Perang Timur Tengah Hari Ke-6: Gempuran Infrastruktur Teheran dan Kegagalan Resolusi Senat AS

Jumat, 6 Maret 2026 - 14:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Krisis loyalitas di internal Republik. Sejumlah senator dan komentator konservatif mengecam keras kesepakatan damai sementara Donald Trump dengan Iran. Dok: Istimewa.

Krisis loyalitas di internal Republik. Sejumlah senator dan komentator konservatif mengecam keras kesepakatan damai sementara Donald Trump dengan Iran. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Konflik bersenjata di Timur Tengah terus meluas tanpa menunjukkan tanda-tanda de-eskalasi. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengumumkan melalui platform X bahwa mereka telah meluncurkan gelombang serangan besar yang menargetkan infrastruktur di ibu kota Iran, Teheran, pada Kamis pagi.

Serangan ini bertepatan dengan aksi balasan Iran yang meluncurkan hujan misil ke arah Tel Aviv sebelum fajar. Meskipun demikian, sistem pertahanan udara Israel mengklaim berhasil mencegat sebagian besar proyektil tersebut. Di sisi lain, Bulan Sabit Merah Iran melaporkan bahwa kampanye udara AS-Israel telah menghantam 174 kota di seluruh negeri dengan total lebih dari 1.300 serangan yang masuk dalam catatan hingga hari ini.

Torpedo Kapal Selam dan Klaim Hegseth

Kejutan militer terbesar datang dari pengumuman Departemen Pertahanan AS. Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengonfirmasi bahwa sebuah kapal selam Amerika Serikat berhasil menenggelamkan kapal perang Iran di perairan internasional.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Satu kapal selam Amerika menenggelamkan kapal perang Iran yang mengira dirinya aman di perairan internasional,” ujar Hegseth dalam konferensi pers di Pentagon. Hegseth menekankan bahwa torpedo menghancurkan kapal tersebut, yang menandai peristiwa saat torpedo menenggelamkan kapal musuh untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II. Para analis menilai operasi ini sebagai bagian dari strategi “Fase Dua” yang Trump lancarkan setelah kematian Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan udara hari Sabtu lalu.

Baca Juga :  Dokter Iran Bongkar Kedok Pembantaian 30.000 Jiwa

Kebuntuan Politik: Senat Dukung Operasi Trump

Di saat peperangan berkecamuk, pertarungan politik di Washington justru menguatkan posisi Presiden Donald Trump. Senat Amerika Serikat pada Rabu malam gagal meloloskan resolusi kekuatan perang yang bertujuan membatasi operasi militer Trump di Iran.

Melalui pemungutan suara 53-47, kubu Republik berhasil memblokir resolusi dorongan kubu Demokrat. Senator Tim Kaine, salah satu pendukung resolusi, meluncurkan kritik pedas atas pengeluaran perang senilai $8 triliun selama 25 tahun terakhir di Timur Tengah yang ia nilai sia-sia. “Apa yang kita dapatkan dari semua itu?” tanya Kaine dengan nada getir. Sebaliknya, kubu Republik berargumen bahwa rakyat Amerika memerlukan tindakan Trump guna melindungi keamanan nasional dari ancaman nuklir Iran.

Pembantaian di Lebanon dan Pengungsian Massal

Konfrontasi regional merembat hebat ke Lebanon. Media resmi Lebanon melaporkan delapan orang tewas pada Kamis pagi akibat serangan udara Israel di wilayah selatan dan timur. Serangan drone Israel secara spesifik menyasar kendaraan sipil di Al-Qlailah dan jalanan di Zahle.

Baca Juga :  Pemerintah Jepang Pangkas Pajak Konsumsi Makanan

Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) melaporkan situasi yang sangat mengerikan bagi warga sipil. Setidaknya 80.000 orang telah mencari perlindungan di tempat pengungsian kolektif, namun angka tersebut hanyalah sebagian kecil dari total warga yang terus melarikan diri ke utara Sungai Litani. “Warga sipil pergi hanya dengan pakaian yang melekat di badan,” tulis pernyataan resmi OCHA.

Status Selat Hormuz dan Peringatan IMF

Meskipun terjadi penumpukan militer yang luar biasa, Iran mengeklaim bahwa mereka belum menutup Selat Hormuz. Wakil Komandan Markas Pusat Khatam al-Anbia, Kiumars Heidari, menyatakan bahwa Iran tetap mengizinkan kapal melintas sesuai protokol internasional, sembari bersumpah tidak akan menghentikan perang sebelum “mematahkan tanduk Amerika”.

Namun demikian, ketidakpastian jalur energi ini memicu alarm di lembaga keuangan dunia. Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, memperingatkan bahwa konflik ini akan memicu lonjakan harga energi global, inflasi, dan sentimen pasar yang negatif. Dunia kini memandang guncangan ekonomi ini sebagai “normal baru” yang akan terus menguji ketangguhan ekonomi global sepanjang tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Presiden Xi Jinping Dorong Blok BRICS Jadi Juru Damai Konflik
Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%
Peluncuran Konsol Retro NEOGEO AES+ Ditunda
Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya
Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa
Shinjuku Larang Separuh Sewa Liburan, Termasuk Properti
Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir
PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 20:57 WIB

Presiden Xi Jinping Dorong Blok BRICS Jadi Juru Damai Konflik

Minggu, 13 September 2026 - 19:56 WIB

Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%

Minggu, 13 September 2026 - 13:30 WIB

Peluncuran Konsol Retro NEOGEO AES+ Ditunda

Rabu, 9 September 2026 - 08:03 WIB

Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya

Rabu, 9 September 2026 - 07:00 WIB

Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa

Berita Terbaru

Presiden Xi Jinping menyerukan blok BRICS menjadi juru damai konflik Timur Tengah pada KTT New Delhi serta mempererat hubungan diplomatik dengan India. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Presiden Xi Jinping Dorong Blok BRICS Jadi Juru Damai Konflik

Minggu, 13 Sep 2026 - 20:57 WIB

2.713 penari dari 12 negara membawakan Tari Semarak Jali-Jali Betawi di Ancol. (Posnews/Ancol)

JABODETABEK

Budaya Betawi Mendunia, 2.713 Penari Pecahkan Rekor MURI di Ancol

Minggu, 13 Sep 2026 - 20:41 WIB

Hakim federal AS membatalkan rencana pemangkasan 50% staf FEMA era pemerintahan Trump. Keputusan ini dinilai menegakkan undang-undang perlindungan FEMA. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%

Minggu, 13 Sep 2026 - 19:56 WIB