WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Fondasi keamanan Eropa yang telah bertahan sejak Perang Dunia II kini berada dalam ancaman serius. Presiden Donald Trump mulai mempertimbangkan penarikan personel militer Amerika Serikat dari pangkalan-pangkalan di Eropa pada hari Kamis.
Dalam konteks ini, seorang pejabat senior Gedung Putih mengungkapkan bahwa Trump merasa sangat kecewa dengan perilaku para sekutu NATO. Oleh karena itu, Washington kini mulai mengevaluasi ulang skala kehadiran militernya di benua tersebut sebagai bentuk tekanan politik di tahun 2026.
Sengketa Selat Hormuz dan Kekecewaan Washington
Ketegangan utama bermula dari lumpuhnya jalur energi di Selat Hormuz sejak pecahnya perang dengan Iran pada 28 Februari lalu. Trump berulang kali mendesak sekutu Eropa untuk mengirimkan bantuan militer guna membuka kembali jalur navigasi internasional tersebut.
Namun, banyak negara Eropa enggan terlibat dalam operasi militer langsung di kawasan Teluk. Akibatnya, Trump memandang hal ini sebagai kegagalan komitmen pertahanan bersama. Meskipun Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengeklaim mayoritas anggota telah membantu, Washington menilai kontribusi tersebut masih jauh dari harapan yang mereka tetapkan.
Hambatan Akuisisi Greenland: Pemicu Amarah Trump
Selain masalah energi, isu kedaulatan wilayah Greenland kembali memperkeruh suasana. Trump merasa kesal karena rencana akuisisi wilayah otonom Denmark tersebut tidak menunjukkan kemajuan berarti sejak awal tahun ini.
Dalam hal ini, pejabat AS menyebut bahwa Trump merasa sekutu-sekutu di Eropa tidak menanggapi usulan akuisisi tersebut secara serius. Oleh sebab itu, ia menggunakan isu penarikan pasukan sebagai kartu truf guna memaksa Kopenhagen dan Brussel untuk lebih kooperatif dalam negosiasi wilayah strategis tersebut.
Statistik Kehadiran Militer: 80.000 Personel dalam Ketidakpastian
Saat ini, Amerika Serikat menempatkan lebih dari 80.000 prajurit di berbagai pangkalan strategis di seluruh Eropa. Secara khusus, Jerman menampung sekitar 30.000 personel, sementara jumlah besar lainnya tersebar di Italia, Inggris, dan Spanyol.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Langkah penarikan pasukan ini dipandang sebagai cara Trump untuk mengurangi beban finansial pertahanan AS tanpa harus keluar dari aliansi NATO secara formal. Meskipun demikian, para pakar hukum konstitusi memperingatkan bahwa kebijakan tersebut akan mengguncang arsitektur keamanan global secara permanen. Pengurangan pasukan secara sepihak akan meninggalkan celah pertahanan yang besar di tengah meningkatnya ketegangan dengan Rusia di timur.
Menanti Kepastian dari Pentagon
Hingga saat ini, Gedung Putih belum memberikan arahan konkret kepada Pentagon untuk menyusun rencana penarikan tersebut. Pada akhirnya, nasib aliansi transatlantik bergantung pada hasil negosiasi di Islamabad dan Brussels dalam beberapa hari ke depan.
Dengan demikian, masyarakat internasional memantau apakah ancaman Trump ini murni taktik gertakan atau merupakan awal dari isolasionisme militer Amerika di Eropa. Di tahun 2026 yang penuh gejolak, keretakan internal NATO menjadi variabel paling berbahaya yang dapat memicu ketidakpastian keamanan dunia dalam jangka panjang.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















