Trump Mainkan Kartu Ekonomi di Asia: Fokus Harga Murah

Selasa, 30 Desember 2025 - 09:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana pertemuan tingkat tinggi dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un pada akhir tahun 2026. Dok: Istimewa.

Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana pertemuan tingkat tinggi dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un pada akhir tahun 2026. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump mungkin sering tidak terduga. Namun, satu hal tampaknya pasti: pendekatan “ekonomi-pertama” (economic-first) terhadap Asia akan terus berlanjut hingga 2026.

Menjelang pemilihan paruh waktu (midterm elections) yang kurang dari setahun lagi, Trump mengubah fokusnya secara tajam. Ia kini lebih peduli pada kekhawatiran domestik soal keterjangkauan harga daripada isu geopolitik yang rumit.

Pasalnya, jajak pendapat menunjukkan rakyat Amerika semakin frustrasi dengan kenaikan biaya hidup. Akibatnya, Trump mempercepat poros kebijakan ini sekembalinya dari perjalanan Asia akhir Oktober lalu.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tarif dan Kesepakatan Busan

Dalam setiap diskusi luar negeri, Trump konsisten menyoroti aspek ekonomi. Ia sering mengklaim bahwa ancaman tarifnya telah menghasilkan kesepakatan yang menguntungkan bagi AS.

Kecenderungan ini terlihat jelas dalam hubungan AS-China. Berbeda dengan pendahulunya, pemerintahan Trump lebih melihat China lewat lensa kompetisi ekonomi, bukan ideologis.

Baca Juga :  Kabar Baik dari Gaza: Status Kelaparan Dicabut, PBB Peringatkan Risiko Masih Tinggi

Trump jarang mengkritik Beijing dari sudut pandang hak asasi manusia. Bahkan, ia menghindari topik sensitif seperti Taiwan.

“Lintasan tingkat tinggi secara keseluruhan lebih berfokus pada isu ekonomi, dengan kedua pihak memenuhi apa yang mereka sepakati di Busan,” jelas Bonny Lin, pakar China dari CSIS.

Di Busan, Korea Selatan, Trump dan Presiden Xi Jinping menyepakati gencatan senjata perang dagang selama satu tahun. Hasilnya, China menangguhkan kontrol ekspor logam tanah jarang dan kembali membeli kedelai AS, sementara AS menurunkan tarif impor.

Kunjungan April dan Ketidakpastian

Rencana besar berikutnya adalah kunjungan Trump ke China pada April 2026. Kunjungan kenegaraan ini diprediksi menjadi peristiwa diplomatik utama tahun depan.

Meskipun peluang kesepakatan besar tipis, Trump mungkin tetap pergi. Ia ingin menampilkan dirinya sebagai inisiator yang memegang kendali hubungan bilateral.

“Dia mungkin tidak melihat hasil kesepakatan (deliverables) sebagai prasyarat wajib,” kata Lin. Namun, ketidakpastian masih tinggi. Perilaku agresif China terhadap sekutu AS seperti Jepang bisa menjadi pengganggu.

Baca Juga :  Membedah Realisme Geopolitik dalam Perebutan Arktik 2026

“Ada risiko faktor-faktor tersebut masuk dan memengaruhi arah yang telah ditetapkan Presiden Trump,” tambahnya.

Tensi Jepang-China Jadi Ganjalan

Di sisi lain, Jeffrey Hornung dari Rand Corporation menyoroti dilema keamanan. Keretakan diplomatik yang membesar antara Tokyo dan Beijing sejak November bisa mempersulit strategi Trump.

Perselisihan ini dipicu oleh komentar PM Jepang Sanae Takaichi soal kontingensi Taiwan. Trump sadar ini adalah situasi yang “halus”. Ia harus menyeimbangkan dua hubungan yang sangat penting.

Hornung memperingatkan bahwa China bisa “menggali lubang sendiri” jika terlalu menekan Jepang.

Sebaliknya, jika AS membuka diri untuk keterlibatan ekonomi tetapi China justru memanfaatkannya, hal itu akan menyulitkan langkah Washington ke depan. Pada akhirnya, bagi Trump, nasib pemilu 2026 mungkin lebih bergantung pada harga barang di Walmart daripada siapa yang menguasai Laut China Selatan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Giorgia Meloni Usul Pembatasan Siswa Asing dan Larangan Burqa
Ukraina Meluncurkan Seribu Drone ke Moskow di Tengah Pemilu
Pejabat Tinggi Houthi Peringatkan Sekutu Arab Saudi
Donald Trump Bentuk AI Force dan Tolak Pembatasan AI
Pengamat Oposisi Pingsan Saat Polisi Lakukan Penangkapan
Denmark Tegaskan Kedaulatan Usai Trump Klaim Kontrol
Houthi Serang Situs di Riyadh dan Fasilitas Aramco di Yanbu
Korea Utara Tembakkan Rudal Balistik ke Arah Laut Jepang

Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 09:18 WIB

Giorgia Meloni Usul Pembatasan Siswa Asing dan Larangan Burqa

Selasa, 22 September 2026 - 07:01 WIB

Ukraina Meluncurkan Seribu Drone ke Moskow di Tengah Pemilu

Selasa, 22 September 2026 - 06:00 WIB

Pejabat Tinggi Houthi Peringatkan Sekutu Arab Saudi

Minggu, 20 September 2026 - 21:58 WIB

Donald Trump Bentuk AI Force dan Tolak Pembatasan AI

Minggu, 20 September 2026 - 20:55 WIB

Pengamat Oposisi Pingsan Saat Polisi Lakukan Penangkapan

Berita Terbaru

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati. (Posnews/Ist)

JABODETABEK

Kasus ISPA Jakarta Naik 15,7 Persen, Ini Imbauan Dinkes untuk Warga

Selasa, 22 Sep 2026 - 16:28 WIB

Kamera portabel CAIM1 memakai kipas mini Noctua NF-A4x10 untuk pendinginan video 4K dan pemrosesan kriptografi. Simak detail spesifikasinya. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Kamera CAIM1 Gunakan Kipas Mini Noctua untuk Mendinginkan

Selasa, 22 Sep 2026 - 14:29 WIB