ChatGPT

Kamis, 11 Juni 2026 - 07:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Kebijakan monopoli digital digoyang. Uni Eropa memerintahkan Meta memberikan akses WhatsApp gratis bagi chatbot AI pesaing guna menjaga iklim kompetisi. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Kebijakan monopoli digital digoyang. Uni Eropa memerintahkan Meta memberikan akses WhatsApp gratis bagi chatbot AI pesaing guna menjaga iklim kompetisi. Dok: Istimewa.

BRUSSELS, POSNEWS.CO.ID – Uni Eropa memerintahkan Meta untuk segera membuka akses platform pesan WhatsApp bagi chatbot kecerdasan buatan saingan secara gratis.

Sebab, Komisi Eropa menduga perusahaan asal Amerika Serikat tersebut melakukan praktik monopoli yang merugikan ekosistem digital baru.

Penyelidikan Antimonopoli dan Ancaman Denda

Komisi Eropa selaku pengawas digital kawasan meluncurkan penyelidikan resmi terhadap kebijakan pembatasan Meta sejak Desember tahun lalu. Akibatnya, Meta kini harus menghadapi tuntutan hukum darurat untuk memulihkan akses sebelum penyelidikan selesai.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketua Urusan Antimonopoli Uni Eropa, Teresa Ribera, menegaskan pentingnya langkah pencegahan ini melalui pernyataan resmi. Sebab, tindakan Meta berpotensi menimbulkan kerusakan serius yang tidak dapat diperbaiki pada iklim kompetisi pasar.

“Kami mewajibkan Meta untuk mengembalikan akses WhatsApp bagi asisten AI pesaing saat ini,” tegas Ribera di Brussels.

Oleh sebab itu, kegagalan mematuhi keputusan ini akan memicu denda yang sangat fantastis bagi perusahaan. Uni Eropa memiliki wewenang hukum untuk menjatuhkan denda hingga mencapai 10 persen dari total omset global Meta.

Baca Juga :  WHO Nyatakan Wabah Strain Bundibugyo sebagai Ancaman Global

Bantahan Meta dan Kontroversi Biaya Akses

Pihak Meta segera merespons keputusan darurat tersebut dengan menyatakan penolakan keras secara terbuka. Namun, mereka memastikan akan segera mengajukan banding hukum ke pengadilan Uni Eropa dalam waktu dekat.

Juru bicara Meta menilai keputusan tersebut sebagai bentuk campur tangan regulasi yang terlalu berlebihan. Selain itu, ia menuduh aturan baru ini hanya akan memberikan keuntungan cuma-cuma bagi raksasa teknologi seperti OpenAI.

Sebelumnya, Meta sempat mengenakan biaya sewa khusus bagi para penyedia AI saingan pada April lalu. Akan tetapi, Komisi Eropa menolak solusi tarif tersebut karena nilainya setara dengan larangan akses sebelumnya.

Dengan demikian, Uni Eropa mendesak pemulihan sistem sesuai kondisi sebelum perubahan kebijakan sepihak Meta pada Oktober tahun lalu.

Baca Juga :  Raksasa Lembut Lautan di Ambang Batas: Kisah Manatee yang Berjuang untuk Bertahan Hidup

Rentetan Pelanggaran dan Ketegangan DMA

Perselisihan ini menambah daftar panjang kasus hukum yang Meta hadapi dengan regulator Uni Eropa sepanjang tahun ini. Sebagai contoh, penyelidik menemukan kegagalan Meta dalam menyaring pengguna anak-anak di bawah umur 13 tahun pada April kemarin.

Sementara itu, Meta juga sedang berjuang melawan denda antimonopoli sebesar 200 juta euro dari tahun lalu. Denda besar tersebut jatuh berdasarkan aturan ketat Undang-Undang Pasar Digital milik Uni Eropa.

Aturan hukum DMA ini memang sangat tidak populer bagi para raksasa teknologi asal Amerika Serikat. Bahkan, Presiden AS Donald Trump juga berulang kali mengecam kebijakan regulasi ketat dari benua Eropa tersebut.

Di sisi lain, perusahaan Apple juga sempat menyalahkan aturan DMA atas penundaan peluncuran asisten suara Siri bertenaga AI. Pada akhirnya, Uni Eropa menolak mentah-mentah pembelaan Apple dan tetap berkomitmen menegakkan kedaulatan digital mereka.

Penulis : Alifa Latifa

Editor : Alifa Latifa

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Aksi Tolak Kenaikan BBM di Jakarta Pusat Disorot, Potensi Gejolak Politik Menguat
Sam Altman dan Bernie Sanders Bahas Kemitraan Sipil
Viral Pelajar Dibacok di Palmerah Jakarta Barat, Korban Alami 7 Jahitan
Takaichi dan Anwar Ibrahim Sepakati Kemitraan Energi Baru
Tabung Oksigen Terpental Saat Pengisian di Cilincing, Hantam Rumah dan Warung Warga
Cuaca Jabodetabek Hari Ini Cerah Berawan, Suhu Udara Capai 34 Derajat Celsius
Tim Penyelamat Terus Cari Korban Tertimbun di General Santos
Isu Demo Besar Juni-Juli 2026, Kapolri Pastikan Polri Kawal Aksi Secara Humanis

Berita Terkait

Kamis, 11 Juni 2026 - 08:38 WIB

Aksi Tolak Kenaikan BBM di Jakarta Pusat Disorot, Potensi Gejolak Politik Menguat

Kamis, 11 Juni 2026 - 08:20 WIB

Sam Altman dan Bernie Sanders Bahas Kemitraan Sipil

Kamis, 11 Juni 2026 - 07:14 WIB

Uni Eropa Paksa Meta Buka Akses WhatsApp untuk ChatGPT

Kamis, 11 Juni 2026 - 06:30 WIB

Viral Pelajar Dibacok di Palmerah Jakarta Barat, Korban Alami 7 Jahitan

Kamis, 11 Juni 2026 - 06:12 WIB

Takaichi dan Anwar Ibrahim Sepakati Kemitraan Energi Baru

Berita Terbaru

Fusi tidak biasa di panggung politik Washington. Sam Altman dan Bernie Sanders berdiskusi mengenai pembentukan dana kekayaan publik melalui kepemilikan saham di perusahaan AI. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Sam Altman dan Bernie Sanders Bahas Kemitraan Sipil

Kamis, 11 Jun 2026 - 08:20 WIB

Ilustrasi, Kebijakan monopoli digital digoyang. Uni Eropa memerintahkan Meta memberikan akses WhatsApp gratis bagi chatbot AI pesaing guna menjaga iklim kompetisi. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Uni Eropa Paksa Meta Buka Akses WhatsApp untuk ChatGPT

Kamis, 11 Jun 2026 - 07:14 WIB

Mengamankan jalur energi regional. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dan PM Malaysia Anwar Ibrahim memperkuat kemitraan maritim serta jaminan pasokan LNG di tengah krisis Timur Tengah. (David Mareuil/Pool Photo via AP)

INTERNASIONAL

Takaichi dan Anwar Ibrahim Sepakati Kemitraan Energi Baru

Kamis, 11 Jun 2026 - 06:12 WIB