REDMOND, POSNEWS.CO.ID – Krisis besar terus melanda divisi game raksasa teknologi Microsoft, Xbox.
Para pengembang game kawakan mulai membocorkan pemicu utama gelombang pemangkasan karyawan tersebut.
Kegagalan layanan Xbox Game Pass meraih target pelanggan menjadi pemicu utamanya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Layanan berlangganan ini gagal menghasilkan pendapatan guna menutupi investasi raksasa perusahaan.
Kegagalan Target Pelanggan Game Pass
Mantan Direktur Kreatif Forza Horizon 5, Mike Brown, membagikan pandangannya minggu ini.
Brown kini memimpin studio independen bernama Maverick Games.
Ia menilai Microsoft telah mengucurkan dana sangat besar untuk mengembangkan Game Pass.
Perusahaan membeli banyak studio game demi memperkaya konten layanan tersebut.
Namun, jumlah pelanggan tidak pernah mencapai angka harapan perusahaan.
Alhasil, Microsoft tidak mampu menutup biaya akuisisi raksasa Activision Blizzard.
Akuisisi produsen Call of Duty tersebut menelan biaya hingga 69 miliar dolar AS.
Pengakuan Resmi CEO Xbox Asha Sharma
Pernyataan Brown memperkuat pengakuan CEO Xbox Asha Sharma sebelumnya.
Sharma mengambil keputusan ekstrem untuk merestrukturisasi total bisnis Xbox.
Ia memangkas 1.600 pekerja pada gelombang pertama.
Sharma juga bersiap merumahkan 1.600 karyawan tambahan tahun ini.
Selain itu, Microsoft melepas kepemilikan atas empat studio game.
Sharma menegaskan bahwa kondisi finansial bisnis Xbox saat ini tidak sehat.
Margin keuntungan Xbox berada jauh di bawah para pesaing utamanya.
Meleset Jauh dari Target 77 Juta Pelanggan
Laporan Wall Street Journal membeberkan jurang perbedaan target pelanggan tersebut.
Microsoft menargetkan 77 juta pelanggan Game Pass pada tahun ini.
Namun, layanan ini hanya mengantongi sekitar 30 juta pelanggan aktif saat ini.
Padahal, perusahaan membidik angka 100 juta pelanggan pada tahun 2030.
Pertumbuhan yang sangat lambat ini memaksa Sharma mengubah arah kebijakan.
Ia memangkas harga langganan dan menarik rilis perdana Call of Duty dari layanan.
Langkah taktis ini perlahan mengembalikan pertumbuhan jumlah pengguna layanan.
Perubahan Strategi dan Masa Depan Layanan
Kini, masa depan layanan Game Pass menghadapi ketidakpastian baru.
Publik mempertanyakan skema rilis game raksasa masa depan seperti The Elder Scrolls 6.
Microsoft berpeluang mengadopsi model bisnis PlayStation Plus milik Sony.
Model tersebut tidak menghadirkan game baru pada hari pertama peluncuran.
Meskipun demikian, Microsoft tetap memfokuskan sumber daya pada waralaba utama.
Perusahaan mempercepat pengembangan proyek game baru dari seri populer Fallout.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia













