Krisis Pangan Global: Ketika Pasar Komoditas Bertabrakan

Kamis, 26 Maret 2026 - 07:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Piring kosong di meja dunia. Perspektif Food Regime Theory mengungkap cara volatilitas pasar dan monopoli agribisnis mengancam kedaulatan pangan nasional di tengah berkecamuknya konflik global tahun 2026. Dok: Istimewa.

Piring kosong di meja dunia. Perspektif Food Regime Theory mengungkap cara volatilitas pasar dan monopoli agribisnis mengancam kedaulatan pangan nasional di tengah berkecamuknya konflik global tahun 2026. Dok: Istimewa.

ROMA, POSNEWS.CO.ID – Dunia pada tahun 2026 menghadapi tantangan kemanusiaan yang paling mendasar: akses terhadap makanan. Dalam konteks ini, perspektif Food Regime Theory menyoroti bahwa krisis pangan saat ini bukan terjadi karena kelangkaan fisik. Sebaliknya, krisis ini merupakan hasil dari kegagalan struktur pasar komoditas global yang terlalu liberal dan rentan terhadap guncangan politik.

Negara-negara menyadari bahwa ketergantungan pada rantai pasok global yang tersentralisasi adalah risiko keamanan yang fatal. Oleh karena itu, diplomasi internasional kini bergeser dari sekadar perdagangan bebas menuju upaya mengamankan “isi piring” rakyat masing-masing.

Volatilitas Eropa Timur: Gandum dan Pupuk sebagai Senjata

Eropa Timur selama ini berfungsi sebagai lumbung pangan dunia. Namun, peperangan yang tak kunjung usai telah menghancurkan infrastruktur pertanian di wilayah tersebut. Sebagai hasilnya, harga gandum internasional mencatatkan rekor tertinggi dalam satu dekade terakhir. Lebih lanjut, gangguan pada pasokan gas alam membuat biaya produksi pupuk melonjak drastis, yang secara otomatis menaikkan harga pangan di tingkat petani.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam hal ini, kaitan antara energi dan pangan menjadi sangat nyata. Tanpa pupuk yang terjangkau, produktivitas lahan di negara berkembang menurun tajam. Oleh sebab itu, krisis di satu wilayah geografis segera bermutasi menjadi krisis kelaparan massal di wilayah lain, terutama di Afrika dan sebagian Asia. Pangan kini secara efektif telah dipersenjatai dalam kompetisi kekuatan besar dunia.

Baca Juga :  Bumi Mendidih: 2025 Tahun Terpanas Ketiga

Proteksionisme Defensif: Kebangkitan Nasionalisme Pangan

Menghadapi ketidakpastian pasar, banyak pemerintah mengambil langkah drastis dengan menutup keran ekspor mereka. India, misalnya, memperpanjang larangan ekspor beras, sementara negara-negara di Asia Tenggara membatasi penjualan minyak sawit ke luar negeri. Kebijakan ini dikenal sebagai proteksionisme defensif atau nasionalisme pangan.

Meskipun langkah ini bertujuan untuk menjaga stabilitas harga di dalam negeri, dampaknya bagi dunia sangatlah destruktif. Akibatnya, negara-negara importir pangan bersih menghadapi lonjakan inflasi yang tidak terkendali. Secara simultan, tindakan sepihak ini memicu “panic buying” di tingkat negara yang semakin melambungkan harga komoditas di bursa berjangka. Dengan demikian, egoisme nasional di bidang pangan justru mempercepat keruntuhan sistem ketahanan pangan global secara kolektif.

Dominasi Agribisnis: Siapa yang Mengendalikan Distribusi?

Dinamika ekonomi politik tahun 2026 juga mengungkap peran besar korporasi agribisnis multinasional. Kelompok perusahaan raksasa—yang sering dijuluki “ABCD”—memegang kendali atas hampir 80 persen perdagangan biji-bijian dunia. Dalam hal ini, kekuatan mereka dalam menentukan harga sering kali melampaui otoritas negara.

Baca Juga :  BMKG Minta Warga Jabodetabek Siaga Hujan Lebat dan Petir 29–31 Oktober 2025

Terlebih lagi, korporasi-korporasi ini cenderung memprioritaskan keuntungan pemegang saham daripada keadilan distribusi. Saat harga melonjak, mereka mampu menyimpan stok di gudang-gudang raksasa sembari menunggu harga puncak. Sebagai hasilnya, terjadi paradox di mana perusahaan mencatat rekor laba tertinggi, sementara jumlah penduduk yang menderita gizi buruk terus meningkat. Struktur monopoli ini membuktikan bahwa rezim pangan saat ini lebih berpihak pada akumulasi modal daripada pada hak asasi manusia atas pangan.

Masa depan perdamaian dunia bergantung pada kemampuan kita untuk membangun sistem pangan yang lebih terlokalisasi dan tangguh. Pada akhirnya, ketergantungan pada pasar komoditas global yang volatil adalah bentuk kerentanan kedaulatan.

Oleh karena itu, negara-negara harus segera mendiversifikasi sumber pangan mereka dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia impor. Keadilan ekonomi hanya bisa tercapai jika perut rakyat tidak lagi menjadi objek spekulasi di bursa saham internasional. Jika dunia gagal merombak rezim pangan ini di tahun 2026, maka kerusuhan sosial akibat lapar akan menjadi ancaman keamanan global yang jauh lebih mematikan daripada peluru atau rudal.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pentagon Tuduh Jenderal Brett Sylvia Bocorkan Rahasia Negara
Hakim Federal Tolak Permintaan Pemerintahan Trump Soal Suara
Menhan AS Pete Hegseth Pecat Perencana Militer Utama
Biaya Perang Iran Melonjak Hingga 47,1 Miliar Dolar AS
Tabrakan Kereta Cepat di Toledo Spanyol Menewaskan 68 Orang
Jepang dan Jerman Sepakat Perkuat Kerja Sama Mineral Kritis
Perayaan Meriah Festival Sembilan Dewa Kaisar
Fenomena Fesyen Gothic Lolita Jepang Kembali Memikat Hati

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 09:44 WIB

Pentagon Tuduh Jenderal Brett Sylvia Bocorkan Rahasia Negara

Jumat, 30 Oktober 2026 - 12:42 WIB

Hakim Federal Tolak Permintaan Pemerintahan Trump Soal Suara

Jumat, 30 Oktober 2026 - 11:39 WIB

Menhan AS Pete Hegseth Pecat Perencana Militer Utama

Jumat, 30 Oktober 2026 - 09:42 WIB

Biaya Perang Iran Melonjak Hingga 47,1 Miliar Dolar AS

Jumat, 30 Oktober 2026 - 08:40 WIB

Tabrakan Kereta Cepat di Toledo Spanyol Menewaskan 68 Orang

Berita Terbaru

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
(Posnews/Kominfo)

JABODETABEK

Pramono Datangi 44 Kecamatan, Tak Mau Hanya Terima Laporan

Senin, 2 Nov 2026 - 19:12 WIB