MUSCAT, POSNEWS.CO.ID – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi tiba di ibu kota Oman, Muscat, pada Jumat pagi waktu setempat. Ia memimpin delegasi tingkat tinggi untuk melakukan pembicaraan nuklir dengan perwakilan Amerika Serikat.
Delegasi Iran mencakup tokoh-tokoh kunci seperti Wakil Menlu Majid Takht-Ravanchi dan Kazem Gharibabadi. Tim negosiasi Iran menegaskan bahwa pembicaraan ini akan berfokus secara eksklusif pada masalah nuklir. Mereka menepis spekulasi mengenai pembahasan topik lain di luar agenda tersebut.
Tekanan Gedung Putih dan Tuntutan Trump
Di Washington, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengonfirmasi kehadiran Steve Witkoff dan Jared Kushner dalam perundingan tersebut. Leavitt menyebut diplomasi sebagai “pilihan pertama” Presiden Donald Trump.
Namun, Leavitt memberikan peringatan keras agar Teheran tidak mengabaikan “banyak pilihan lain” yang tersedia bagi Trump. Pernyataan ini dianggap sebagai sinyal ancaman tindakan militer. Trump tetap pada posisi intinya bahwa Iran harus mencapai “kapabilitas nuklir nol”. Washington akan mengevaluasi langkah selanjutnya berdasarkan hasil pertemuan di Muscat ini.
Sengketa Lokasi dan Usulan Perjanjian Non-Agresi
Awalnya, kedua pihak merencanakan pertemuan di Istanbul, Turki. Namun, Iran mengusulkan pemindahan lokasi ke Oman karena menganggapnya lebih andal secara politik. Perubahan mendadak ini sempat memicu kemarahan Washington dan ancaman pembatalan.
Ketidakpastian tersebut memicu kekhawatiran di Timur Tengah. Negara-negara regional pun mendesak Amerika Serikat agar tetap melanjutkan perundingan. Laporan media Israel menyebutkan bahwa Arab Saudi, Qatar, Mesir, UEA, dan Pakistan turut berpartisipasi. Mereka kabarnya merancang kerangka kerja perjanjian non-agresi. Perjanjian ini menuntut Iran dan AS untuk berjanji tidak saling menyerang, termasuk terhadap sekutu regional masing-masing.
Perselisihan Inti yang Belum Terpecahkan
Meskipun diplomasi berjalan, perselisihan utama tetap sulit teratasi. Washington menuntut penghentian total pengayaan uranium dan pembatasan jangkauan rudal balistik Iran. Trump menilai kesepakatan nuklir 2015 terlalu lemah karena tidak mencakup program rudal dan pengaruh regional Iran.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebaliknya, Iran bersikeras bahwa program nuklirnya bertujuan damai dan merupakan hak yang tidak dapat diganggu gugat. Teheran juga menegaskan bahwa program rudalnya adalah bagian dari pertahanan nasional yang tidak bisa dinegosiasikan. Para ahli memperingatkan bahwa tekanan maksimal Washington dapat semakin mengguncang stabilitas kawasan yang sudah rapuh.
Peningkatan Kesiagaan Militer
Perundingan Muscat berlangsung di tengah persiapan militer yang intens dari kedua belah pihak. Amerika Serikat telah memperluas kehadiran militernya dengan mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln.
Pada hari Selasa, jet tempur F-35C AS menembak jatuh drone Shahed-139 Iran di atas Laut Arab dengan alasan “pertahanan diri”. Sebagai respons, IRGC Iran meresmikan pangkalan rudal bawah tanah baru pada Rabu. Mereka secara resmi mengubah doktrin militer dari defensif menjadi ofensif. Donald Trump pun memperingatkan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei agar “sangat khawatir” terhadap pembangunan kekuatan militer AS saat ini.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















