TEHERAN, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Iran menolak mentah-mentah rencana Amerika Serikat untuk menghentikan sementara peperangan di Timur Tengah pada hari Rabu. Penolakan ini dibarengi dengan peluncuran gelombang serangan baru yang menghantam infrastruktur energi di negara-negara Teluk.
Dalam konteks ini, serangan drone Iran memicu kebakaran hebat di tangki bahan bakar Bandara Internasional Kuwait. Aksi ini menunjukkan peningkatan tekanan militer Teheran terhadap sekutu-sekutu Washington di kawasan tersebut.
Duel Narasi: Antara Negosiasi dan Penolakan
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memberikan pernyataan tegas melalui televisi negara. Ia mengeklaim pemerintahnya tidak terlibat dalam pembicaraan apa pun untuk mengakhiri perang. “Kami tidak merencanakan negosiasi apa pun,” ujar Araghchi guna mematahkan klaim optimis dari Gedung Putih.
Sebaliknya, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan bahwa pembicaraan terus berlanjut secara produktif. Presiden Donald Trump mengeklaim sedang berurusan dengan pihak-pihak yang “ingin mencapai kesepakatan”. Perbedaan informasi ini menciptakan kebingungan besar mengenai arah kebijakan luar negeri kedua negara di tengah berkecamuknya konflik fisik.
Syarat Gencatan Senjata: 15 Poin vs 5 Poin
Dua pejabat Pakistan mengungkapkan bahwa proposal AS mencakup 15 poin utama. Ketentuan tersebut menuntut pengurangan program nuklir Iran, batasan rudal, serta pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh. Sebagai imbalannya, Washington menjanjikan keringanan sanksi ekonomi bagi Teheran.
Namun, Iran mengajukan proposal tandingan sebanyak 5 poin melalui media Press TV. Tuntutan Teheran mencakup penghentian pembunuhan pejabat mereka, pembayaran kompensasi perang (reparasi), dan pengakuan kedaulatan penuh atas Selat Hormuz. Poin kedaulatan maritim dan reparasi diprediksi akan menjadi hambatan yang tidak mungkin diterima oleh pemerintahan Trump.
Eskalasi Militer: Pengerahan Divisi Airborne ke-82
Di saat meja diplomasi masih panas, Pentagon memperkuat kehadiran fisik mereka di Timur Tengah. Amerika Serikat mulai mengirimkan 1.000 personel dari Divisi Airborne ke-82. Pasukan ini memiliki spesialisasi dalam mengamankan teritori musuh dan lapangan udara secara cepat melalui terjun payung.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, Departemen Pertahanan juga mengerahkan 5.000 Marinir tambahan serta ribuan pelaut. Langkah ini merupakan respon atas serangan balik Iran-Hezbollah yang terus menghujani Israel utara dengan roket. Militer Israel sendiri mengonfirmasi telah menyelesaikan beberapa gelombang serangan udara baru di Teheran dan Isfahan pada Rabu sore.
Dampak Kemanusiaan dan Respon Pasar
Biaya manusia dari perang ini terus membengkak secara mengerikan. Kementerian Kesehatan Iran melaporkan jumlah kematian telah melampaui 1.500 jiwa. Sementara itu, Lebanon mencatat hampir 1.100 orang tewas akibat gempuran terhadap basis-basis Hezbollah. Di pihak sekutu, sedikitnya 13 anggota militer AS terkonfirmasi gugur dalam tugas.
Secara ekonomi, berita mengenai potensi negosiasi sempat menekan harga minyak Brent ke angka $100 per barel. Meskipun demikian, harga tersebut masih 35 persen lebih tinggi dibandingkan saat perang bermula pada 28 Februari lalu. Jajak pendapat terbaru menunjukkan mayoritas warga Amerika mulai khawatir terhadap lonjakan harga bensin dan menganggap aksi militer pemerintah telah melampaui batas.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia
















