Google Bongkar Operasi Peretasan Zero-Day Berbasis AI

Selasa, 12 Mei 2026 - 08:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Era baru ancaman digital. Google menggagalkan serangan kelompok kriminal yang menggunakan kecerdasan buatan untuk mengeksploitasi celah keamanan

Era baru ancaman digital. Google menggagalkan serangan kelompok kriminal yang menggunakan kecerdasan buatan untuk mengeksploitasi celah keamanan "zero-day". Dok: Istimewa.

MOUNTAIN VIEW, POSNEWS.CO.ID – Industri teknologi global kini menghadapi kenyataan pahit yang telah lama para ahli peringatkan. Google melaporkan bahwa sebuah kelompok kriminal terorganisir mencoba menggunakan kecerdasan buatan guna mengeksploitasi kerentanan digital yang sebelumnya tidak diketahui (zero-day).

John Hultquist, kepala analis intelijen ancaman di Google, menegaskan bahwa penemuan ini membuktikan era eksploitasi berbasis AI telah tiba. “Ini bukan lagi prediksi masa depan. Para peretas kini mempersenjatai diri dengan AI untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam membobol komputer di seluruh dunia,” ujar Hultquist.

Mekanisme Serangan: Melampaui Otentikasi Dua Faktor

Google mengungkapkan bahwa para peretas merancang operasi besar dengan mengandalkan bug yang mereka temukan melalui bantuan model bahasa besar (LLM). Kerentanan tersebut memungkinkan penyerang melewati sistem otentikasi dua faktor (2FA) guna mengakses alat administrasi sistem daring yang sangat sensitif.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Meskipun demikian, Google segera memberi tahu perusahaan terdampak serta aparat penegak hukum sebelum kerusakan terjadi. Penyelidikan jejak digital menunjukkan bahwa para peretas tidak menggunakan model internal milik Google (Gemini) atau model Mythos dari Anthropic. Google tidak menemukan bukti keterlibatan pemerintah asing, meskipun perusahaan mencatat bahwa kelompok dari China dan Korea Utara sedang mengeksplorasi teknik serupa di tahun 2026 ini.

Baca Juga :  Lelah Memilih: Anatomi Decision Fatigue

Dilema Regulasi di Washington: Sinyal Campuran Trump

Ancaman keamanan ini memaksa Gedung Putih di bawah kepemimpinan Donald Trump untuk mengevaluasi kembali pendekatan mereka. Awalnya, administrasi Republik berkomitmen mencabut batasan teknologi yang Joe Biden terapkan sebelumnya. Namun, realitas serangan siber berbasis AI mulai mengubah dinamika politik di Washington.

Dean Ball, mantan penasihat kebijakan teknologi Gedung Putih, mengakui adanya perpecahan pendapat terkait perlunya respons regulasi. “Saya secara pribadi tidak menyukai regulasi. Namun, dalam kasus ini, kita membutuhkannya,” tegas Ball. Pemerintah kini mulai menjajaki kerja sama dengan Google, Microsoft, dan xAI milik Elon Musk guna mengevaluasi model AI yang paling kuat sebelum rilis publik, meskipun situs resmi Departemen Perdagangan menghapus pengumuman mengenai kesepakatan ini pekan lalu.

Persaingan “Defenders” vs “Attackers” di Industri AI

Dua raksasa AI, Anthropic dan OpenAI, kini mengambil langkah berbeda dalam menyikapi risiko keamanan siber:

  1. Anthropic (Project Glasswing): Meluncurkan model Mythos yang sangat mahir dalam peretasan. Perusahaan membatasi rilisnya hanya untuk kelompok organisasi terpercaya guna mencegah jatuhnya teknologi ini ke tangan yang salah. Melalui inisiatif Project Glasswing, mereka bekerja sama dengan Amazon, Apple, hingga JPMorgan Chase guna mengamankan perangkat lunak kritis dunia.
  2. OpenAI (ChatGPT Cybersecurity): Merilis versi khusus ChatGPT untuk keamanan siber pada hari Jumat lalu. Alat ini tersedia secara eksklusif bagi para “pembela” infrastruktur kritis guna membantu mereka menemukan dan menambal celah dalam kode mereka sendiri.
Baca Juga :  Tim Cook di Antara Retorika dan Realitas Geopolitik

Menghadapi “Masa Transisi” yang Berbahaya

Para ahli memprediksi AI akan membuat sistem lebih aman dalam jangka panjang melalui otomatisasi penambalan kode, namun tantangan jangka pendek tetap sangat masif. Triliunan baris kode perangkat lunak saat ini mendukung sistem komputasi dunia dan semuanya berisiko jika peretas melepaskan alat AI untuk mengeksploitasi bug secara massal.

Singkatnya, kecepatan AI memberikan keuntungan besar bagi peretas dibandingkan mata-mata pemerintah yang bekerja perlahan. Masyarakat internasional kini berada dalam perlombaan senjata digital. Keberhasilan dalam melewati “masa transisi” ini akan sangat bergantung pada koordinasi antara sektor swasta dan pemerintah guna memperkuat pertahanan siber sebelum para kriminal berhasil melancarkan serangan pemerasan atau ransomware skala besar di tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hong Kong Vonis Bersalah 2 Pemimpin Peringatan Tiananmen
Kanada Lolos dari Tarif 50 Persen Usai Kesepakatan Dagang
Uni Emirat Arab Putus Perdagangan dengan Iran
Ukraina Angkat Yevhenii Khmara Sebagai Menhan Baru
Presiden AS Donald Trump Pamer Pembangunan Helipad
Donald Trump Jadwalkan Pertemuan dengan Kim Jong Un
PM Israel Benjamin Netanyahu Targetkan Turki di Suriah
Andy Burnham Luncurkan Program Penanganan Tunawisma

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 16:59 WIB

Hong Kong Vonis Bersalah 2 Pemimpin Peringatan Tiananmen

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 06:35 WIB

Kanada Lolos dari Tarif 50 Persen Usai Kesepakatan Dagang

Jumat, 21 Agustus 2026 - 15:15 WIB

Uni Emirat Arab Putus Perdagangan dengan Iran

Jumat, 21 Agustus 2026 - 14:06 WIB

Ukraina Angkat Yevhenii Khmara Sebagai Menhan Baru

Jumat, 21 Agustus 2026 - 13:53 WIB

Presiden AS Donald Trump Pamer Pembangunan Helipad

Berita Terbaru

Kebakaran melanda rumah tradisional di Kampung Adat Sade Lombok Tengah. (Posnews/Ist)

DAERAH

Kobaran Api Hantam Sade, Warisan Budaya Sasak dalam Ancaman

Minggu, 23 Agu 2026 - 07:32 WIB

Ilustrasi, panas terik. (Posnews/Net)

JABODETABEK

Minggu Cerah di Jabodetabek, BMKG Ingatkan Warga Hadapi Panas

Minggu, 23 Agu 2026 - 07:12 WIB