PARIS, POSNEWS.CO.ID – Dunia pada abad ke-19 sedang mengalami guncangan hebat. Penemuan mesin uap dan pabrik-pabrik besar mengubah lanskap ekonomi secara mendadak. Namun, kemajuan fisik tersebut tidak berbanding lurus dengan stabilitas sosial. Di tengah kekacauan inilah, Auguste Comte muncul dengan gagasan radikal: masyarakat harus kita pelajari layaknya ilmuwan mempelajari alam.
Langkah ini menandai lahirnya Positivisme. Oleh karena itu, memahami Comte berarti memahami akar dari cara kita mengambil keputusan berbasis data di era digital tahun 2026.
Latar Belakang: Revolusi Industri dan Krisis Sosial
Revolusi Industri membawa kemakmuran sekaligus kesengsaraan massal. Urbanisasi besar-besaran menciptakan pemukiman kumuh, kemiskinan, dan konflik kelas yang tajam. Dalam konteks ini, dogma agama dan renungan filsafat abstrak tidak lagi mampu memberikan solusi praktis bagi masalah sosial yang kian kompleks.
Comte melihat adanya kekosongan otoritas intelektual. Masyarakat kehilangan jangkar moral lama namun belum menemukan panduan baru. Sebagai hasilnya, ia merumuskan bahwa dunia membutuhkan “fisika sosial” atau sosiologi. Ia meyakini bahwa hanya melalui metode ilmiah—observasi, eksperimen, dan perbandingan—manusia dapat membangun kembali tatanan dunia yang retak.
Slogan “Order and Progress”: Keteraturan dan Kemajuan
Pilar utama pemikiran Comte tertuang dalam slogan legendaris: L’amour pour principe et l’ordre pour base; le progrès pour but (Cinta sebagai prinsip, keteraturan sebagai dasar, kemajuan sebagai tujuan). Bahkan, slogan ini kini abadi pada bendera negara Brasil sebagai “Ordem e Progresso”.
Secara khusus, Comte berpendapat bahwa kemajuan (progress) tanpa keteraturan (order) hanya akan menghasilkan anarki. Sebaliknya, keteraturan tanpa kemajuan akan menyebabkan stagnasi atau ketertinggalan. Oleh sebab itu, filsafat Positivisme berupaya menyatukan keduanya. Di tahun 2026, prinsip ini relevan dalam pembangunan kota cerdas (smart cities), di mana teknologi (kemajuan) harus tetap menjaga kohesi sosial (keteraturan).
Filsafat sebagai Basis Ilmu Pengetahuan Praktis
Comte memperkenalkan “Hukum Tiga Tahap” untuk menjelaskan evolusi pemikiran manusia:
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
- Tahap Teologis: Manusia menjelaskan fenomena melalui kehendak dewa atau kekuatan gaib.
- Tahap Metafisis: Manusia menggunakan konsep abstrak seperti “hak alamiah” untuk memahami dunia.
- Tahap Positif: Manusia hanya fokus pada fakta yang dapat kita amati dan hubungan hukum antar-fenomena.
Terlebih lagi, ia menegaskan bahwa filsafat tidak boleh lagi menjadi sekadar latihan mental yang sia-sia. Filsafat harus berfungsi sebagai basis bagi ilmu pengetahuan praktis. Dalam hal ini, para pemimpin harus membuat kebijakan berdasarkan data statistik dan bukti empiris, bukan berdasarkan intuisi atau tradisi semata. Dengan demikian, Positivisme mengubah peran intelektual dari sekadar pengamat menjadi arsitek sosial yang aktif.
Warisan Data dalam Diplomasi Modern
Masa depan tatanan dunia bergantung pada seberapa jujur kita dalam mengolah data. Pada akhirnya, Auguste Comte mengajarkan bahwa perdamaian dan kemajuan hanya mungkin tercapai jika kita berani melepaskan prasangka dogma demi kebenaran ilmiah.
Dengan demikian, dunia memerlukan lebih banyak pendekatan positivistik dalam menangani isu global seperti perubahan iklim atau ekonomi siber di tahun 2026. Jika kita gagal mengandalkan data, maka kita akan kembali terjebak dalam kegelapan dogma yang memicu perpecahan. Comte mengingatkan kita bahwa ilmu pengetahuan adalah satu-satunya alat yang paling andal untuk menavigasi badai sejarah manusia.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















