WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Presiden Donald Trump akan bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada pertengahan Mei mendatang. Langkah ini menandai kunjungan pertama seorang Presiden AS ke Beijing sejak tahun 2017.
Dalam konteks ini, Trump mengumumkan jadwal perjalanan tersebut melalui unggahan di platform Truth Social pada hari Rabu. Kunjungan dua hari tersebut merupakan bagian dari upaya intensif Washington untuk memproyeksikan stabilitas kepemimpinan di tengah berkecamuknya konflik militer di Timur Tengah.
Penundaan Akibat Perang dan Tekanan Domestik
Awalnya, Trump merencanakan kunjungan tersebut pada pekan depan. Namun, eskalasi perang Iran memaksa jadwal tersebut bergeser guna memastikan kehadiran presiden di pusat komando operasi militer. “Presiden Xi memahami bahwa sangat penting bagi saya untuk berada di sini selama operasi tempur berlangsung,” ujar Trump dalam pernyataannya.
Selain itu, posisi tawar Trump dalam negosiasi kali ini menghadapi tantangan domestik yang signifikan. Pada Februari lalu, Mahkamah Agung Amerika Serikat membatasi wewenang presiden untuk menetapkan tarif secara sepihak. Akibatnya, Trump kehilangan salah satu instrumen tekanan utama yang biasanya ia gunakan dalam perundingan dengan mitra dagang terbesar ketiga AS tersebut.
Agenda Energi: Tekanan di Selat Hormuz
Salah satu topik utama yang akan mendominasi pertemuan di Beijing adalah keamanan energi global. Tiongkok tercatat mengimpor sekitar 12 juta barel minyak per hari pada awal tahun 2026, menjadikannya importir minyak terbesar di dunia. Oleh karena itu, Trump sangat berkepentingan untuk mengajak Tiongkok terlibat dalam pembukaan kembali Selat Hormuz.
Meskipun demikian, Beijing sejauh ini masih menahan diri untuk memberikan respon langsung terhadap permintaan bantuan militer AS di jalur tersebut. Sebagai pembeli utama minyak Iran, Tiongkok berada dalam posisi dilematis antara menjaga pasokan energinya dengan tekanan diplomatik dari Washington. Keberhasilan Trump meyakinkan Xi Jinping akan menjadi kunci untuk menstabilkan harga minyak dunia yang terus bergejolak.
Tensi Taiwan dan Sektor Kerja Sama Inovatif
Di luar isu perang, ketegangan di Selat Taiwan diprediksi akan menjadi bahan perdebatan yang alot. Pemerintahan Trump pada periode kedua ini telah secara dramatis meningkatkan penjualan senjata ke Taiwan. Sebaliknya, Beijing menganggap langkah tersebut sebagai provokasi langsung terhadap kedaulatan wilayahnya. Para analis memperkirakan kecil kemungkinan terjadinya kemajuan signifikan dalam isu keamanan ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, harapan tetap ada di sektor komersial. Kedua belah pihak kemungkinan besar akan menyepakati perjanjian perdagangan di bidang agrikultur dan suku cadang pesawat terbang sebagai bentuk niat baik (goodwill). “Kami memfinalisasi persiapan untuk kunjungan bersejarah ini, yang saya yakin akan menjadi acara yang monumental,” tegas Trump.
Proyeksi Akhir Perang
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, memberikan sinyal bahwa pemerintah memperkirakan konflik di Timur Tengah akan mereda dalam kurun waktu empat hingga enam pekan ke depan. Proyeksi ini sejalan dengan jadwal kunjungan ke Beijing yang diharapkan berlangsung saat situasi keamanan sudah lebih terkendali. Pada akhirnya, hasil dari KTT Beijing ini akan menentukan apakah dua kekuatan ekonomi terbesar dunia tersebut mampu bekerja sama sebagai jangkar stabilitas global atau justru semakin terperosok dalam persaingan pengaruh di abad ke-21.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















