Kiamat Energi Teluk: Serangan Lapangan Gas Pars dan Rudal Iran ke Qatar-Saudi

Kamis, 19 Maret 2026 - 17:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Diplomasi menemui jalan buntu. Presiden Donald Trump menolak tawaran perdamaian terbaru dari Teheran karena isu nuklir tetap belum terselesaikan, memicu volatilitas pasar minyak global di tengah blokade Selat Hormuz yang kian mencekik. Dok: Istimewa.

Diplomasi menemui jalan buntu. Presiden Donald Trump menolak tawaran perdamaian terbaru dari Teheran karena isu nuklir tetap belum terselesaikan, memicu volatilitas pasar minyak global di tengah blokade Selat Hormuz yang kian mencekik. Dok: Istimewa.

DOHA, POSNEWS.CO.ID – Perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran mencapai eskalasi paling berbahaya dengan penghancuran fasilitas gas terbesar di dunia pada hari Rabu. Serangan terhadap Lapangan Gas Pars memicu serangan balasan Iran ke fasilitas energi di Qatar dan Arab Saudi.

Lapangan Pars merupakan bagian dari deposit gas alam terbesar di dunia yang terletak di perairan Teluk. Media Israel melaporkan bahwa militer Israel melakukan serangan tersebut dengan persetujuan Amerika Serikat. Akibatnya, kebakaran hebat melanda tangki gas dan bagian kilang di sektor Iran.

Qatar dan Arab Saudi dalam Pusaran Api

Iran merespons serangan tersebut dengan menghujani fasilitas energi tetangganya. QatarEnergy melaporkan “kerusakan luas” di Kota Industri Ras Laffan, pusat industri energi vital Qatar, setelah terkena rudal Iran. Pemerintah Qatar menyebut serangan tersebut sebagai tindakan “berbahaya dan tidak bertanggung jawab” yang mengancam keamanan energi global.

Di saat yang sama, Arab Saudi mengonfirmasi telah mencegat empat rudal balistik yang meluncur ke arah Riyadh. Pasukan pertahanan Saudi juga menggagalkan upaya serangan drone terhadap fasilitas gas di wilayah timur negara itu. Iran secara resmi merilis daftar target “langsung dan sah” berikutnya, termasuk kilang Samref di Saudi dan Lapangan Gas Al Hosn di UEA.

Tekanan Politik dan Lonjakan Harga Bahan Bakar

Eskalasi ini memicu guncangan hebat di pasar energi dunia. Harga minyak mentah Brent melonjak 5 persen ke level di atas $108 per barel. Di Amerika Serikat, harga solar merangkak naik di atas $5 per galon untuk pertama kalinya sejak krisis inflasi 2022.

Situasi ini meningkatkan risiko politik bagi Presiden Donald Trump. Wakil Presiden JD Vance menyatakan bahwa pemerintah akan segera mengumumkan langkah-langkah darurat dalam 48 jam ke depan untuk menangani lonjakan harga gas. Namun, kepala intelijen AS Tulsi Gabbard memperingatkan Kongres bahwa Iran dan proksinya masih sangat mampu menyerang kepentingan AS meskipun kekuatan mereka telah terdegradasi.

Baca Juga :  Trump Luluh: Hongaria Dapat Pengecualian Sanksi Minyak Rusia Selama Setahun

Pembunuhan Elit Intelijen dan “Gaza-isasi” Beirut

Di medan tempur lain, Israel terus melakukan kampanye pembunuhan terhadap pejabat tinggi Iran. Menteri Intelijen Iran, Esmail Khatib, tewas dalam serangan Israel pada hari Rabu. Kematian ini menyusul tewasnya kepala keamanan Ali Larijani sehari sebelumnya. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa tidak ada seorang pun di Iran yang memiliki imunitas.

Serangan udara Israel juga meratakan gedung-gedung apartemen di distrik Bachoura, pusat kota Beirut. Militer Israel mengklaim gedung tersebut merupakan basis operasional Hezbollah. Warga setempat menggambarkan serangan tersebut sebagai upaya untuk meneror warga sipil dan anak-anak. Hingga kini, lebih dari 3.000 orang tewas di Iran dan 800.000 warga Lebanon terpaksa mengungsi dari rumah mereka.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Selebriti Lawan Deepfake AI dengan Hukum Trademark
Dendam Lama Meledak di Panggung Nikahan, Lansia Tanjung Priok Ditangkap
AS Wajibkan Pelamar Green Card Ajukan Aplikasi dari Negara Asal
Ledakan Gas Tewaskan 90 Pekerja, Bencana Terburuk dalam 17 Tahun
Ini Tampang Kecot Rampok Wanita Bogor, Mobil Dijual Murah buat Judol dan Foya-foya
Lebih 202 Ribu Jemaah Indonesia Siap Jalani Puncak Haji Armuzna
Marinir AS Uji HIMARS untuk Tangkal Agresi China
Sopir Diduga Mengantuk, Innova Rombongan DPR RI Hantam Dump Truk

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:57 WIB

Selebriti Lawan Deepfake AI dengan Hukum Trademark

Minggu, 24 Mei 2026 - 09:57 WIB

Dendam Lama Meledak di Panggung Nikahan, Lansia Tanjung Priok Ditangkap

Minggu, 24 Mei 2026 - 08:36 WIB

AS Wajibkan Pelamar Green Card Ajukan Aplikasi dari Negara Asal

Minggu, 24 Mei 2026 - 07:33 WIB

Ledakan Gas Tewaskan 90 Pekerja, Bencana Terburuk dalam 17 Tahun

Minggu, 24 Mei 2026 - 06:55 WIB

Ini Tampang Kecot Rampok Wanita Bogor, Mobil Dijual Murah buat Judol dan Foya-foya

Berita Terbaru

Taylor Swift hingga Matthew McConaughey kini menggunakan hukum merek dagang untuk melindungi wajah dan suara mereka dari kloning kecerdasan buatan. Dok: Istimewa.

ENTERTAINMENT

Selebriti Lawan Deepfake AI dengan Hukum Trademark

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:57 WIB

Pemerintahan Donald Trump mewajibkan warga asing yang mencari izin tinggal tetap (green card) untuk meninggalkan Amerika Serikat dan mengajukan aplikasi dari negara asal mereka. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

AS Wajibkan Pelamar Green Card Ajukan Aplikasi dari Negara Asal

Minggu, 24 Mei 2026 - 08:36 WIB

Tragedi di kedalaman bumi. Ledakan gas dahsyat di tambang batu bara Liushenyu, China, merenggut setidaknya 90 nyawa, memicu seruan Presiden Xi Jinping untuk memperketat standar keselamatan kerja nasional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Ledakan Gas Tewaskan 90 Pekerja, Bencana Terburuk dalam 17 Tahun

Minggu, 24 Mei 2026 - 07:33 WIB