Relawan Ebola Hadapi Ancaman Virus dan Kemarahan Warga

Selasa, 26 Mei 2026 - 17:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ketegangan di zona wabah. Vanny Birungi dan para relawan kemanusiaan di Kongo Timur berjuang melawan penyebaran virus Ebola di tengah ketidakpercayaan penduduk lokal dan ancaman kelompok bersenjata. Dok: (AP Photo/Moses Sawasawa)

Ketegangan di zona wabah. Vanny Birungi dan para relawan kemanusiaan di Kongo Timur berjuang melawan penyebaran virus Ebola di tengah ketidakpercayaan penduduk lokal dan ancaman kelompok bersenjata. Dok: (AP Photo/Moses Sawasawa)

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Vanny Birungi, seorang relawan Palang Merah di Kongo Timur, menghadapi ancaman ganda setiap hari. Ia bertugas meningkatkan kesadaran warga mengenai wabah Ebola yang kini mendekati angka 1.000 kasus suspek.

Selain ancaman virus jenis Bundibugyo yang belum memiliki vaksin, Birungi kerap menghadapi kemarahan warga. Sejumlah penduduk di Bunia bahkan sering melempari tim relawan dengan batu. Oleh karena itu, tugas kemanusiaan ini menjadi sangat berisiko bagi keselamatan mereka.

Ketidakpercayaan Warga dan Mitos Penyakit

“Kami terus memberi tahu warga mengenai keberadaan penyakit ini. Sebagian menerima, namun sebagian lainnya menolak,” ungkap Birungi saat berbicara dengan warga di lingkungan kelas pekerja di bawah terik matahari.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Banyak penduduk lokal menyimpan rasa curiga yang mendalam terhadap pihak luar. Pierre Basola (56), seorang warga Bunia, secara terbuka mengekspresikan kemarahannya. “Orang-orang ini harus berhenti mengganggu kami. Mereka hanya ingin kaya. Jangan lupa, Ebola adalah penemuan orang kulit putih,” tegas Basola.

Baca Juga :  Penyekapan Anak di Bandung Digagalkan, Pelaku Diduga Ancam Bakar Rumah

Serangan Terhadap Fasilitas Medis

Kemarahan warga berujung pada aksi kekerasan terhadap fasilitas kesehatan dalam sepekan terakhir. Pada hari Minggu, massa menyerbu sebuah rumah sakit yang merawat pasien Ebola. Gunfire terdengar saat staf medis berupaya mengevakuasi para pasien.

Sebelumnya, sekelompok warga membakar tenda perawatan pasien suspek Ebola milik Doctors Without Borders di Mongbwalu pada hari Sabtu. Lebih dari selusin orang yang diduga terinfeksi virus pun melarikan diri dari lokasi tersebut. Oleh karena itu, ketegangan ini menciptakan hambatan besar bagi tim medis dalam memutus rantai penularan.

Mekanisme Penularan dan Tantangan Konflik

Virus Ebola menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh pasien yang sakit atau meninggal, seperti keringat, darah, atau muntah. Pekerja medis dan keluarga yang merawat pasien menghadapi risiko infeksi tertinggi.

Selain ancaman virus, konflik bersenjata di wilayah tersebut mempersulit upaya penanganan. Kelompok bersenjata menguasai banyak wilayah di Provinsi Ituri. Tim bantuan harus mengambil risiko tinggi untuk menempuh perjalanan lebih dari 1.000 kilometer dari ibu kota Kinshasa ke wilayah yang sedang bergejolak.

Baca Juga :  PP Muhammadiyah Tegas, Pelaporan Pandji Bukan Sikap Resmi Aliansi Muda

Data Wabah dan Peringatan WHO

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan pada hari Senin bahwa wabah telah menyebabkan lebih dari 900 kasus suspek dan 220 kematian. Namun demikian, pakar kesehatan memperkirakan angka sebenarnya jauh lebih tinggi. “Kita kini sedang mengejar epidemi yang bergerak sangat cepat,” ujar Tedros.

Institut analisis penyakit menular berbasis di London, MRC Centre, memprediksi jumlah kasus sebenarnya sudah melampaui 1.000 orang. Maka dari itu, ketidakpastian besarnya wabah ini menjadi tantangan serius bagi otoritas kesehatan setempat.

Kebutuhan Mendesak akan Kepercayaan

Tingkat skeptisisme warga yang tinggi mempersulit respon kesehatan. Action Aid, salah satu kelompok kemanusiaan di lokasi, melaporkan rendahnya pemahaman warga terhadap risiko virus.

Singkatnya, keberhasilan penanganan wabah ini bergantung pada pendekatan berbasis komunitas. Tanpa keterlibatan warga secara aktif, bantuan medis tidak akan menjangkau mereka yang paling membutuhkan. Di tahun 2026 yang penuh gejolak ini, koordinasi internasional yang cepat menjadi satu-satunya cara untuk membendung laju epidemi yang bergerak makin masif.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Peluncuran Konsol Retro NEOGEO AES+ Ditunda
Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya
Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa
Shinjuku Larang Separuh Sewa Liburan, Termasuk Properti
Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir
PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji
Sony Perkenalkan DualSense GTA 6 Limited Edition
AS Serang Tiga Kapal Tanker Minyak Iran usai Rudal IRGC

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 08:03 WIB

Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya

Rabu, 9 September 2026 - 07:00 WIB

Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa

Rabu, 9 September 2026 - 06:00 WIB

Shinjuku Larang Separuh Sewa Liburan, Termasuk Properti

Minggu, 6 September 2026 - 18:27 WIB

Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir

Minggu, 6 September 2026 - 17:25 WIB

PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji

Berita Terbaru

 Xbox resmi menerbitkan game action espionage PHYSINT karya Hideo Kojima setelah PlayStation membatalkan kerja sama. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Xbox Resmi Ambil Alih Penerbitan Game PHYSINT

Minggu, 13 Sep 2026 - 15:43 WIB

 Kelangkaan komponen optical drive mengancam ketersediaan disc drive eksternal pada konsol masa depan Sony dan Microsoft. Simak dampak krisis pasokan media fisik ini. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Kelangkaan Komponen Optical Drive Ancam Masa Depan

Minggu, 13 Sep 2026 - 14:30 WIB