Kebuntuan di Timur Tengah: Iran Tolak Proposal Gencatan Senjata AS

Kamis, 26 Maret 2026 - 11:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Diplomasi di tengah kebuntuan. Teheran sedang meninjau memorandum perdamaian dari Amerika Serikat guna mengakhiri perang secara formal, memicu reaksi instan pada pasar energi dunia dan optimisme dari Presiden Donald Trump. Dok: Istimewa.

Diplomasi di tengah kebuntuan. Teheran sedang meninjau memorandum perdamaian dari Amerika Serikat guna mengakhiri perang secara formal, memicu reaksi instan pada pasar energi dunia dan optimisme dari Presiden Donald Trump. Dok: Istimewa.

TEHERAN, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Iran menolak mentah-mentah rencana Amerika Serikat untuk menghentikan sementara peperangan di Timur Tengah pada hari Rabu. Penolakan ini dibarengi dengan peluncuran gelombang serangan baru yang menghantam infrastruktur energi di negara-negara Teluk.

Dalam konteks ini, serangan drone Iran memicu kebakaran hebat di tangki bahan bakar Bandara Internasional Kuwait. Aksi ini menunjukkan peningkatan tekanan militer Teheran terhadap sekutu-sekutu Washington di kawasan tersebut.

Duel Narasi: Antara Negosiasi dan Penolakan

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memberikan pernyataan tegas melalui televisi negara. Ia mengeklaim pemerintahnya tidak terlibat dalam pembicaraan apa pun untuk mengakhiri perang. “Kami tidak merencanakan negosiasi apa pun,” ujar Araghchi guna mematahkan klaim optimis dari Gedung Putih.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebaliknya, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan bahwa pembicaraan terus berlanjut secara produktif. Presiden Donald Trump mengeklaim sedang berurusan dengan pihak-pihak yang “ingin mencapai kesepakatan”. Perbedaan informasi ini menciptakan kebingungan besar mengenai arah kebijakan luar negeri kedua negara di tengah berkecamuknya konflik fisik.

Baca Juga :  Israel Perluas Zona Keamanan di Lebanon Selatan demi Redam Hezbollah

Syarat Gencatan Senjata: 15 Poin vs 5 Poin

Dua pejabat Pakistan mengungkapkan bahwa proposal AS mencakup 15 poin utama. Ketentuan tersebut menuntut pengurangan program nuklir Iran, batasan rudal, serta pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh. Sebagai imbalannya, Washington menjanjikan keringanan sanksi ekonomi bagi Teheran.

Namun, Iran mengajukan proposal tandingan sebanyak 5 poin melalui media Press TV. Tuntutan Teheran mencakup penghentian pembunuhan pejabat mereka, pembayaran kompensasi perang (reparasi), dan pengakuan kedaulatan penuh atas Selat Hormuz. Poin kedaulatan maritim dan reparasi diprediksi akan menjadi hambatan yang tidak mungkin diterima oleh pemerintahan Trump.

Eskalasi Militer: Pengerahan Divisi Airborne ke-82

Di saat meja diplomasi masih panas, Pentagon memperkuat kehadiran fisik mereka di Timur Tengah. Amerika Serikat mulai mengirimkan 1.000 personel dari Divisi Airborne ke-82. Pasukan ini memiliki spesialisasi dalam mengamankan teritori musuh dan lapangan udara secara cepat melalui terjun payung.

Baca Juga :  Guncangan Global di Afrika: Menlu Afsel Peringatkan Ancaman Krisis Pangan dan Energi

Selain itu, Departemen Pertahanan juga mengerahkan 5.000 Marinir tambahan serta ribuan pelaut. Langkah ini merupakan respon atas serangan balik Iran-Hezbollah yang terus menghujani Israel utara dengan roket. Militer Israel sendiri mengonfirmasi telah menyelesaikan beberapa gelombang serangan udara baru di Teheran dan Isfahan pada Rabu sore.

Dampak Kemanusiaan dan Respon Pasar

Biaya manusia dari perang ini terus membengkak secara mengerikan. Kementerian Kesehatan Iran melaporkan jumlah kematian telah melampaui 1.500 jiwa. Sementara itu, Lebanon mencatat hampir 1.100 orang tewas akibat gempuran terhadap basis-basis Hezbollah. Di pihak sekutu, sedikitnya 13 anggota militer AS terkonfirmasi gugur dalam tugas.

Secara ekonomi, berita mengenai potensi negosiasi sempat menekan harga minyak Brent ke angka $100 per barel. Meskipun demikian, harga tersebut masih 35 persen lebih tinggi dibandingkan saat perang bermula pada 28 Februari lalu. Jajak pendapat terbaru menunjukkan mayoritas warga Amerika mulai khawatir terhadap lonjakan harga bensin dan menganggap aksi militer pemerintah telah melampaui batas.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir
PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji
Sony Perkenalkan DualSense GTA 6 Limited Edition
AS Serang Tiga Kapal Tanker Minyak Iran usai Rudal IRGC
Putin Temui Utusan AS Witkoff dan Kushner di Kremlin
USS Abraham Lincoln Tinggalkan Thailand Usai Kunjungan
Takaichi Bantah Revisi UU Rumah Kekaisaran Halangi Suksesi
Petugas Imigrasi AS Didakwa Berbohong soal Penembakan Warga

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 17:25 WIB

PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji

Minggu, 6 September 2026 - 15:00 WIB

Sony Perkenalkan DualSense GTA 6 Limited Edition

Minggu, 6 September 2026 - 14:45 WIB

AS Serang Tiga Kapal Tanker Minyak Iran usai Rudal IRGC

Minggu, 6 September 2026 - 14:14 WIB

Putin Temui Utusan AS Witkoff dan Kushner di Kremlin

Minggu, 6 September 2026 - 13:30 WIB

USS Abraham Lincoln Tinggalkan Thailand Usai Kunjungan

Berita Terbaru

Polisi membagikan masker kepada warga Bekasi untuk mengantisipasi paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. (Posnews/Ist)

JABODETABEK

Abu Anak Krakatau Menerpa Bekasi, Pengendara Dibagikan Masker

Minggu, 6 Sep 2026 - 21:17 WIB

Ilustrasi, bangku sekolah kosong. (Posnews/Ist)

DAERAH

Abu Krakatau Masuk Serang, Sekolah PAUD-SMP Beralih ke PJJ

Minggu, 6 Sep 2026 - 20:38 WIB