Jebakan Self-Diagnosis: Saat Kesadaran Kesehatan Mental Menjadi Bumerang

Jumat, 14 November 2025 - 19:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Media sosial (TikTok/Instagram) sukses meningkatkan kesadaran kesehatan mental. Namun, kini ia memicu tren self-diagnosis ADHD atau Bipolar yang berbahaya. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Media sosial (TikTok/Instagram) sukses meningkatkan kesadaran kesehatan mental. Namun, kini ia memicu tren self-diagnosis ADHD atau Bipolar yang berbahaya. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Dalam beberapa tahun terakhir, kesadaran (awareness) kesehatan mental telah meledak secara global. Hebatnya, platform seperti TikTok dan Instagram berhasil mengubah topik yang sebelumnya tabu menjadi percakapan arus utama.

Banyak orang kini merasa lebih nyaman membicarakan kecemasan (anxiety), depresi, atau trauma. Tentu saja, ini adalah kemajuan positif yang sangat membantu mengurangi stigma seputar kesehatan mental.

Akan tetapi, medali ini memiliki dua sisi. Kini, kesadaran yang tinggi ini juga menciptakan bumerang yang berbahaya: jebakan “self-diagnosis” (diagnosis mandiri).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Ini Gue Banget!”

Anda mungkin sering melihat konten viral di linimasa Anda. Misalnya, video “Lima Tanda Kamu Mengidap ADHD” atau “Hidup dengan Bipolar Tipe 2”. Banyak orang menonton video-video ini dan merasa sangat relate dengan gejalanya. Mereka berpikir, “Ini ‘kan saya sekali!”

Akibatnya, mereka mulai mengidentifikasi diri secara mandiri sebagai pengidap ADHD, Bipolar Disorder, atau Autism Spectrum Disorder (ASD). Seringkali, mereka membuat kesimpulan ini hanya berdasarkan klip video berdurasi 60 detik yang algoritma sodorkan.

Baca Juga :  Satgas Tangkap Wadanyon HSSBI di Bandara Dekai, Amunisi dan Senjata Disita

Trivialisasi hingga Penanganan yang Salah

Meskipun niat awalnya baik (mencari jawaban), namun self-diagnosis membawa tiga bahaya besar:

  1. Trivialisasi Gangguan Mental: Pertama, tren ini meremehkan (trivialization) kondisi klinis yang serius. ADHD bukan sekadar “sulit fokus”, dan Bipolar bukan hanya “mood swing” biasa. Ketika semua orang mengklaim memilikinya berdasarkan gejala ringan, maka orang yang benar-benar berjuang dengan gangguan parah kehilangan validitasnya.
  2. Kesalahan Diagnosis (Misdiagnosis): Kedua, gejala psikologis seringkali tumpang tindih. Sebagai contoh, kesulitan fokus bukan hanya gejala ADHD; ia bisa juga gejala depresi berat, burnout kronis, atau bahkan kurang tidur. Akibatnya, seseorang mungkin mengira ia mengidap ADHD, padahal ia sebenarnya mengalami trauma mendalam yang membutuhkan penanganan berbeda.
  3. Penanganan yang Salah: Ini adalah bahaya terbesarnya. Jika Anda salah mendiagnosis, Anda hampir pasti akan salah menangani. Anda mungkin mencoba “tips & trik” manajemen ADHD dari TikTok, padahal Anda sebenarnya membutuhkan terapi trauma atau obat antidepresan dari seorang profesional.

Mengapa Orang Beralih ke TikTok?

Lalu, mengapa tren ini meledak? Mengapa orang lebih percaya algoritma daripada profesional? Alasannya sangat kompleks dan manusiawi:

  1. Mahalnya Biaya Profesional: Jujur saja, pergi ke psikolog atau psikiater membutuhkan biaya mahal. Tidak semua orang memiliki akses, waktu, atau asuransi untuk menjangkau layanan kesehatan mental profesional.
  2. Stigma yang Tersisa: Meskipun stigma berkurang di dunia online, namun di dunia nyata (lingkungan keluarga atau tempat kerja), mengunjungi psikiater seringkali masih dianggap “gila” atau “lemah”. Oleh karena itu, self-diagnosis terasa lebih aman dan privat.
  3. Mencari Validasi dan Komunitas: Ini adalah alasan psikologis yang kuat. Ketika Anda merasa “berbeda” atau “rusak” seumur hidup Anda, menemukan label (seperti ADHD atau ASD) terasa seperti sebuah validasi. Anda berpikir, “Oh, jadi saya tidak sendirian. Ada komunitasnya.”
Baca Juga :  Kapolri Minta Warga Laporkan Rumah Kosong Saat Mudik, Polisi Siap Patroli

Validasi Perasaan vs. Diagnosis Klinis

Pada akhirnya, penting bagi kita untuk menarik garis batas yang tegas. Merasa relate dengan pengalaman orang lain di media sosial adalah hal yang sangat manusiawi dan penting untuk validasi perasaan. Anda berhak merasa terpuruk, kacau, atau sulit fokus.

Akan tetapi, validasi perasaan berbeda jauh dengan diagnosis klinis. Diagnosis adalah proses medis kompleks yang membutuhkan evaluasi profesional, bukan algoritma media sosial.

Maka, gunakanlah media sosial sebagai langkah awal untuk meningkatkan kesadaran. Namun, jika Anda benar-benar merasa membutuhkan jawaban, jangan berhenti di TikTok. Selalu jadikan profesional kesehatan mental sebagai langkah akhir Anda.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang
Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap
Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak
Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa
Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar
Kapal Mati Mesin di Perairan Pulau Pari, Gulkarmat Evakuasi 150 Penumpang
Home Industry Vape THC di Bali Terbongkar, Omzet Diduga Capai Rp300 Miliar
TPA Jatiwaringin Tangerang Terbakar 15 Hektare, BNPB: 40 Persen Api Sudah Padam

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:17 WIB

Serangan Infrastruktur AS-Iran Picu Ancaman Perang

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:13 WIB

Trump Ancam Kanada dengan Tarif Baru Akibat Asap

Selasa, 7 Juli 2026 - 21:55 WIB

Tarumajaya Bekasi Penuhi Sampah dan Genangan, Warga Desak Dedi Mulyadi Bertindak

Senin, 6 Juli 2026 - 05:24 WIB

Polisi Ringkus Pemotor Ninja RR yang Tampar Pengendara di Jagakarsa

Minggu, 5 Juli 2026 - 20:09 WIB

Sumur Minyak Tradisional Meledak di Aceh Timur, Kobaran Api Masih Berkobar

Berita Terbaru

PM Kanada Mark Carney menyebut perundingan dagang dengan AS semakin sengit usai Donald Trump mengancam kenaikan tarif 50 persen. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Kanada Sebut Perundingan Dagang AS Makin Sengit

Sabtu, 8 Agu 2026 - 09:01 WIB

Presiden Donald Trump menandatangani dua perintah eksekutif untuk membatasi hak kewarganegaraan berdasarkan tempat lahir usai Mahkamah Agung menolak kebijakan sebelumnya. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Trump Terbitkan Perintah Eksekutif Baru

Sabtu, 8 Agu 2026 - 07:00 WIB