JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Selama ribuan tahun, mutiara telah memegang gelar sebagai “Ratu Permata”. Daya tarik mutiara melampaui sekadar perhiasan biasa; ia adalah kapsul waktu biologis yang mencerminkan status sosial dan kemajuan perdagangan antar-bangsa di masa lalu.
Dahulu, kalung mutiara alami yang serasi merupakan harta karun dengan nilai yang hampir tidak tertandingi. Sebelum penemuan teknik mutiara budidaya, permata ini begitu langka sehingga hampir secara eksklusif petugas cadangkan bagi kaum bangsawan dan orang-orang terkaya di dunia.
Jejak Arkeologis: Dari Mesir hingga Kekaisaran Persia
Masyarakat Mesir kuno sangat menggemari mutiara. Banyak pemimpin Mesir menghargai koleksi mutiara mereka hingga meminta agar perhiasan tersebut ikut petugas makamkan bersama jenazah mereka.
Di sisi lain, di wilayah Timur dan Kekaisaran Persia, mutiara seringkali masyarakat tumbuk menjadi bubuk mahal. Mereka memercayai bubuk tersebut mampu menyembuhkan berbagai penyakit, mulai dari penyakit jantung hingga epilepsi. Sejarah Tiongkok yang panjang juga memberikan bukti luas mengenai pentingnya mutiara dalam diplomasi dan pengobatan tradisional.
Anatomi Pembentukan: Alami vs Budidaya
Sains modern membagi mutiara ke dalam tiga kategori utama: alami, budidaya, dan simulasi (tiruan). Secara biologis, mutiara terbentuk ketika zat pengiritasi, seperti butiran pasir, masuk ke dalam tubuh tiram, remis, atau kerang.
Sebagai mekanisme pertahanan, moluska akan mengeluarkan cairan untuk melapisi benda asing tersebut. Lapisan demi lapisan deposit inilah yang akhirnya membentuk mutiara yang berkilau.
- Mutiara Alami: Terbentuk secara spontan di alam liar tanpa campur tangan manusia.
- Mutiara Budidaya: Menggunakan proses biologis yang sama, namun manusia secara bedah menanamkan “inti” atau potongan cangkang sebagai katalis.
- Mutiara Tiruan: Biasanya berupa manik-manik kaca yang petugas celupkan ke dalam larutan sisik ikan. Perhiasan jenis ini tidak memiliki berat atau kehalusan mutiara asli.
Perjuangan 10 Tahun di Dasar Laut
Proses perolehan mutiara, baik alami maupun budidaya, membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Moluska harus mencapai usia matang sekitar tiga tahun sebelum siap menerima benda pengiritasi. Selanjutnya, dibutuhkan waktu tiga tahun lagi bagi mutiara untuk mencapai ukuran penuhnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Risiko kegagalan dalam industri ini sangat tinggi. Sering kali, tiram menolak benda asing tersebut atau mati akibat penyakit. Alhasil, dari satu siklus produksi selama 5 hingga 10 tahun, hanya sekitar 50 persen tiram yang berhasil bertahan hidup. Bahkan, dari mutiara yang dihasilkan, hanya sekitar 5 persen yang memiliki kualitas cukup tinggi untuk digunakan oleh pembuat perhiasan papan atas.
Menakar Nilai dan Geografi Pasar Global
Nilai sebuah mutiara ditentukan oleh dua faktor utama: kilau (luster) dan ukuran. Kilau sangat bergantung pada kehalusan dan kerataan lapisan mutiara. Semakin dalam pancaran cahayanya, semakin mahal harganya.
Secara historis, mutiara terbaik di dunia berasal dari Teluk Persia, khususnya di sekitar wilayah Bahrain. Namun demikian, industri mutiara alami di sana berakhir mendadak pada awal 1930-an akibat polusi tumpahan minyak dan penangkapan berlebihan. Saat ini, stok mutiara alami terbesar berada di India, sementara pasar mutiara budidaya global dikuasai oleh Jepang dengan pangsa pasar mencapai 80 persen. Australia dan Tiongkok menyusul di posisi kedua dan ketiga, memastikan mutiara tetap menjadi komoditas mewah yang paling dicari di pasar internasional.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















